Universitas Airlangga Official Website

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Berdayakan Peternak Ayam di Tomini Raya Sulawesi Tengah

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR saat berada di Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah pada Sabtu (1/8/2026)

UNAIR NEWS – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR)  melakukan langkah strategis pada kelompok peternak di kawasan Transmigrasi Bahari, Kabupaten Tomini Raya, Sulawesi Tengah melalui pendampingan manajemen pemeliharaan dan penguatan akselerasi produktivitas ayam petelur. Pendampingan itu telah dimulai sejak Jumat (31/72026) dan akan berlanjut hingga Senin (30/11/2026) mendatang. 

Ketua TEP UNAIR Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya, Dr drh Emy Koestanti Sabdoningrum MKes menuturkan bahwa kawasan tersebut menjadi sasaran lantaran memiliki faktor pendukung seperti ketersediaan lahan, tenaga kerja keluarga, tingginya permintaan pasar, serta keterbukaan pasar lokal. 

TEP UNAIR mengidentifikasi perlunya perbaikan pada manajemen kandang, pakan, sanitasi, biosekuriti, kesehatan ayam, dan pencatatan usaha bagi peternak tradisional. “Jadi, yang paling mendesak adalah membangun sistem peternakan yang lebih efisien, sehat, berbasis potensi lokal, dan dikelola secara terukur,” ucapnya.

Selain itu, tingginya harga pakan memicu pembengkakan produksi. Padahal, kawasan tersebut juga memiliki potensi limbah perikanan yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan.

Dalam kegiatan tersebut, Emy dan tim menggunakan pendekatan partisipatif berbasis pembelajaran langsung atau learning by doing. Dengan pendekatan ini, peternak tidak hanya belajar melalui teori, melainkan langsung mendapatkan pendampingan di kandang dari tim. 

“Kami menggunakan pendekatan partisipatif dan learning by doing. Peternak tidak hanya diberikan teori, tetapi langsung didampingi di kandang,” ujarnya. 

Selain melakukan pendampingan terkait pola pemeliharaan ayam, mereka juga menyiapkan demonstration farm atau peternakan percontohan sebagai zona edukasi bersama. Di samping itu, pemanfaatan hasil perikanan sebagai bahan pakan lokal harapannya dapat mengintegrasi sektor perikanan dan peternakan. 

Emy juga menambahkan bahwa keberhasilan program diukur melalui perbandingan antara kondisi sebelum dan sesudah pendampingan berlangsung. Hal ini mencakup kemampuan peternak melakukan pencatatan usaha, menerapkan sanitasi dan biosekuriti, serta kemampuan kelompok mengelola usaha secara mandiri.

“Targetnya antara lain produksi telur meningkat minimal 20 persen, pendapatan atau omzet meningkat 15 persen, mortalitas turun 30 persen, dan efisiensi pakan meningkat 15 persen,” imbuhnya. 

Komitmen program tidak sebatas pada pemanfaatan potensi lokal dan penguatan kelembagaan kelompok, tetapi juga menyasar sarana produksi, pemasaran telur, dan jejaring dengan pemerintah maupun mitra usaha dalam jangka panjang. Sedangkan, model peternakan ayam petelur berbasis masyarakat dan potensi lokal dicanangkan sebagai target jangka panjang. 

“Target jangka panjang kami adalah menghasilkan model peternakan ayam petelur berbasis masyarakat dan potensi lokal yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan, serta dapat direplikasi di kawasan transmigrasi lainnya,” lanjutnya. 

Setelah program rampung, Emy dan tim berharap dapat mewujudkan swadaya peternak lokal lewat optimalisasi produksi telur. Peternak nantinya tidak hanya aktif, tetapi juga mampu berkontribusi dalam peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. 

“Kami ingin masyarakat menjadi subjek utama, bukan hanya penerima program. Jadi, yang kami bangun bukan hanya kelompok ternak, tetapi kelompok yang mampu belajar, bekerja sama, dan mengembangkan usaha secara mandiri,” tuturnya. 

Melalui Ekspedisi Patriot, UNAIR terus berkomitmen untuk mewujudkan sumbangsih nyata bagi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia sekaligus mendukung pencapaian target SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pembangunan ekonomi berkelanjutan. 

Penulis: Amelia Farah Putri I.

Editor: Yulia Rohmawati