Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT tidak hanya mengubah cara masyarakat mencari informasi, tetapi juga mulai mengubah peran pustakawan dalam memberikan layanan referensi. Menyadari perubahan tersebut, tim peneliti dari Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan penelitian untuk memetakan sejauh mana pustakawan Indonesia memahami prompt engineering, yakni kemampuan menyusun instruksi atau pertanyaan yang efektif agar sistem AI menghasilkan jawaban yang relevan dan berkualitas.
Penelitian yang melibatkan 74 pustakawan dari berbagai perguruan tinggi dan instansi pemerintah di Indonesia ini menunjukkan bahwa sebagian besar pustakawan telah mengenal konsep prompt engineering dan memahami potensinya dalam mendukung layanan perpustakaan. Namun, di balik tingkat pemahaman yang cukup baik tersebut, para pustakawan juga mengakui masih membutuhkan pelatihan yang lebih terstruktur untuk dapat menerapkannya secara optimal dalam pekerjaan sehari-hari.
Dalam era mesin pencari berbasis AI, kemampuan menyusun prompt menjadi keterampilan yang berbeda dari teknik pencarian informasi konvensional. Jika sebelumnya pengguna hanya memasukkan kata kunci, kini mereka perlu mampu memberikan konteks, tujuan, dan instruksi yang jelas kepada AI agar memperoleh hasil yang sesuai kebutuhan. Keterampilan inilah yang mulai dipandang penting bagi profesi pustakawan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para responden menilai prompt engineering memiliki manfaat besar dalam meningkatkan kualitas layanan referensi. Dengan memanfaatkan AI secara tepat, pustakawan dapat membantu pengguna memperoleh informasi lebih cepat, lebih akurat, dan lebih sesuai dengan konteks pertanyaan yang diajukan. Selain itu, teknologi ini juga dinilai dapat mendukung proses pencarian literatur, penyusunan karya ilmiah, hingga pendampingan pengguna dalam kegiatan akademik.
Menariknya, hampir seluruh kelompok usia pustakawan dalam penelitian ini memiliki pandangan yang serupa mengenai pentingnya prompt engineering. Mereka meyakini bahwa kemampuan berinteraksi dengan AI akan menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki pustakawan di masa depan. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi digital berbasis AI tidak lagi dipandang sebagai tren sementara, melainkan bagian dari perkembangan profesi yang perlu dipersiapkan sejak sekarang.
Meski demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan keterampilan teknis dalam merancang prompt yang efektif. Banyak pustakawan mengaku masih belajar melalui percobaan mandiri karena belum tersedia panduan maupun pelatihan yang sistematis. Selain itu, muncul pula kekhawatiran mengenai keakuratan jawaban AI, potensi bias informasi, serta risiko terkait keamanan dan privasi data.
Temuan lain yang menarik adalah munculnya kesadaran bahwa AI tidak dapat menggantikan peran pustakawan sepenuhnya. Sebaliknya, teknologi ini justru memperkuat peran pustakawan sebagai pengelola kualitas informasi. Dalam konteks ini, pustakawan berfungsi sebagai pihak yang memverifikasi hasil keluaran AI, memastikan kredibilitas sumber, serta membantu pengguna memahami informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Berdasarkan hasil penelitian, tim peneliti mengusulkan model pelatihan tiga tahap untuk meningkatkan kompetensi pustakawan dalam prompt engineering. Tahap pertama berfokus pada peningkatan pemahaman dasar mengenai AI dan prinsip-prinsip penyusunan prompt. Tahap kedua menitikberatkan pada praktik langsung melalui simulasi kasus layanan referensi. Sementara tahap ketiga mengintegrasikan aspek etika, privasi, dan penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam lingkungan perpustakaan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa prompt engineering bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari literasi AI yang semakin penting dalam profesi kepustakawanan. Dengan dukungan pelatihan yang tepat serta kebijakan institusi yang memadai, pustakawan berpeluang bertransformasi dari sekadar penyedia informasi menjadi fasilitator pembelajaran dan mitra pengguna dalam memanfaatkan kecerdasan buatan secara kritis, etis, dan produktif.
Riset tersebut dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Exploring Indonesian Librarians’ Awareness and Training Needs in Prompt Engineering for Reference Services”. Melalui penelitian ini, para penulis menegaskan bahwa kesiapan pustakawan dalam menghadapi era AI tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola interaksi manusia dan mesin secara bijaksana demi terciptanya layanan informasi yang lebih cerdas dan berpusat pada pengguna.
Penulis: Nove Eka Variant Anna, S.Sos., MIMS.
Link : https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/01930826.2026.2662298#infos-holder





