Masalah tengkes (stunting) masih menjadi tantangan kesehatan global yang mengancam tumbuh kembang anak-anak. Pada tahun 2022, prevalensi stunting global mencapai angka 22,3%. Gangguan pertumbuhan ini sangat krusial dicegah terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. Selain asupan nutrisi, faktor lingkungan seperti terbatasnya akses air bersih, sanitasi buruk, dan kurangnya kebiasaan hidup bersih (WASH: Water, Sanitation, and Hygiene) menjadi penyebab tidak langsung terjadinya stunting melalui infeksi berulang seperti diare. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah hubungan antara komponen-komponen Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) dengan kejadian stunting pada anak balita. Sedangkan untuk tujuan penelitian ini adalah menganalisis secara sistematis hubungan antara komponen WASH (akses dan kualitas air, sarana sanitasi, serta kebiasaan higiene) dengan tingkat risiko kejadian stunting pada balita. Metodologi penelitian ini merupakan systematic review yang disusun berdasarkan panduan PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan pada tiga basis data ilmiah PubMed, Scopus, dan CINAH untuk publikasi rentang tahun 2019 hingga 2024. Dari total 389 artikel yang teridentifikasi, sebanyak 14 artikel memenuhi kriteria inklusi. Studi yang diulas mencakup 8 negara berkembang (termasuk Indonesia, Bangladesh, Ethiopia, India, dan China) dengan metode desain potong lintang (cross-sectional). Kualitas dan potensi bias setiap artikel dievaluasi menggunakan instrumen penilaian Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil Penelitian berdasarkan hasil sintesis dari 14 studi menunjukkan hubungan yang signifikan antara berbagai komponen WASH dengan kejadian stunting pada anak: Komponen Air (Water): Sumber air minum yang tidak terlindungi, waktu tempuh mengambil air yang jauh (>15–60 menit), serta metode penyimpanan air yang rentan kontaminasi terbukti meningkatkan risiko balita mengalami stunting. Komponen Sanitasi (Sanitation): Praktik buang air sembarangan (open defecation), ketiadaan toilet yang layak, serta pembuangan limbah padat dan cair di area terbuka berhubungan langsung dengan tingginya prevalensi stunting. Sebaliknya, ketersediaan fasilitas sanitasi yang terstandar menurunkan risiko stunting secara nyata. Komponen Higiene (Hygiene): Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar—khususnya menggunakan sabun/abu dan air—serta kebersihan toilet rumah tangga terbukti efektif menurunkan angka stunting. Faktor Lingkungan & Individu: Jenis lantai rumah berbahan tanah dan rendahnya pengetahuan atau kesadaran orang tua mengenai prinsip WASH berhubungan dengan meningkatnya angka kejadian stunting. Kesimpulan dari studi ini mengonfirmasi bahwa komponen air, sanitasi, dan higiene (WASH) memiliki hubungan yang sangat erat dengan kejadian stunting pada balita. Penyediaan akses air minum yang bersih dan aman, fasilitas sanitasi terstandar, serta penerapan kebiasaan mencuci tangan secara konsisten berperan penting dalam mencegah infeksi saluran pencernaan yang menghambat penyerapan nutrisi anak. Implikasi Penelitian dari penelitian ini menegaskan bahwa strategi percepatan penurunan stunting tidak dapat hanya bertumpu pada pemberian makanan tambahan atau intervensi gizi semata. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur air bersih dan sanitasi, perbaikan kualitas lingkungan hunian (seperti pelantaian rumah), serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat masyarakat.
Penulis: Prof. Dr. Yuni Sufyanti Arief, S.Kp.,M.Kes
Informasi detail mengenai penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di
http://mjmhsojs.upm.edu.my/index.php/mjmhs/article/view/1380





