UNAIR NEWS – Menjadi perempuan kerap hadir dengan berbagai tuntutan. Mulai dari penampilan, sikap, hingga pilihan hidup. Tekanan tersebut dapat membuat seseorang membandingkan diri dan merasa belum cukup baik. Hal itu menjadi sorotan dalam kegiatan Herstory Talk Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga (UNAIR).
Kegiatan bertajuk Unapologetically Me: Knowing My Worth, Setting My Boundaries tersebut berlangsung di Aula Gedung A Fakultas Vokasi UNAIR, Selasa (8/9/2026). Herstory Talk menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta memahami pentingnya menetapkan boundaries.
Hadir sebagai narasumber, Valina Khiarin Nisa SPsi MSc Dosen Fakultas Psikologi UNAIR, serta Ni Luh Tasya P Tanaya dari Savy Amira Sahabat Perempuan. Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa internasional dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Tekanan Standar Sosial
Valina menjelaskan bahwa dalam ilmu psikologi, tekanan untuk menjadi sempurna dapat muncul melalui social comparison. Seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain berdasarkan standar yang terbentuk dari keluarga, lingkungan, hingga media sosial. Tasya juga menambahkan tekanan dapat muncul karena double standard atau standar ganda.
Media sosial dapat memperkuat anggapan tentang perempuan yang ideal. “Jangan sampai kita menggeneralisasi bahwa semua hal yang kita lihat, baik di dunia nyata maupun media sosial, adalah standar atau ukuran dalam hidup kita,” jelas Valina.
Ia mengajak mahasiswa untuk lebih mindful terhadap diri sendiri. Hal tersebut dapat dimulai dengan mengenali kemampuan dan hal baik yang telah dilakukan. Valina juga mendorong mahasiswa untuk berani mencoba pengalaman baru. Kompetisi dan berbagai aktivitas positif dapat menjadi ruang untuk membangun kepercayaan diri.
Komunikasi Asertif dalam Membangun Boundaries
Valina menjelaskan bahwa menetapkan batasan bukan berarti seseorang bersikap galak atau tidak peduli terhadap orang lain. Menurutnya, komunikasi asertif dapat menjadi pilihan untuk menyampaikan sebuah penolakan. Cara ini memungkinkan seseorang menyampaikan apa yang ia rasakan dan butuhkan secara jelas, tanpa harus menggunakan nada marah atau merendahkan orang lain.
Sementara itu, Tasya menambahkan bahwa kesulitan menetapkan boundaries dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. “Karena itu, keberanian berkata tidak menjadi bagian penting dalam menjaga diri dan membangun relasi yang sehat,” ujarnya.
Baginya, keberanian bersuara tidak dimulai dari berbicara kepada orang lain. Melainkan dapat dimulai dari kemampuan mengenali, menyadari, dan mengakui suara dalam diri sendiri.
“Having your own voice adalah menyuarakan suara kita tanpa mengurangi atau merebut suara orang lain,” pungkas Tasya.
Penulis: Vaneza ika Artamevia
Editor: Yulia Rohmawati





