UNAIR NEWS – Dua pasien serangan jantung yang mendapat obat dan dosis persis sama, belum tentu merasakan hasil yang sama. Perbedaan kecil dalam gen bisa menentukan apakah obat itu bekerja optimal, atau justru menyimpan risiko tersembunyi. Fakta inilah yang dibedah Assoc Prof Doreen Tan Su-Yin dari National University of Singapore (NUS) dan National University Heart Centre Singapore, dalam International Graduate Student Conference on Pharmaceutical Sciences (IGSCPS) 2026 yang digelar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR), Sabtu (19/9/2026).
Konferensi ini mempertemukan mahasiswa magister farmasi dari berbagai kampus, baik dari dalam negeri maupun mancanegara di lingkup ASEAN, dengan Prof Doreen tampil membawakan topik Implementing Precision Cardiovascular Pharmacotherapy in Southeast Asia: Opportunities and Challenges.

Kenapa Obat yang Sama Bisa Berbeda Hasil?
Prof Doreen mengawali paparannya dengan konsep precision health, pendekatan pengobatan yang tidak lagi menyamaratakan semua pasien. “Precision health pada dasarnya merupakan pendekatan pelayanan kesehatan yang tidak menerapkan pengobatan seragam bagi setiap individu. Pendekatan ini bertujuan untuk menentukan terapi yang tepat bagi individu yang tepat, pada waktu yang tepat,” jelasnya.
Pendekatan ini mempertimbangkan data genomik, riwayat digital dan klinis, gaya hidup, hingga faktor lingkungan dan keluarga. Ia mencontohkan sejumlah negara Asia, seperti Singapura lewat inisiatif SG100K, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, yang tengah aktif mendorong riset genomik masuk ke praktik klinis sehari-hari.
Bukan Cuma Soal Penyakit, tapi Juga Manusianya
Menurut Prof Doreen, cara pandang dunia medis kini bergeser, dari sekadar menangani penyakit, menjadi memahami pasien secara utuh “Kita tidak dapat hanya berfokus pada aspek penyakit. Faktor psikologis, sosial, keluarga, dan budaya juga perlu menjadi pertimbangan karena seluruh aspek tersebut dapat memengaruhi respons pasien terhadap pengobatan,” ujarnya.
Salah satu contoh konkretnya ada pada gen bernama CYP2C19. Sebagian pasien dengan varian gen ini ternyata tidak merespons baik terhadap Clopidogrel, obat pengencer darah yang umum diberikan pasca-serangan jantung. Alternatif seperti Ticagrelor atau Prasugrel memang lebih efektif menurunkan risiko serangan jantung berulang, namun berisiko meningkatkan pendarahan. Karena itu, penyesuaian dosis dan jenis obat berdasarkan profil genetik pasien menjadi krusial.
“Ini bukan lagi wacana. Di Singapura, penyesuaian obat berdasarkan gen sudah masuk praktik nasional sejak 2022. Setelah perjalanan panjang sejak uji coba pertama pada 2013,” kata Prof Doreen.
Mendampingi Pasien Jantung Pasca Pulang dari Rumah Sakit
Sebagai solusi atas kesenjangan layanan pasca-serangan jantung, Prof Doreen memperkenalkan program AMI-HOPE, program pendampingan yang oleh apoteker sejak pasien pulang dari rumah sakit. Program ini mencakup pemantauan tekanan darah mandiri lewat aplikasi, pengingat otomatis, konsultasi rutin secara daring, hingga rehabilitasi jantung virtual, sebelum akhirnya pasien diserahterimakan ke fasilitas kesehatan primer terdekat.
Kehadiran pakar kelas dunia seperti Prof Doreen dalam IGSCPS 2026 menegaskan posisi Fakultas Farmasi UNAIR sebagai simpul diskusi keilmuan farmasi tingkat regional. Sekaligus, membuka peluang kolaborasi riset lanjutan antara UNAIR dan jejaring akademisi ASEAN di bidang farmakoterapi dan kesehatan.
Penulis: Farelnanda Ramadhani
Editor: Ragil Kukuh Imanto





