UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) lewat Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi menyelenggarakan Seminar Nasional ECCENTS ke-19 yang mengangkat tema “Indonesia Economic Outlook 2027: Navigating Uncertainty, Strengthening Resilience” pada Sabtu (26/9/2026) di Aula Soepoyo FEB UNAIR, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. Kegiatan tersebut turut menggandeng Ikatan Alumni FEB UNAIR (IKAFE UNAIR) untuk berbagi pemahaman kepada mahasiswa mengenai dinamika ekonomi nasional dan global.
Wakil Dekan I FEB UNAIR, Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi, menyebut bahwa ketidakstabilan ekonomi menuntut pentingnya kemampuan analisis terkait prospek ekonomi di tahun 2027 mendatang. Seolah tak cukup, hal seperti ketahanan ekonomi di sektor komersial hingga sosial perlu diamati dari sisi makro dan mikro secara holistik dan komprehensif.
“Mahasiswa saat ini tidak boleh teralihkan oleh hal-hal lain ketika melihat media sosial atau berbagai platform. Saya selalu mendorong mahasiswa untuk membaca berita ekonomi di kelas. Jadi, jangan sampai mahasiswa melewatkan informasi ekonomi setiap pagi,” ungkapnya.

Ketidakpastian Global Bayangi Prospek Ekonomi Indonesia 2027
Bayang-bayang ketidakpastian ekonomi, tidak terlepas dari kondisi perekonomian nasional dan global di era ini. Dr.rer.pol. Deniey Adi Purwanto, SE, MSE selaku anggota IKAFE UNAIR, mengungkapkan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2027 masih berada pada kisaran 2,8 persen menurut World Bank dan 3,4 persen menurut IMF. Kondisi tersebut bersumber dari tiga faktor ketidakpastian berupa energi, kebijakan moneter dan keuangan, serta perdagangan internasional.
“Kita menghadapi ketidakpastian yang bersumber dari tiga hal, yaitu energi, moneter dan keuangan, serta perdagangan internasional. Ketiganya perlu diperhatikan karena berdampak terhadap perekonomian Indonesia,” ujar peneliti senior INDEF itu.
Bagi negara dengan perekonomian terbuka seperti Indonesia, perubahan kondisi global berdampak secara signifikan pada stabilitas ekonomi domestik. Misalnya, saat terjadi guncangan energi yang meningkatkan harga impor dan biaya produksi. Maka, di kemudian hari akan berpengaruh pula terhadap inflasi, subsidi, hingga daya beli masyarakat.
Penguatan Industri dan SDM Jadi Kunci Hadapi Perubahan Ekonomi
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IKA UNAIR, Dr Indra Nur Fauzi SE MSi, menilai kemajuan suatu negara dengan takaran ekonomi besar bergantung pada kemampuan sektor manufakturnya. Ia menyebut konsumsi domestik Indonesia menjadi kekuatan yang perlu diimbangi melalui penguatan sektor manufaktur sebagai salah satu fondasi pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi masih menghadapi tantangan tersendiri dalam prosedur pengolahan menjadi produk bernilai tambah. Terlebih, otomatisasi dan teknologi semakin berkembang pesat di era modern ini. Oleh karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan analitis dari bidang fokus ilmu masing-masing. Melainkan, juga perlu membangun kolaborasi lintas jurusan, penguasaan data, keamanan siber, digitalisasi, dan otomatisasi guna menyesuaikan diri dengan perubahan dunia industri.
“Ilmu dan kreativitas tidak boleh berhenti. Kemampuan analitis sebagai mahasiswa ilmu ekonomi saja tidak cukup. Kita harus berkolaborasi dengan teman-teman dari jurusan lain karena industri dan ekonomi terus bergeser,” pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah P.I
Editor: Ragil Kukuh Imanto





