Kehilangan gigi pada usia lanjut sering dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan. Namun, semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa kesehatan gigi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan makan, tetapi juga berhubungan dengan status gizi dan kualitas hidup seseorang. Sebuah penelitian terbaru berupa systematic review dan meta-analysis mengungkapkan bahwa lansia dengan jumlah gigi yang lebih sedikit memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja dan risiko malnutrisi. Penelitian ini menganalisis 19 studi dari berbagai negara untuk melihat hubungan antara kondisi gigi, fungsi mengunyah, dan status nutrisi pada kelompok usia lanjut.
Gigi memiliki peran penting dalam proses mengunyah makanan. Ketika seseorang kehilangan banyak gigi, kemampuan untuk menghancurkan makanan menjadi berkurang. Akibatnya, sebagian lansia cenderung memilih makanan yang lebih lunak dan mudah dikunyah. Dalam jangka panjang, perubahan pola makan ini dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak optimal dan meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya.
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa lansia yang memiliki 20 gigi atau lebih cenderung memiliki asupan nutrisi yang lebih baik dibandingkan mereka yang memiliki lebih sedikit gigi. Kelompok dengan jumlah gigi lebih banyak dilaporkan memiliki konsumsi protein, vitamin B dan D, sayuran, serta ikan yang lebih tinggi. Selain jumlah gigi, kemampuan mempertahankan kontak gigi belakang (occlusal support) juga berhubungan dengan konsumsi makanan yang lebih beragam, termasuk sayuran dan serat. Hasil analisis gabungan menunjukkan bahwa individu dengan kurang dari 20 gigi memiliki kemungkinan 52% lebih tinggi mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja dibandingkan mereka yang memiliki 20 gigi atau lebih. Selain itu, lansia tanpa gigi alami (edentulous) memiliki kemungkinan 43% lebih tinggi mengalami risiko malnutrisi dibandingkan lansia yang masih memiliki gigi.
Temuan ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan gigi sejak dini merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Hubungan antara kesehatan mulut dan nutrisi sebenarnya berjalan dua arah. Kehilangan gigi dapat menyebabkan kesulitan makan sehingga asupan nutrisi menurun. Sebaliknya, kondisi kurang gizi juga dapat melemahkan sistem imun dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit mulut.
Hal ini dapat membentuk sebuah siklus: fungsi mulut yang menurun menyebabkan asupan nutrisi memburuk, kemudian kondisi nutrisi yang buruk semakin memperparah kesehatan mulut. Penelitian ini menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan gigi tidak seharusnya hanya berfokus pada rasa sakit atau kebutuhan perawatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan malnutrisi pada lansia.
Pemeriksaan gigi secara rutin, perawatan preventif, mempertahankan gigi alami, serta rehabilitasi fungsi mengunyah melalui gigi tiruan yang sesuai dapat membantu lansia tetap mampu menikmati makanan bergizi dan mempertahankan kualitas hidup. Dengan bertambahnya usia harapan hidup, menjaga kesehatan gigi bukan hanya tentang mempertahankan senyum, tetapi juga tentang mempertahankan kemandirian, kesehatan, dan kualitas hidup di masa tua.
Penulis: Aulia Ramadhani
Link artikel: https://www.ovid.com/jnls/jpcd/pdf/10.4103/jispcd.jispcd_224_25~oral-health-and-risk-of-malnutrition-in-older-adults-a





