Universitas Airlangga Official Website

Menjejak Pendidikan Australia, Alumni Psikologi UNAIR Perluas Wawasan Lewat Double Degree

Saraf Affifah Rizky, alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Foto: dok. pribadi)
Saraf Affifah Rizky, alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Foto: dok. pribadi)

UNAIR NEWS –Kesempatan menempuh pendidikan di Australia membawa Sarah Affifah Rizky pada pengalaman belajar yang berbeda dari perkuliahannya di Fakultas Psikologi  Universitas Airlangga (UNAIR). Alumni Fakultas Psikologi UNAIR tersebut mengikuti program Double Degree untuk memperluas wawasan akademik sekaligus mengenal pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa menerapkan teori psikologi dalam situasi nyata. 

Perluas Pengalaman Belajar melalui Double Degree

Dari sejumlah pilihan negara yang tersedia, Sarah akhirnya menjatuhkan pilihan pada Australia sebagai tujuan studi. Selain mempertimbangkan jarak, pengalaman sang ibu yang pernah menempuh pendidikan di Brisbane turut mempengaruhi keputusan Sarah untuk melanjutkan studinya di Australia. 

“Alasan ingin double degree karena aku ingin dapat ilmu yang lebih luas dan memperkaya pengalaman dalam praktik psikologi sendiri. Apalagi psikologi itu adalah ilmu yang terus berkembang, jadi aku terdorong untuk terus belajar dan belajar,” ujarnya.

Selama menjalani pendidikan di QUT, Sarah menemukan perbedaan metode pembelajaran yang melengkapi pengalaman akademiknya di UNAIR. Pembelajaran di UNAIR lebih menekankan pemahaman teori, critical thinking, dan analisis. Sementara itu, QUT lebih banyak menggunakan diskusi case study dan pembelajaran praktis untuk mengimplementasikan teori dalam situasi nyata.

“Di QUT saya merasa lebih banyak belajar mengimplementasikan teori dan ilmu yang sudah dipelajari ke dalam real scenario. Jadi, meskipun metode belajar di UNAIR dan QUT itu berbeda, keduanya bisa melengkapi satu sama lain,” jelasnya.

Belajar Mandiri dan Mengelola Waktu

Menempuh pendidikan jauh dari keluarga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Sarah. Selain beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga harus mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaan part-time untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup selama berada di Australia.

“Tantangannya lebih di mental sih kalau aku. Pertama karena jauh dari keluarga jadi kadang suka sepi dan kalau mau telepon pun juga perbedaan waktunya tiga jam. Kedua lebih ke time management,” ungkapnya.

Ia juga berusaha memanfaatkan waktu secara efektif dengan memprioritaskan kegiatan akademik pada hari kuliah serta menggunakan akhir pekan dan waktu luang untuk beristirahat. Pengalaman tersebut membuat Sarah belajar menjadi lebih mandiri dan memahami pentingnya pengelolaan waktu.

Setelah memperoleh gelar dari UNAIR dan QUT, Sarah berkomitmen untuk terus belajar dan mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya. Ia juga mengajak mahasiswa yang tertarik mengikuti IUP untuk berani keluar dari zona nyaman.

“Jangan terlalu takut atau overthink soal apakah kalian cukup mampu atau tidak. Kalau memang punya kesempatan, coba saja. Nikmati prosesnya, jangan terlalu fokus sama hasil, libatkan Allah terus, dan manfaatkan masa kuliah kalian sebaik mungkin,” pungkasnya.

Penulis: Katara Joy Kurniawan

Editor: Ragil Kukuh Imanto