Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama karena dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan perilaku masyarakat. Untuk memahami kompleksitas hubungan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS) yang mampu memodelkan hubungan non-linear serta interaksi antar variabel secara adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prevalensi DBD di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model MARS terbaik diperoleh dengan kombinasi parameter yang menghasilkan nilai Generalized Cross Validation (GCV) sebesar 0,054 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,866, yang menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan sekitar 86,6% variasi prevalensi DBD. Model yang terbentuk adalah yang melibatkan interaksi antar variabel melalui fungsi basis. Variabel yang paling berpengaruh adalah proporsi rumah tangga tanpa tempat sampah (X3) dengan tingkat kepentingan 100%, diikuti oleh variabel tidak melakukan pemberantasan sarang nyamuk (X5) sebesar 37,811%, dan tidak memiliki fasilitas cuci tangan (X4) sebesar 35,669%.
Penerapan model pada Provinsi Jawa Timur menghasilkan estimasi prevalensi DBD sebesar 0,3881 yang lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 0,522. Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi sanitasi lingkungan yang lebih baik serta pelaksanaan pemberantasan nyamuk yang lebih optimal berkontribusi terhadap penurunan prevalensi DBD. Meskipun demikian, terdapat perbedaan antara hasil model dengan data aktual yang disebabkan oleh faktor lain, seperti kondisi iklim, kepadatan penduduk, dan urbanisasi.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa metode MARS efektif dalam memodelkan prevalensi DBD di Indonesia dengan tingkat akurasi yang tinggi. Faktor sanitasi lingkungan dan perilaku masyarakat, khususnya ketersediaan tempat sampah dan upaya pemberantasan nyamuk, memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian DBD. Hasil penelitian ini sesuai dengan SDG no 3 dan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan kesehatan yang lebih terarah, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi dan pengendalian vektor. Selain itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain yang relevan serta menggunakan pendekatan metodologis yang lebih komprehensif guna meningkatkan akurasi dan validitas model.
Penulis : Ardi Kurniawan
Artikel lengkap (open access) dapat diakses melalui laman :
