Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tempuyung kandidat bahan obat herbal potensial dengan aktivitas antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antiplasmodial, antidiabetes, dan antikanker

3 Views•3 minutes read

Tanaman obat telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai alternatif pengobatan berbagai penyakit. Penggunaan tanaman obat di seluruh dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem kesehatan yang lebih terjangkau, mudah diakses, serta sesuai dengan budaya masyarakat. Selain digunakan sebagai pengobatan tradisional, berbagai senyawa alami dari tumbuhan juga telah menjadi dasar pengembangan obat modern. Senyawa bioaktif seperti polifenol, alkaloid, terpenoid, dan flavonoid diketahui memiliki berbagai mekanisme kerja biologis yang mampu menargetkan beragam jalur fisiologis. Beberapa metabolit sekunder tersebut dilaporkan berpotensi sebagai antiinflamasi, analgesik, antioksidan, hingga berperan dalam proses penyembuhan luka.

            Salah satu tanaman yang memiliki potensi besar sebagai sumber bahan obat alami adalah tempuyung (Sonchus arvensis L.), anggota famili Asteraceae yang dikenal sebagai milk thistle atau perennial sow-thistle. Tanaman ini memiliki karakteristik berupa bunga berwarna kuning mencolok, batang yang dapat mencapai tinggi sekitar 1–6 kaki, sistem akar horizontal yang berkembang baik, serta mengandung getah putih susu. Secara tradisional, tempuyung telah dikonsumsi sebagai sayuran dan dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional di berbagai negara, terutama di Asia Tenggara dan Eropa.

            Khasiat terapeutik S. arvensis berkaitan dengan kandungan fitokimianya yang cukup kompleks, meliputi polisakarida, polifenol, flavonoid seperti luteolin, apigenin, dan kaempferol, kumarin, asam fenolat, minyak atsiri, inositol, taraksasterol, skopoletin, ester asam kuinat, serta seskuiterpen. Berbagai penelitian juga telah menunjukkan aktivitas biologis tanaman ini, seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antiplasmodial, antidiabetes, hingga hepatoprotektif. Selain itu, studi etnomedisinal menunjukkan bahwa tanaman ini telah digunakan sebagai obat alami untuk anemia, kolitis, radang tenggorokan, hipertensi, rematik, artritis gout, dan memar.

            Meskipun demikian, kajian mengenai S. arvensis sebelumnya umumnya hanya berfokus pada aspek tertentu, seperti aktivitas biologis spesifik atau kelompok senyawa tertentu, sehingga belum tersedia pemetaan penelitian yang komprehensif mengenai potensi tanaman ini secara keseluruhan. Keterbatasan tersebut menyebabkan sulitnya mengetahui kondisi penelitian terkini, jenis bukti ilmiah yang tersedia, serta kesenjangan penelitian yang masih perlu dikembangkan.

            Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memetakan dan mensintesis informasi mengenai komposisi fitokimia serta aktivitas farmakologis S. arvensis. Penelitian dilakukan melalui metode tinjauan pustaka terhadap artikel ilmiah peer-reviewed yang diterbitkan pada tahun 2004–Maret 2024 menggunakan basis data Google Scholar, PubMed, Scopus, dan EBSCOhost. Pencarian tambahan juga dilakukan melalui literatur abu-abu yang meliputi repositori universitas serta laporan industri dan pemerintah di Indonesia.

            Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 84 artikel memenuhi kriteria inklusi. Sebagian besar penelitian berasal dari Indonesia dengan dominasi penelitian in vitro (60%) dan in vivo (39%). Bagian daun merupakan bagian tanaman yang paling banyak digunakan (72%), sedangkan metode ekstraksi yang paling sering digunakan adalah maserasi (49%). Analisis fitokimia menunjukkan dominasi senyawa flavonoid, fenol, dan terpenoid. Aktivitas farmakologis yang paling banyak dilaporkan adalah aktivitas antioksidan (24%), diikuti aktivitas antihiperurisemia (12%), antibakteri (10,67%), antiinflamasi (6,67%), antiplasmodial (6,67%), antidiabetes (2,67%), antiartritis gout (4%), antikanker (4%), efek protektif organ (1–4%), serta aktivitas larvasida (2,67%).

            Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa S. arvensis memiliki potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif dengan berbagai aktivitas terapeutik. Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menjelaskan mekanisme kerja senyawa aktif, mengoptimalkan metode ekstraksi, serta memastikan keamanan dan efektivitas klinisnya sehingga dapat dikembangkan sebagai pengobatan herbal berbasis bukti ilmiah.

Penulis: Dwi Kusuma Wahyuni, S.Si., M.Si.

Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/phytochemical-composition-anti-inflammatory-antioxidant-antimicro/

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .