Universitas Airlangga Official Website

CakraLore, Inovasi Gim Budaya Karya Mahasiswa UNAIR yang Harumkan Indonesia di Malaysia

Tim CakraLore UNAIR ketika meraih penghargaan di Malaysia (Foto: Dok. Tim CakraLore)

UNAIR NEWS – Di era perkembangan pesat teknologi, budaya Indonesia kerap mengalami tantangan relevansi. Sementara generasi muda lebih mengakrabkan diri dengan gim daring daripada merawat warisan budaya. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menginisiasi gagasan CakraLore.

CakraLore adalah sebuah inovasi teknologi digital yang menawarkan promosi pariwisata dan budaya Indonesia. Inovasi yang digagas Akbar Maula Dani (FIKKIA), Mutiara Putih Gading (FISIP), dan Ema Salsabila Arinda (FISIP) itu berhasil membawa mereka meraih medali perunggu di International Essay Competition, 5th International Youth Summit (IYS) di Malaysia Sabtu-Minggu (30-31/6/2026). 

“Di CakraLore, kami tidak hanya memberikan pandangan budaya tetapi juga pengalaman yang membuat pemain merasakan ceritanya secara langsung. Jadi, ketika mereka menyelesaikan misi dalam gim yang memiliki elemen sejarah atau filosofi lokal mereka akan mendapatkan rasa itu secara nyata,” ungkap Mutiara. 

Dalam aplikasi CakraLore terdapat beberapa fitur. Seperti Mitara yang memuat tentang kisah mitologi Nusantara, KuisIND yang menguji literasi sejarah dan budaya, Jelajeli yang mengenalkan destinasi wisata lokal, serta TarDas yang menghadirkan kompetisi pengetahuan budaya secara langsung.

“Peserta bisa langsung merasakan suasana, bermain, jadi bukan hanya sekedar hiburan karena fitur-fitur memberikan informasi sekaligus pengetahuan. Sehingga gim ini bukan hanya untuk bersenang-senang tapi membuat mereka lebih penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang budaya kita,” ujarnya.

Poster CakraLore (Foto: Dok. Tim CakraLore)

Selain itu, ia menegaskan bahwa pengemasan budaya dalam bentuk gim digital CakraLore tidak serta-merta menghilangkan nilai orisinal kebudayaan. Sebab, komitmen tim sejak awal adalah menjaga keaslian sejarah dan budaya dengan membagi konten ke dalam dua aspek, yakni aspek sejarah dan aspek visual.

Ruang bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam kompetisi sudah cukup terbuka. Namun, keterlibatan mereka dalam mencetuskan atau membuat inovasi kebijakan masih minim. Seringkali generasi muda sebatas menjadi target pasar atau penikmat hasil dari inovasi yang ada. 

“Ruang untuk berkompetisi atau hanya untuk mendapatkan apresiasi sudah benar-benar terbuka. Tapi jika ingin mengikuti kebijakan seperti pariwisata atau budaya, sepertinya bagi pemuda masih perlu dibuka lebih luas karena pemuda seringkali menjadi target pasar atau sekadar penonton,” tuturnya. 

Ia berpesan bahwa mahasiswa Indonesia harus berani mengambil langkah untuk bersaing di tingkat internasional. Prestasi yang Mutiara dapatkan bersama tim membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu membawa kebudayaan lokal ke kancah internasional. 

“Mahasiswa Indonesia tidak kalah pintar dan kreatif daripada dengan negara lain. Dan kita harus bangga karena budaya kita sangat kaya,” tutupnya. 

Penulis: Amelia Farah P I

Editor: Yulia Rohmawati