UNAIR NEWS – Penelitian bakteri pembentuk biofilm mengantarkan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) meraih penghargaan di forum ilmiah internasional. Regatra Sandra Devi berhasil meraih juara 2 Best Oral Presentation kategori Seafood Processing and Technology dalam 7th International Conference on Biotechnology and Food Sciences (INCOBIFS) 2026 pada Kamis (3/9/2026) di ASEEC Tower, UNAIR.
Regatra Sandra Devi bersama Bethari Sri Indrajayanti dan Raniya Lolita Winata melakukan penelitian bertajuk Detection of Biofilm-Forming Bacteria on Cutting Boards Used in Smoked-Fish Production. Penelitian tersebut dibawah bimbingan Heru Pramono SPi MBiotech PhD.

Kontaminasi pada Peralatan Produksi
Rega, sapaan akrab nya, menjelaskan bahwa penelitian tersebut mendeteksi bakteri pembentuk biofilm pada talenan yang rumah produksi ikan asap di Kenjeran gunakan. Biofilm merupakan lapisan pelindung yang membuat bakteri memiliki ketahanan tinggi terhadap desinfektan.
“Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa keamanan pangan tidak hanya berfokus pada bahan baku dan proses pengolahan, namun juga peralatan yang digunakan berulang kali karena memiliki potensi lebih tinggi sebagai sumber kontaminasi,” jelasnya.
Menurutnya, penelitian tersebut dapat menjadi rekomendasi sanitasi peralatan yang lebih ketat pada industri pengolahan ikan skala UMKM. Selain itu, pembahasan biofilm pada peralatan pengolahan ikan juga cukup menarik karena masih jarang mendapat sorotan.
Langkah Awal Pengembangan Riset
Rega menyampaikan bahwa melalui penelitian ini, ia mendapat pengalaman baru dalam mempelajari mikrobiologi di bidang pengolahan hasil perikanan. Ia dan tim memastikan setiap tahapan penelitian berjalan sesuai metodologi untuk menghasilkan data valid yang dapat mereka pertanggungjawabkan secara ilmiah.
Melalui proses penelitian, ia belajar bahwa sebuah penelitian tidak hanya terfokus pada hasil akhir, namun juga ketelitian dalam setiap tahapan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting baginya dalam menyampaikan hasil penelitian di hadapan peserta konferensi.
“Saya merasa campur aduk karena konferensi ini merupakan pengalaman pertama saya. Melalui kegiatan ini, saya merasa senang karena mendapat kesempatan bertemu dan bertukar wawasan bersama peneliti lain,” ujarnya.
Ke depan, Rega berharap penelitian tersebut dapat terpublikasi dan berkembang melalui penelitian lanjutan. Ia berpesan kepada mahasiswa untuk berani mengambil kesempatan baru.
“Just give it a shot. Kita tidak pernah benar-benar siap menghadapi sesuatu. Rasa gugup dan takut adalah bagian dari pengalaman. Tidak ada ruginya mencoba sesuatu yang menakutkan karena experience is the best teacher,” pungkasnya.
Penulis : Maulya Afifah Zahra
Editor : Ragil Kukuh Imanto





