Kedung Klinter adalah sebuah kawasan permukiman padat penduduk yang berlokasi di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya Pusat. Kawasan perkampungan padat ini terbagi menjadi beberapa bagian seperti Jalan Kedung Klinter I hingga V, yang terhubung dekat dengan kawasan Jalan Kedungdoro dan Plemahan. Layaknya sebuah kampung di Surabaya, Kedung Klinter ini merupakan perkampungan aktif dengan berbagai fasilitas warga seperti warung makan, toko kelontong, bengkel, fasilitas PAUD/TK, serta tempat ibadah.
Dari Kedung Klinter itu muncul sosok yang tenang, pintar dan egaliter khas Surabaya yaitu Cak Solikin M. Juhro yang diangkat menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2026 -2031. Saya mengetahui asalnya cak Solikin itu dari Kedung Klinter dari sahabat seangkatan saya di SMA 2 Surabaya 1972 dan FE Unair 1973 cak Wibisono (Sony) yang pernah menjadi salah satu orang penting di jajaran Bank Indonesia dan Bank Jatim. Di WAG angkatan 73 FE Unair Cak Sony mengatakan bahwa dia kenal baik dengan Cak Solikin sebagai staf andalan Bu Miranda Gultom Deputi Gubernur Senior BI. “orangnya tenang tapi egaliter dan pinter” ujar cak Sony.
Cak Sony pernah ikut rapat dengan Bu Miranda di Bank Indonesia dan merasa “keteteran” karena Bu Miranda yang ahli dibidang makro ekonomi pertanyaan-pertanyaanya kepada peserta rapat sangat detail dan komprehensif. Bagi yang tidak memiliki kemampuan dibidang ekonomi pembangunan, makro ekonomi dan perbankan dijamin akan mengeluarkan keringat dingin. “Karena Cak Solikin itu lama ikut Bu Miranda Gultom, maka dia sudah teruji soal kemampuannya dibidang makro ekonomi” tambah Cak Sony. Karena itu wajar saja bila Cak Solokin lulus dalam uji kelayakan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI pada Agustus 2026 sehingga resmi ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031.
Cak Dr. Solikin M. Juhro, S.E, M.A.E, M.A yang kelahiran Surabaya pada tanggal 10 Oktober 1967 memang mumpuni dibidangnya karena memiliki rekam jejak yang panjang di Bank Indonesia juga latar belakang pendidikannya yang menunjang karirnya. Cak Solikin lulus S1 jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Airlangga tahun 1991, jebolan S2 Konsentrasi Economics (Ilmu Ekonomi) di University of Michigan & University of Maryland (Lulus 1998) dan S3 bidang Economic Monetary di Universitas Indonesia pada tahun 2005.
Tentang rekam jejaknya di BI, Cak Solikin memulai karier di Bank Indonesia sejak 20 September 1994, lalu berturut-turut menjadi Kepala Institut Bank Indonesia (2017–2022); Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (2022–2023); Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial (2023–2026); sampai akhirnya ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia pada Agustus 2026.
Nama Cak Solikin ini menambah sederetan orang yang berasal dari Kampung Surabaya yang menjadi orang penting di negeri ini antara laian Presiden RI Pertama Ir. Ahmad Soekarno yang lahir pada 6 Juni 1901 di Kampung Pandean gang IV nomor 40 kelurahan Peneleh, Bung tomo lahir pada 3 oktober 1920 berasal dari kampung Blauran, Wakil Presiden Jenderal TNI Try Sutrisno lahir 15 november 1935 dan dibesarkan di kampung Genteng, Bandar Lor, Hermawan Kertajaya – Mark Plus, ahli ilmu marketing tinggal satu kampung dengan saya di Kapasari Surabaya; Aktor legendaris Ratno Timoer (pemeran Si Buta dari Gua Hantu) diketahui pernah tinggal di Kampung Kebangsren Gang III, Kota Surabaya dan banyak lagi.
Tentu juga Cak Solikin ini mengikuti “professional path” nya alumni FE/FEB Unair yang antara lain menjadi orang peting di Bank Indonesia seperti Mas Ilham, Cak Wibisono, Cak Rusli Simanjuntak, Cak Zaenal, Cak Edison dsb. Ini merupakan kebanggaan bagi tersendiri dari FEB Unair.
Saya sendiri meskipun bukan termasuk dalam jajaran orang penting di negeri ini, tapi saya juga lahir dan dibesarkan di Kampung Kapasari Gang V no 15 A, kampung yang padat penduduk yang lokasinya disebelah utara Taman Hiburan Rakyat (THR) dan berdekatan dengan kawasan Gembong tempat orang-orang jualan barang “rombengan”.





