Menjadi seorang ibu merupakan fase hidup yang penuh kebahagiaan, tetapi juga menyimpan tantangan fisik dan emosional yang tidak mudah. Perubahan hormon yang drastis, kelelahan fisik, hingga penyesuaian peran baru kerap membenturkan ibu pada kondisi stres. Di Indonesia, angka risiko depresi pascamelahirkan (postpartum depression) terhitung cukup memprihatinkan, yakni berkisar antara 57,4% hingga 65% berdasarkan instrumen Edinburgh Postpartum Depression Scale (EPDS). Kondisi ini tidak hanya mengganggu kesehatan mental sang ibu, tetapi juga memicu lonjakan hormon kortisol—hormon utama yang menandakan tingginya kadar stres dalam tubuh.
Lantas, bagaimana cara efektif membantu para ibu melewati masa rentan ini? Dari penelitian kami menunjukkan bahwa penggabungan latihan fisik ringan seperti yoga dan edukasi terstruktur dalam Kelas Ibu Nifas menjadi jawaban yang sangat menjanjikan. Gerakan lembut serta teknik pernapasan dalam yoga mampu merangsang sistem saraf relaksasi dan meredam keaktifan sistem hypothalamic-pituitary-adrenal(HPA) axis. Dampaknya, produksi hormon kortisol dalam darah dapat ditekan secara nyata. Di sisi lain, Kelas Ibu Nifas hadir sebagai ruang aman bagi ibu untuk mendapatkan informasi seputar perawatan diri dan bayi, sekaligus menjadi sarana dukungan sosial yang memangkas rasa kesepian.
Dari hasil penelitian kuasi-eksperimental yang berlangsung selama empat minggu pada ibu nifas berisiko depresi ringan. Dalam studi tersebut, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok kombinasi (yoga dan Kelas Ibu Nifas), kelompok Kelas Ibu Nifas saja, serta kelompok kontrol yang tidak menerima intervensi khusus.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat mendasar. Kelompok ibu yang mengikuti kombinasi yoga dan Kelas Ibu Nifas mengalami perbaikan paling menyeluruh, baik secara psikologis maupun biologis. Skor depresi EPDS mereka turun tajam dari median 11 menjadi 7 (), diikuti dengan penurunan kadar kortisol darah yang signifikan dari 9,41 menjadi 6,57 (). Sementara itu, kelompok yang hanya mendapatkan program Kelas Ibu Nifas memang mencatatkan penurunan skor depresi (), tetapi kadar hormon kortisolnya tidak menunjukkan perubahan biologis yang berarti (). Pada kelompok kontrol, kondisi psikologis maupun kadar kortisol peserta cenderung stabil tanpa adanya perbaikan.
Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan dukungan sosial saja belum cukup untuk meredakan stres biologis ibu. Dibutuhkan aktivitas fisik yang menenangkan seperti yoga untuk menyeimbangkan kembali kondisi hormon tubuh. Sinergi antara pemulihan fisik dan mental inilah yang menjadi kunci utama dalam menjaga kesejahteraan ibu pascamelahirkan.
Integrasi layanan yoga ke dalam Kelas Ibu Nifas di tingkat pelayanan kesehatan primer (seperti Puskesmas) patut didorong secara luas. Langkah preventif diharapkan dapat menurunkan kejadian stress pasca salin dan meningkatkan Kesehatan mental ibu nifas.
Artikel Jurnal Rujukan:
Menjadi seorang ibu merupakan fase hidup yang penuh kebahagiaan, tetapi juga menyimpan tantangan fisik dan emosional yang tidak mudah. Perubahan hormon yang drastis, kelelahan fisik, hingga penyesuaian peran baru kerap membenturkan ibu pada kondisi stres. Di Indonesia, angka risiko depresi pascamelahirkan (postpartum depression) terhitung cukup memprihatinkan, yakni berkisar antara 57,4% hingga 65% berdasarkan instrumen Edinburgh Postpartum Depression Scale (EPDS). Kondisi ini tidak hanya mengganggu kesehatan mental sang ibu, tetapi juga memicu lonjakan hormon kortisol—hormon utama yang menandakan tingginya kadar stres dalam tubuh.
Lantas, bagaimana cara efektif membantu para ibu melewati masa rentan ini? Dari penelitian kami menunjukkan bahwa penggabungan latihan fisik ringan seperti yoga dan edukasi terstruktur dalam Kelas Ibu Nifas menjadi jawaban yang sangat menjanjikan. Gerakan lembut serta teknik pernapasan dalam yoga mampu merangsang sistem saraf relaksasi dan meredam keaktifan sistem hypothalamic-pituitary-adrenal(HPA) axis. Dampaknya, produksi hormon kortisol dalam darah dapat ditekan secara nyata. Di sisi lain, Kelas Ibu Nifas hadir sebagai ruang aman bagi ibu untuk mendapatkan informasi seputar perawatan diri dan bayi, sekaligus menjadi sarana dukungan sosial yang memangkas rasa kesepian.
Dari hasil penelitian kuasi-eksperimental yang berlangsung selama empat minggu pada ibu nifas berisiko depresi ringan. Dalam studi tersebut, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok kombinasi (yoga dan Kelas Ibu Nifas), kelompok Kelas Ibu Nifas saja, serta kelompok kontrol yang tidak menerima intervensi khusus.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat mendasar. Kelompok ibu yang mengikuti kombinasi yoga dan Kelas Ibu Nifas mengalami perbaikan paling menyeluruh, baik secara psikologis maupun biologis. Skor depresi EPDS mereka turun tajam dari median 11 menjadi 7 (), diikuti dengan penurunan kadar kortisol darah yang signifikan dari 9,41 menjadi 6,57 (). Sementara itu, kelompok yang hanya mendapatkan program Kelas Ibu Nifas memang mencatatkan penurunan skor depresi (), tetapi kadar hormon kortisolnya tidak menunjukkan perubahan biologis yang berarti (). Pada kelompok kontrol, kondisi psikologis maupun kadar kortisol peserta cenderung stabil tanpa adanya perbaikan.
Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan dukungan sosial saja belum cukup untuk meredakan stres biologis ibu. Dibutuhkan aktivitas fisik yang menenangkan seperti yoga untuk menyeimbangkan kembali kondisi hormon tubuh. Sinergi antara pemulihan fisik dan mental inilah yang menjadi kunci utama dalam menjaga kesejahteraan ibu pascamelahirkan.
Integrasi layanan yoga ke dalam Kelas Ibu Nifas di tingkat pelayanan kesehatan primer (seperti Puskesmas) patut didorong secara luas. Langkah preventif diharapkan dapat menurunkan kejadian stress pasca salin dan meningkatkan Kesehatan mental ibu nifas.
Artikel Jurnal Rujukan:
- Judul Artikel Original:
Danistya, Z. A., Herawati, L., Kusumasari, H. A. R., Prasetyo, B., Nuzuliya Izza, S., & Azmi Mohamed, M. N. (2026). Integration of yoga exercise and educational postpartum class reduces cortisol level and depression score in mothers with postpartum depression risk. CHILD`S HEALTH, 21(1), 26–34. https://doi.org/10.22141/2224-0551.21.1.2026.1936- Link Akses Jurnal: https://doi.org/10.22141/2224-0551.21.1.2026.1936





