UNAIR NEWS – Menimba ilmu medis hingga ke benua Eropa menjadi langkah nyata bagi Brigitta Swasti Lintang Handayu dalam mengasah kompetensinya. Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) ini berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Casa Austria Clinica de chirurgie plastică si reparatorie, Timisoara, Romania. Melalui wadah SCOPE CIMSA, ia menjalani stase di departemen bedah plastik pada 6–31 Juli 2026.
Bersama rekannya, Dhea Haliya, Brigitta menembus program pertukaran ini setelah melewati berbagai tahap seleksi dukungan penuh dari FK UNAIR. “Puji Tuhan, saya mendapat departemen dan kota pilihan pertama, yaitu bedah plastik di Timisoara. FK UNAIR juga sangat mendukung program ini. Mulai dari memfasilitasi administrasi sampai memberikan partial reimburse untuk kami,” ungkapnya.
Pengalaman Klinis Bedah Plastik
Selama hampir sebulan melakukan clerkship di departemen bedah plastik, rutinitas Brigitta dipenuhi dengan observasi berbagai tindakan bedah. Ia mengamati jalannya operasi bedah plastik mayor seperti abdominoplasty, amputasi, tendon graft, dan skin graft, hingga operasi minor seperti pengangkatan tumor dan rekonstruksi telinga.

Ia juga berhadapan dengan ragam kasus ekstrem seperti penanganan pasien luka bakar mencapai 95 persen, pasien pressure decubitus, hingga kondisi Toxic Epidermal Necrolysis (TEN).
“Momen medis yang selalu membekas tentunya operasi pertama yang aku observasi secara langsung yaitu abdominoplasty. Di situ aku belajar banyak soal teknik bedah termasuk menjaga kesterilan,” kenangnya.
Selain observasi, ia juga diberi kesempatan melakukan tindakan sederhana. Seperti melepas dan mengenakan perban pada pasien poli, menjadi asisten steril pada operasi tumor kecil, hingga merasakan rutinitas jaga malam rumah sakit 24 jam.
“Bagi saya, yang sangat menguji mental adalah saat melakukan tindakan langsung ke pasien poli. Beliau memiliki dua tipe kanker, sehingga kondisi kulitnya sangat fragile (rapuh). Lumayan deg-degan saat melepas dan memakaikan perban ke beliau. Apalagi itu pasien dokter pembimbing yang progres penyembuhannya butuh waktu lama. But I did it, and it was great!” ceritanya antusias.
Sistem Kesehatan dan Pertukaran Budaya
Selain mengasah kompetensi klinis, Brigitta mempelajari sistem kesehatan Romania yang menerapkan National Health Insurance (NHI) kelolaan National Health Insurance House. Perbedaan paling mencolok dengan BPJS di Indonesia adalah sistem NHI Romania didanai melalui pajak dan kontribusi wajib pekerja, sehingga pasien tidak harus memberikan iuran mandiri seperti BPJS di Indonesia.
“Pesan dari dr Gaurav yang akan terus saya ingat adalah kita harus berani membuat jalan kita sendiri di dunia kedokteran.Tips dari saya untuk teman-teman mahasiswa, just do it! Harus berani mencoba karena banyak pengalaman belajar berharga yang tidak bisa didapatkan jika hanya berada di lingkungan universitas,” ucapnya.
Kegiatan berskala internasional yang diikuti oleh Brigitta dan rekannya ini turut mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khsusnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 17 (Partnership for the Goals).
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





