Universitas Airlangga Official Website

Model peramalan dan kontrol optimal untuk menilai peran potensial keraguan vaksin dan perawatan suportif dalam pengendalian wabah campak

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Campak adalah penyakit virus menular yang tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Meskipun vaksin yang efektif tersedia, wabah tetap sering terjadi karena kesenjangan dalam cakupan imunisasi dan meningkatnya keraguan masyarakat tentang vaksinasi. Indonesia, dengan populasi yang besar dan latar belakang sosial budaya yang beragam, menghadirkan tantangan unik dalam mencapai dan mempertahankan tingkat vaksinasi yang tinggi. Wabah campak yang berulang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sistem kesehatan dan program imunisasi masih menghadapi berbagai keterbatasan, sehingga memerlukan respons yang lebih cepat dan tepat, dengan fokus pada penguatan perlindungan masyarakat.

Indonesia telah lama berkomitmen untuk memberantas campak-rubella (MR), namun dalam praktiknya, cakupan imunisasi belum stabil dan wabah masih terjadi dari waktu ke waktu. Antara tahun 2013 dan 2022, cakupan MCV1 dan MCV2 nasional menurun (MCV1: 87% menjadi 84%; MCV2: 76% menjadi 67%), yang berkontribusi pada penularan yang berkelanjutan dan lonjakan periodik. Jawa Timur merupakan salah satu daerah dengan wabah campak terbesar di Indonesia pada tahun 2016, dengan jumlah kasus mencapai 3765, terutama di daerah perkotaan seperti Surabaya dan Sidoarjo. Peningkatan jumlah kasus sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa masih ada anak-anak yang belum menerima imunisasi rutin. Meskipun kampanye vaksin MR 2017 di Jawa secara umum berhasil menjangkau sebagian besar populasi sasarannya, kesenjangan cakupan antar wilayah dan keberadaan anak-anak yang belum divaksinasi tetap menjadi masalah. Situasi ini tercermin dalam munculnya kembali kasus campak di berbagai provinsi di Indonesia pada tahun 2022-2023, yang menunjukkan bahwa kekebalan masyarakat masih rapuh.

Munculnya kembali wabah campak di Indonesia disebabkan oleh berbagai kendala, seperti keterlambatan atau terlewatnya imunisasi anak, penyebaran informasi yang salah, dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, khususnya di daerah pedesaan. Selain itu, keraguan masyarakat terhadap vaksin yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, kepercayaan agama, dan kurangnya kepercayaan terhadap informasi kesehatan merupakan kendala utama dalam mencapai cakupan imunisasi yang optimal. Meskipun program imunisasi nasional telah menetapkan pemberian dua dosis vaksin campak, di beberapa daerah yang mengalami wabah campak, kasus infeksi masih terjadi karena penolakan atau keterlambatan vaksinasi yang sebenarnya dapat dicegah.

Beberapa penelitian terkait penyebaran campak di Indonesia telah dilakukan oleh sejumlah peneliti, dengan hasil bahwa keraguan terhadap vaksinasi secara signifikan mempengaruhi cakupan vaksin MR di Indonesia. Pemodelan matematika merupakan kerangka kerja yang ampuh untuk memahami bagaimana campak menyebar dan bagaimana intervensi dapat secara optimal menekan penyebarannya. Meskipun banyak penelitian telah membahas campak secara global, model yang benar-benar mencerminkan kondisi di Indonesia masih dibutuhkan.

Dalam studi ini, kami mengembangkan model kompartemen baru penularan campak yang memperhitungkan keraguan vaksinasi dan perawatan suportif, yang diterapkan pada Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Diskusi mencakup penghitungan angka reproduksi dasar sebagai indikator penularan penyakit. Kami menunjukkan bahwa titik keseimbangan bebas penyakit stabil secara asimtotik lokal dan global ketika angka reproduksi dasar kurang dari satu. Dengan menggunakan Aturan Descartes, titik keseimbangan endemik ada ketika angka reproduksi dasar lebih besar dari satu. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan cakupan vaksinasi dan penguatan tingkat pemulihan tetap menjadi strategi paling efektif untuk mengurangi angka reproduksi dasar pada populasi yang ragu-ragu. Selanjutnya, model campak tersebut dikalibrasi menggunakan data kasus infeksi dari tahun 2013–2022 di Provinsi Jawa Timur dan hasilnya kemudian digunakan untuk menggambarkan pola penularan dan memprediksi perkembangan kasus di masa mendatang.

Dengan menggunakan nilai parameter berdasarkan data yang sesuai dari Provinsi Jawa Timur, berbagai skenario intervensi disimulasikan untuk mengevaluasi dampak keraguan vaksinasi terhadap angka reproduksi efektif dan ukuran wabah, serta beberapa skenario respons sistem kesehatan untuk menilai dampaknya terhadap jumlah infeksi. Selanjutnya, kami mengevaluasi masalah pengendalian optimal untuk menekan penyebaran campak dengan biaya minimal melalui perhitungan Incremental Cost-Effectiveness Ratio ( (ICER). Kami menyimpulkan bahwa kombinasi kampanye kesadaran terpadu dengan dua dosis vaksin dan perawatan pendukung adalah strategi yang paling efisien.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada link berikut:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0010482526002714

Authors:  C. W. Chukwu, F. F. Herdicho, M. A. Rois, Fatmawati