UNAIR NEWS – Lantunan selawat dan semangat menuntut ilmu memenuhi Masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga (UNAIR) pada Selasa (8/9/2026) malam. Ratusan jamaah memadati masjid untuk mengikuti Tabligh Akbar yang menghadirkan ulama muda asal Bangkalan, Madura, Lora Muhammad Ismail Al-Ascholy atau Lora Ismail Al-Kholili.
Lora Ismail merupakan keturunan keenam dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Acara berawal dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, kemudian sambutan dari penanggung jawab kegiatan, Ir Asif Ali Zamzami SST MSc PhD IPM. Selepas magrib, jamaah terlebih dahulu menikmati penampilan hadrah sebelum memasuki sesi ceramah utama.

Keutamaan Umat Nabi Muhammad
Dalam ceramahnya, Lora Ismail menyampaikan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki level keimanan yang cukup tinggi, salah satunya tercermin dari kebiasaan saling memintakan ampun kepada Allah untuk sesama muslim. Ia menegaskan, siapa pun yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang tidak memiliki penyakit hati.
Selain itu, ia mengingatkan jamaah untuk takut kepada neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan hewan. Menurutnya, orang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya justru akan masuk ke neraka lebih dulu daripada para penyembah berhala. “Tidak ada yang masuk neraka kecuali orang-orang yang paling celaka,” tegasnya.

Lora Ismail juga menjelaskan keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya nabi yang memintakan syafaat bagi seluruh umatnya.”Ketahuilah, Nabi Muhammad itu satu-satunya nabi yang memintakan syafaat untuk seluruh umatnya. Mulai dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Allah punya 100 rahmat, 99 ia simpan untuk akhirat, dan satu rahmat saja sudah cukup untuk seluruh makhluk hidup di dunia,” jelasnya.
Ilmu Ibarat Buruan yang Harus Diikat
Lora Ismail mengisahkan semangat Nabi Muhammad SAW yang tergesa-gesa saat menerima wahyu karena ingin segera menghafalkannya, sebagai bentuk kekhawatiran akan lupa. Kisah ini menjadi pengantar pesannya soal pentingnya mencatat ilmu.
Ia mengibaratkan ilmu seperti hewan buruan, sedangkan mencatat adalah cara mengikatnya. Menurutnya, pemburu harus mengikat kuat buruan yang telah ia dapat agar tidak kembali lepas. Meski ada pendapat yang menyebut mencatat tidak wajib bagi orang yang mampu menghafal, pendapat lain menegaskan ilmu tetap wajib dicatat. Lora Ismail turut menyinggung asal kata ta’alum dari kata ta’alaman.
Penulis: Farelnanda Ramadhani
Editor: Ragil Kukuh Imanto





