Periodontitis adalah penyakit inflamasi kronis yang menyebabkan kerusakan progresif pada jaringan penyangga gigi, mulai dari gingiva, ligamen periodontal, sementum, hingga tulang alveolar. Biofilm bakteri memang menjadi pemicu awal, tetapi beratnya kerusakan tidak hanya ditentukan oleh bakteri. Respons tubuh yang tidak terkontrol justru menjadi salah satu pendorong utama perjalanan penyakit.
Salah satu pemain penting dalam proses tersebut adalah integrin. Integrin merupakan protein pada permukaan sel yang bekerja seperti “jembatan komunikasi” antara sel dan lingkungan di sekitarnya. Protein ini membantu sel menempel pada jaringan, bergerak, menerima sinyal, dan merespons perubahan. Pada jaringan periodontal, integrin terdapat pada sel epitel gusi, sel imun, fibroblas ligamen periodontal, dan osteoklas, yaitu sel yang berperan dalam resorpsi tulang.
Dalam kondisi sehat, berbagai jenis integrin bekerja secara seimbang. Integrin α3β1 dan α6β4 membantu menjaga lapisan epitel tetap melekat pada membran basal dan mempertahankan fungsi penghalang jaringan. Integrin αvβ6 juga berperan mengendalikan peradangan melalui aktivasi TGF-β, molekul yang membantu membatasi respons inflamasi berlebihan.
Masalah mulai muncul ketika keseimbangan mikroorganisme di sekitar gigi terganggu atau terjadi disbiosis. Bakteri periodontal, termasuk Porphyromonas gingivalis, dapat berinteraksi dengan integrin α5β1. Interaksi ini dapat mempermudah hubungan bakteri dengan sel inang sekaligus mengaktifkan jalur peradangan di dalam sel.
Pada saat yang sama, tubuh merekrut neutrofil, monosit, dan sel imun lain menuju jaringan yang mengalami tantangan mikroba. Proses ini membutuhkan integrin kelompok β2, seperti LFA-1 dan Mac-1. Respons tersebut sebenarnya penting untuk pertahanan tubuh. Namun, bila berlangsung terus-menerus, aktivasi sel imun dapat meningkatkan mediator inflamasi, protease, dan reactive oxygen species yang ikut merusak jaringan di sekitarnya.
Periodontitis kronis bukan sekadar peradangan yang kuat, tetapi juga kegagalan tubuh menghentikan peradangan. Penurunan ekspresi αvβ6 dapat mengurangi kemampuan epitel mengaktifkan TGF-β sehingga salah satu “rem” alami terhadap inflamasi menjadi lebih lemah. Sementara itu, α9β1 diduga ikut mempertahankan jalur MAPK yang berhubungan dengan inflamasi kronis, walaupun bukti langsung pada jaringan periodontal manusia masih perlu diperkuat.
Peradangan berkepanjangan juga dapat mengganggu sinyal integrin β1 pada fibroblas ligamen periodontal. Padahal, kelompok integrin ini membantu mengatur kolagen, matriks ekstraseluler, respons terhadap beban mekanis, dan proses regenerasi. Ketika fungsi tersebut terganggu, jaringan bukan hanya mengalami kerusakan, tetapi juga semakin sulit memperbaiki diri.
Kerusakan tulang alveolar merupakan konsekuensi penting periodontitis. Di sini, integrin αvβ3 memiliki peran utama pada osteoklas. Selama inflamasi, RANKL meningkat dan mendorong diferensiasi serta aktivasi osteoklas. Namun, agar osteoklas dapat melekat pada permukaan tulang dan menjalankan fungsi resorpsi secara efektif, dibutuhkan kerja αvβ3.
Dengan kata lain, RANKL memberi dorongan terhadap pembentukan dan pematangan osteoklas, sedangkan αvβ3 membantu osteoklas membentuk struktur sel yang diperlukan untuk meresorpsi tulang. Hubungan ini menjelaskan bagaimana sinyal inflamasi dapat diterjemahkan menjadi kehilangan tulang alveolar.
Temuan mengenai integrin membuka kemungkinan terapi periodontitis yang tidak hanya menargetkan mikroba, tetapi juga memodulasi respons tubuh. Secara teori, terapi dapat diarahkan untuk menekan jalur integrin yang mendorong inflamasi atau resorpsi tulang, sekaligus mempertahankan jalur yang mendukung kontrol inflamasi dan regenerasi.
Namun, pendekatan ini belum siap diterapkan secara luas. Integrin juga dibutuhkan untuk pertahanan terhadap infeksi, penyembuhan luka, stabilitas epitel, pergantian tulang normal, dan regenerasi jaringan. Menghambat integrin secara tidak selektif dapat menimbulkan masalah baru. Karena itu, penelitian mendatang perlu mengembangkan terapi yang lebih spesifik terhadap subtipe integrin, jenis sel, lokasi pemberian, dan durasi terapi.
Kajian ini menegaskan bahwa periodontitis sebaiknya dipahami sebagai penyakit dinamis akibat ketidakseimbangan komunikasi seluler. Tahapan molekulernya saling tumpang tindih dan tidak sama dengan pembagian stadium klinis periodontitis. Bakteri tetap menjadi pemicu penting, tetapi perjalanan menuju inflamasi kronis, kerusakan jaringan, kehilangan tulang, dan kegagalan regenerasi sangat dipengaruhi oleh respons tubuh. Integrin berada di tengah jaringan komunikasi tersebut dan berpotensi menjadi salah satu kunci bagi terapi periodontal yang lebih presisi di masa depan.
Penulis: Meircurius DC Surboyo
Tulisan lengkap dapat diakses Mardiyantoro, F.; Surboyo, M.D.C.; Sarasati, A.; Matsuguchi, T. Integrin Signaling Imbalance in Periodontitis: A Stage-Dependent Link Between Inflammation, Bone Resorption and Regenerative Failure. Biomolecules. 2026, 16, 967. https://doi.org/10.3390/biom16070967





