Universitas Airlangga Official Website

Computer Vision Syndrome di Kalangan Mahasiswa: Tantangan Kesehatan Mata di Era Pembelajaran Digital

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Transformasi digital telah mengubah cara mahasiswa belajar secara fundamental. Laptop, tablet, dan smartphone kini menjadi perangkat utama dalam mengakses materi kuliah, berkomunikasi dengan dosen, hingga menyelesaikan tugas akademik. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi digital, muncul persoalan kesehatan yang semakin sering dialami oleh mahasiswa, yaitu Computer Vision Syndrome (CVS) atau sindrom kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital.

Computer Vision Syndrome merupakan kumpulan gangguan pada mata dan penglihatan yang muncul akibat aktivitas menatap layar dalam waktu lama. Kondisi ini sering disebut juga sebagai digital eye strain, yang mencakup berbagai gejala seperti penglihatan kabur, mata kering, mata merah, sakit kepala, hingga nyeri pada leher dan bahu. Fenomena ini semakin relevan dalam konteks pendidikan tinggi yang semakin terdigitalisasi. Perubahan pola belajar dari metode konvensional ke pembelajaran berbasis digital membuat mahasiswa menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dibandingkan generasi sebelumnya.

Tingginya Prevalensi CVS pada Mahasiswa

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, bekerja sama dengan dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, menyoroti besarnya potensi masalah ini di kalangan mahasiswa. Penelitian tersebut melibatkan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi di bidang kesehatan dan bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keparahan Computer Vision Syndrome.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami gejala CVS, dengan tingkat keparahan yang bervariasi mulai dari ringan hingga sedang. Bahkan, lebih dari separuh responden mengalami CVS dalam kategori ringan, sementara sebagian lainnya berada pada tingkat sedang dan sebagian kecil mengalami gejala berat. Temuan ini memperlihatkan bahwa kelelahan mata digital bukan lagi keluhan yang bersifat sporadis, tetapi telah menjadi fenomena yang cukup umum di lingkungan pendidikan tinggi.

Gejala yang Sering Diabaikan

Penelitian tersebut juga mengidentifikasi berbagai gejala yang paling sering dialami mahasiswa. Beberapa keluhan yang dominan antara lain mata lelah, sakit kepala, penglihatan kabur, serta nyeri pada leher, bahu, dan punggung. Gejala-gejala ini sering dianggap sebagai kelelahan biasa akibat aktivitas belajar, sehingga tidak selalu disadari sebagai bagian dari Computer Vision Syndrome.

Padahal, CVS dapat berdampak pada kualitas belajar mahasiswa. Gejala seperti mata lelah dan sakit kepala dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat proses membaca, dan mengurangi efisiensi dalam menyelesaikan tugas akademik. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas dan kenyamanan belajar mahasiswa.

Kebiasaan Penggunaan Perangkat Digital

Menariknya, penelitian tersebut menemukan bahwa tujuan penggunaan perangkat digital memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat keparahan CVS. Mahasiswa yang menggunakan perangkat digital tidak hanya untuk belajar, tetapi juga untuk hiburan seperti menonton video, bermain gim, atau mengakses media sosial dalam durasi yang panjang, cenderung mengalami gejala CVS yang lebih berat.

Selain itu, jarak pandang terhadap layar juga terbukti menjadi faktor yang berpengaruh. Mahasiswa yang menggunakan perangkat dengan jarak pandang terlalu dekat memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala CVS. Temuan ini menunjukkan bahwa risiko CVS tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu penggunaan perangkat digital, tetapi juga oleh kebiasaan dan pola penggunaan perangkat tersebut.

Pentingnya Literasi Kesehatan Digital

Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bahwa kesehatan mata perlu menjadi bagian dari literasi kesehatan digital di lingkungan pendidikan tinggi. Mahasiswa seringkali memiliki kesadaran tinggi terhadap teknologi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang memadai tentang dampak kesehatan dari penggunaan teknologi secara berlebihan.

Oleh karena itu, institusi pendidikan perlu mengambil peran aktif dalam meningkatkan kesadaran mengenai penggunaan perangkat digital yang sehat. Program edukasi mengenai ergonomi penggunaan komputer, pengaturan pencahayaan, serta pentingnya istirahat mata secara berkala dapat menjadi langkah preventif yang efektif.

Salah satu pendekatan sederhana yang dapat diterapkan adalah aturan 20–20–20, yaitu mengalihkan pandangan dari layar setiap 20 menit selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter). Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi ketegangan otot mata akibat fokus yang terlalu lama pada layar.

Tantangan Kesehatan di Era Pendidikan Digital

Era pembelajaran digital tidak dapat dihindari dan justru membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Namun, temuan mengenai tingginya prevalensi Computer Vision Syndrome pada mahasiswa menunjukkan bahwa transformasi digital juga membawa tantangan kesehatan baru yang perlu diantisipasi.

Penelitian yang dilakukan oleh kolaborasi mahasiswa dan dosen Fakultas Keperawatan serta dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran akan kesehatan pengguna. Dengan meningkatnya literasi kesehatan digital dan penerapan kebiasaan penggunaan perangkat yang lebih sehat, mahasiswa dapat tetap memanfaatkan teknologi secara optimal tanpa mengorbankan kesehatan mata mereka.

Penulis: Lingga Curnia Dewi, S.Kep., Ns., M.Kep.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/navigating-the-digital-learning-era-computer-vision-syndrome-amon/fingerprints/