Universitas Airlangga Official Website

Model Hybrid dalam Pelayanan Kefarmasian: Pendekatan Baru Tingkatkan Kepatuhan Pasien Diabetes

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Perkembangan teknologi digital mulai mengubah cara tenaga kesehatan berinteraksi dengan pasien. Tidak terkecuali di bidang farmasi. Peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) mengembangkan sebuah pendekatan baru yang menggabungkan pelayanan tatap muka dengan pemanfaatan media sosial untuk mendampingi pasien diabetes mellitus.

Model ini dikenal sebagai pelayanan kefarmasian hybrid, sebuah pendekatan yang mencoba menjawab tantangan klasik dalam pengelolaan penyakit kronis: keterbatasan waktu konsultasi, minimnya tindak lanjut, dan rendahnya kepatuhan pasien terhadap pengobatan. 

Dalam penelitian yang dilakukan pada Februari 2024, tim peneliti melibatkan sembilan partisipan dari berbagai latar belakang, mulai dari apoteker di fasilitas kesehatan primer, akademisi, organisasi profesi, hingga pembuat kebijakan. Mayoritas partisipan berusia di atas 40 tahun dan memiliki pengalaman kerja lebih dari satu dekade. 

Hasilnya cukup menarik. Semua pihak yang terlibat menyatakan dukungan terhadap model ini. Para apoteker menilai pendekatan hybrid mempermudah mereka dalam memberikan pelayanan kepada pasien diabetes, sementara akademisi melihat model ini sudah cukup komprehensif untuk diterapkan. Bahkan, dari sisi kebijakan, pendekatan ini dinilai selaras dengan program digitalisasi layanan kesehatan yang tengah dikembangkan pemerintah. 

Secara sederhana, model hybrid ini bekerja dalam dua tahap. Pertama, pasien tetap mendapatkan edukasi langsung saat bertemu apoteker di fasilitas kesehatan. Pada tahap ini, apoteker menjelaskan penggunaan obat, melakukan asesmen, hingga menyusun rencana terapi. Untuk membantu pemahaman pasien, digunakan media visual seperti flipchart.

Tahap kedua berlangsung setelah pasien pulang. Di sinilah media sosial berperan. Apoteker tetap terhubung dengan pasien melalui aplikasi seperti WhatsApp untuk memberikan edukasi lanjutan, memantau kepatuhan minum obat, hingga mengevaluasi hasil terapi.

Pendekatan ini terbukti lebih efektif dalam menyampaikan informasi. Materi edukasi berbasis visual dan video, misalnya, memiliki tingkat pemahaman hingga 90–100 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan teks panjang yang cenderung membosankan. 

Namun, bukan berarti tanpa tantangan. Dari sisi pasien, terutama kelompok usia lanjut, penggunaan teknologi masih menjadi kendala. Tidak semua pasien terbiasa menggunakan media sosial untuk keperluan kesehatan. Selain itu, materi edukasi yang terlalu panjang juga sering kali diabaikan.

Sementara itu, dari sisi tenaga kesehatan, beban kerja menjadi perhatian utama. Di banyak fasilitas kesehatan, jumlah apoteker masih terbatas. Dalam beberapa kasus, hanya ada satu apoteker yang harus menangani berbagai tugas sekaligus. Penambahan tanggung jawab melalui layanan digital berpotensi meningkatkan tekanan kerja jika tidak dikelola dengan baik. 

Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti merekomendasikan agar materi edukasi dibuat lebih ringkas, visual, dan mudah dipahami. Penggunaan gambar, video, serta alur kerja berbentuk flowchart dinilai dapat membantu baik pasien maupun apoteker dalam menjalankan model ini secara efektif. Selain itu, pendekatan yang bersifat motivasional juga penting untuk menjaga semangat pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang.

Di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes, inovasi seperti ini menjadi angin segar. Pelayanan kesehatan tidak lagi berhenti di ruang konsultasi, tetapi berlanjut hingga ke genggaman tangan pasien.

Model hybrid yang dikembangkan peneliti Unair ini menunjukkan satu hal penting: teknologi bukan untuk menggantikan peran tenaga kesehatan, melainkan untuk memperkuat hubungan antara apoteker dan pasien—agar pengobatan tidak hanya dijalani, tetapi juga dipahami dan dijaga bersama.

Artikel : https://www.rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2026-19-1-45

Penulis : Prof. Dr. apt. Umi Athiyah,MS