Universitas Airlangga Official Website

Meningkatkan Akses Bedah Saraf Darurat di Indonesia melalui Program Nasional Berbasis Task-Sharing dan Teknologi Simulasi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Cedera otak traumatik (traumatic brain injury/TBI) merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Di Indonesia, beban penyakit ini terus meningkat seiring bertambahnya angka kecelakaan lalu lintas, sementara akses terhadap layanan bedah saraf masih belum merata. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan geografis yang sangat besar dalam menyediakan layanan kesehatan spesialistik secara cepat dan merata. Banyak pasien harus menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan menggunakan transportasi laut atau udara, hanya untuk mencapai rumah sakit yang memiliki dokter spesialis bedah saraf.

Permasalahan ini semakin diperparah oleh keterbatasan jumlah tenaga bedah saraf. Hingga tahun 2025, Indonesia hanya memiliki sekitar 567 dokter spesialis bedah saraf yang tersebar tidak merata di seluruh wilayah. Dari 514 kabupaten/kota, hanya 144 yang memiliki dokter bedah saraf, bahkan beberapa provinsi sama sekali belum memiliki tenaga spesialis tersebut. Akibatnya, sekitar 67,6% penduduk Indonesia tinggal lebih dari dua jam perjalanan dari pusat layanan bedah saraf terdekat. Kondisi ini sangat berisiko karena pada kasus cedera otak, setiap menit keterlambatan penanganan dapat meningkatkan angka kematian dan kecacatan permanen.

Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga spesialis adalah melalui pendekatan task-sharing, yaitu pelimpahan sebagian tindakan medis tertentu kepada dokter umum atau dokter bedah umum yang telah memperoleh pelatihan khusus dan tetap berada di bawah supervisi dokter spesialis. Pendekatan ini telah diterapkan di beberapa negara berkembang seperti Filipina, India, Australia, dan Swedia dengan hasil yang cukup menjanjikan. Selain itu, perkembangan teknologi simulasi menggunakan virtual reality (VR) serta model anatomi hasil cetak tiga dimensi (3D printing) juga terbukti mampu meningkatkan keterampilan teknis tenaga kesehatan secara efektif dengan biaya yang relatif terjangkau. 

Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah penelitian deskriptif dilakukan oleh de Liyis dkk. pada tahun 2026 bersama sejumlah institusi nasional dan internasional. Penelitian yang telah diterbitkan dalam Journal of Clinical Neuroscience (Elsevier) ini bertujuan untuk mendeskripsikan dasar pemikiran, kerangka regulasi, serta rancangan pendidikan dari program nasional task-sharing bedah saraf di Indonesia yang dirancang untuk memperluas akses pelayanan bedah saraf darurat, khususnya di daerah yang belum memiliki dokter spesialis bedah saraf. 

Metode yang digunakan dalam artikel ini bukan berupa uji klinis ataupun penelitian eksperimental, melainkan laporan deskriptif mengenai pengembangan program nasional. Penyusunan program diawali dengan telaah sistematis terhadap literatur mengenai task-sharing, evaluasi berbagai kerangka implementasi internasional, konsultasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta pembandingan dengan negara-negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan pendekatan serupa. Selanjutnya disusun mekanisme tata kelola, persyaratan peserta, standar rumah sakit, hingga kurikulum pelatihan berbasis kompetensi. Program memperoleh dukungan resmi dari Kementerian Kesehatan, Kolegium Bedah Saraf Indonesia, serta Kolegium Bedah Indonesia.

Pada penelitian ini, didapatkan bahwa hingga akhir tahun 2025 seluruh persiapan administratif, regulasi, dan pelaksanaan awal program telah berhasil diselesaikan. Tim dokter bedah saraf telah mulai memberikan pelatihan di wilayah Ambon (Maluku) dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur). Program juga telah menetapkan kriteria rumah sakit, peserta, serta mekanisme supervisi nasional secara rinci. Namun demikian, karena implementasi program baru dimulai pada akhir tahun 2025, data mengenai luaran klinis pasien, tingkat keberhasilan tindakan, angka komplikasi, maupun efektivitas program masih belum tersedia. Oleh karena itu, artikel ini lebih menitikberatkan pada penyajian rancangan program daripada evaluasi hasil klinisnya. 

Penulis juga mengulas berbagai bukti internasional yang mendukung pendekatan ini. Di Filipina, misalnya, angka kematian pasien yang ditangani melalui sistem task-sharing tidak berbeda secara bermakna dibandingkan dengan rumah sakit yang seluruh operasinya dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf. Di Australia, Swedia, dan India, dokter bedah umum yang memperoleh pelatihan khusus juga mampu memberikan pelayanan bedah saraf darurat secara aman dengan dukungan konsultasi dokter spesialis. Selain itu, penelitian mengenai penggunaan teknologi VR dan model 3D menunjukkan peningkatan kemampuan teknis peserta secara signifikan dibandingkan metode pembelajaran konvensional.

Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa program nasional task-sharing bedah saraf Indonesia merupakan strategi sementara yang dinilai layak secara etik untuk meningkatkan akses pelayanan bedah saraf penyelamat nyawa di wilayah yang kekurangan dokter spesialis. Program tersebut mengintegrasikan pelatihan berbasis simulasi, praktik bertahap, supervisi langsung melalui telemedisin, serta pengawasan berkelanjutan oleh dokter spesialis bedah saraf. Meskipun demikian, efektivitas dan keamanannya masih harus dibuktikan melalui pemantauan luaran pasien secara prospektif. Penulis menegaskan bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada evaluasi berkelanjutan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dukungan pemerintah, serta sistem pengawasan nasional yang kuat sehingga model ini dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi pemerataan layanan bedah saraf di Indonesia maupun negara berkembang lainnya.

Penulis: Prof. Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS(K). FICS, IFAANS

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/advancing-access-to-emergency-care-for-traumatic-brain-injuries-i/