Sidik jari selama ini identik dengan satu hal: identitas. Pola garis yang terdapat di ujung jari digunakan untuk memastikan apakah seseorang adalah orang yang dimaksud atau bukan. Di kepolisian, sidik jari menjadi salah satu bukti penting dalam penyelidikan. Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi biometrik bahkan membuat sidik jari digunakan untuk membuka telepon seluler, mengakses perangkat, hingga melakukan verifikasi identitas. Namun, di balik garis-garis kecil yang tampak sederhana itu ternyata tersimpan informasi biologis yang lebih luas.
Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti Universitas Airlangga bersama peneliti Universiti Sains Islam Malaysia menemukan bahwa kerapatan garis sidik jari dapat membantu memperkirakan jenis kelamin seseorang. Penelitian yang dilakukan pada populasi anak muda di Surabaya tersebut menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki garis sidik jari yang lebih rapat dibandingkan laki-laki.
Temuan ini menjadi menarik karena memperluas fungsi sidik jari dalam ilmu forensik. Sidik jari tidak hanya dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan “siapa orang ini?”, tetapi karakteristik tertentu dari sidik jari juga berpotensi membantu menjawab pertanyaan lain mengenai profil biologis seseorang. Penelitian tersebut berjudul Sexual Dimorphism in Fingerprint Ridge Density: A Study in Surabaya, Indonesia dan diterbitkan dalam World Journal of Advanced Research and Reviews pada 2026. Penelitian melibatkan 90 peserta berusia 17–21 tahun, terdiri atas 45 laki-laki dan 45 perempuan.
Ada satu istilah penting dalam penelitian ini, yakni fingerprint ridge density atau kerapatan garis sidik jari. Untuk memahaminya, bayangkan permukaan ujung jari sebagai sebuah bidang yang dipenuhi garis-garis kecil dan lembah di antara garis tersebut. Garis-garis yang menonjol inilah yang disebut friction ridges. Jumlah garis yang terdapat dalam suatu luas tertentu kemudian dapat dihitung untuk mengetahui kerapatannya.
Jadi, peneliti tidak hanya melihat apakah pola sidik jari seseorang berbentuk lingkaran, lengkung, atau pola lainnya. Mereka menghitung berapa banyak garis yang terdapat dalam area tertentu. Dalam penelitian di Surabaya, setiap sidik jari dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu bagian radial, ulnar, dan proksimal. Para peneliti kemudian menghitung jumlah garis pada area berukuran 5 × 5 milimeter atau 25 milimeter persegi. Seluruh sepuluh jari peserta diperiksa.
Pendekatan semacam ini bukan gagasan yang sepenuhnya baru. Penelitian tentang hubungan antara kerapatan garis sidik jari dan jenis kelamin telah berkembang sejak setidaknya akhir 1990-an. Salah satu penelitian penting dilakukan Mark A. Acree pada 1999 terhadap 400 individu. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa perempuan memiliki kerapatan garis yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Sejumlah penelitian setelahnya pada populasi India, Spanyol, Thailand, Argentina, Filipina, Malaysia, dan beberapa populasi lainnya menunjukkan kecenderungan serupa. Kajian literatur menyimpulkan bahwa perempuan pada banyak populasi memiliki garis sidik jari yang lebih halus sehingga lebih banyak garis dapat ditemukan dalam area yang sama.
Pada seluruh sepuluh jari yang diperiksa, perempuan memiliki rata-rata kerapatan garis lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Perbedaan tersebut secara statistik sangat signifikan, dengan nilai p kurang dari 0,001. Sebagai gambaran, pada ibu jari kanan, rata-rata kerapatan garis secara keseluruhan mencapai sekitar 14,77 garis per 25 milimeter persegi pada perempuan. Pada laki-laki, angkanya sekitar 12,19. Pola serupa juga terlihat pada jari-jari lainnya.
Jika disederhanakan, dalam populasi penelitian ini laki-laki umumnya menunjukkan kerapatan kurang dari sekitar 13 garis per 25 milimeter persegi, sedangkan perempuan lebih sering berada di atas 14 garis per 25 milimeter persegi. Namun, angka tersebut bukanlah batas mutlak yang berlaku bagi semua orang.
Menariknya, peneliti tidak berhenti pada perbandingan sederhana antara laki-laki dan perempuan. Mereka menggunakan analisis statistik untuk mencari kombinasi jari yang paling informatif. Dari sepuluh jari yang diperiksa, terdapat empat jari yang paling kuat dalam membedakan kedua kelompok tersebut: ibu jari kanan, telunjuk kanan, kelingking kanan, dan telunjuk kiri. Ibu jari kanan menjadi variabel yang memberikan kontribusi paling besar dalam model statistik, disusul tiga jari lainnya.
Para peneliti kemudian menyusun sebuah model matematis yang menggabungkan kerapatan garis pada empat jari tersebut. Hasilnya cukup menjanjikan. Ketika model diuji melalui cross-validation, tingkat klasifikasi yang benar mencapai 97,2 persen. Sementara pada kelompok peserta yang disiapkan khusus sebagai sampel pengujian, tingkat ketepatannya mencapai 94,4 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa kerapatan garis sidik jari memiliki potensi sebagai salah satu indikator dalam memperkirakan jenis kelamin.
Tetapi ada hal penting yang perlu digarisbawahi: 94,4 persen bukan berarti sidik jari dapat menentukan jenis kelamin dengan kepastian 94,4 persen pada setiap orang. Angka tersebut merupakan performa model pada kelompok dan kondisi penelitian tertentu. Dalam ilmu forensik, sebuah metode harus diuji pada populasi yang lebih luas sebelum dapat digunakan secara rutin sebagai alat bantu pemeriksaan.
Kerapatan sidik jari ternyata tidak sama di seluruh dunia. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya perbedaan nilai kerapatan antar-populasi. Kajian literatur bahkan menemukan variasi yang cukup besar antara populasi dari wilayah geografis dan latar belakang berbeda. Karena itu, rumus yang dikembangkan berdasarkan populasi Surabaya tidak boleh begitu saja diterapkan kepada seluruh penduduk Indonesia, apalagi kepada populasi negara lain.
Indonesia sendiri memiliki keragaman genetik dan demografis yang sangat besar. Apa yang berlaku pada kelompok anak muda di Surabaya belum tentu memberikan tingkat akurasi yang sama pada masyarakat di Papua, Kalimantan, Sumatra, atau wilayah lainnya.
Peneliti juga menyebutkan sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi kerapatan garis sidik jari, termasuk faktor genetik, lingkungan, usia, serta karakteristik populasi. Dengan kata lain, sidik jari memang memiliki pola biologis, tetapi pola tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks populasi tempat data tersebut diperoleh.
Potensi terbesar metode ini adalah sebagai informasi tambahan dalam proses identifikasi. Dalam kasus bencana massal, misalnya, korban dapat mengalami kerusakan tubuh sehingga pengenalan secara visual menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin. INTERPOL menyebut sidik jari, rekam gigi, dan DNA sebagai metode penting dalam proses identifikasi korban bencana.
Sidik jari sendiri memiliki posisi penting dalam investigasi forensik karena dapat digunakan untuk mengonfirmasi atau menyangkal identitas seseorang. Sistem identifikasi sidik jari otomatis juga telah digunakan untuk membandingkan data biometrik dalam skala besar.
Dalam situasi ketika identitas seseorang belum diketahui, informasi mengenai jenis kelamin dapat membantu mempersempit kemungkinan. Misalnya, ketika petugas hanya memiliki sidik jari yang ditemukan di lokasi tertentu, kerapatan garis dapat menjadi salah satu informasi tambahan bersama dengan bukti forensik lainnya. Namun, metode ini sebaiknya dipahami sebagai alat bantu, bukan pengganti metode identifikasi utama.
Penelitian di Surabaya memiliki beberapa keterbatasan yang penting diperhatikan. Pertama, jumlah peserta relatif kecil, yakni 90 orang. Kedua, seluruh peserta berusia 17–21 tahun. Artinya, hasil tersebut belum tentu menggambarkan kondisi kelompok usia yang lebih tua atau lebih muda. Ketiga, penelitian dilakukan pada populasi di Surabaya sehingga belum mewakili seluruh keragaman penduduk Indonesia.
Kualitas sidik jari juga dapat memengaruhi hasil. Penelitian menggunakan metode tinta sederhana, dan kondisi ujung jari seperti terlalu kering, terlalu basah, atau mengalami keausan dapat memengaruhi kejelasan cetakan serta proses penghitungan garis. Karena itu, para peneliti menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar, rentang usia lebih luas, serta populasi yang lebih beragam.
Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa sidik jari masih menyimpan banyak kemungkinan yang dapat dikembangkan dalam ilmu forensik. Selama puluhan tahun, masyarakat mengenal sidik jari terutama sebagai alat untuk menjawab pertanyaan tentang identitas. Kini, penelitian mengenai ridge density menunjukkan bahwa informasi dari sidik jari dapat dieksplorasi lebih jauh untuk memperoleh petunjuk mengenai karakteristik biologis seseorang.
Temuan di Surabaya memperlihatkan bahwa perempuan cenderung memiliki kerapatan garis sidik jari lebih tinggi daripada laki-laki dan empat jari tertentu dapat memberikan kontribusi kuat dalam model prediksi. Namun, ilmu forensik tidak bekerja dengan sekadar melihat angka yang tinggi. Sebuah metode harus melalui pengujian, validasi, dan standardisasi sebelum dapat dipercaya dalam praktik. Karena itu, penelitian ini bukanlah akhir dari cerita, melainkan salah satu langkah awal untuk membangun basis data kerapatan sidik jari yang lebih sesuai dengan karakteristik populasi Indonesia.
Pada akhirnya, garis-garis kecil di ujung jari yang selama ini kita anggap sebagai “tanda pengenal” ternyata mungkin menyimpan informasi biologis yang jauh lebih banyak. Tantangannya adalah bagaimana ilmu pengetahuan membaca informasi tersebut secara akurat—dan memastikan bahwa setiap kesimpulan yang dibuat tetap berdasarkan bukti, bukan sekadar asumsi.
Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D
Dikutip dari artikel jurnal berjudul: Sexual dimorphism in fingerprint ridge density: a study in Surabaya, Indonesia
Artikel dapat diakses melalui: https://doi.org/10.30574/wjarr.2026.31.3.2286





