Anggota Tim Tam Production salah satu tim UNAIR yang lolos Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 kategori Video Digital Pendidikan (VDP) (foto: Tim Tam Production)

GETUN Bawa Tim UNAIR Lolos LIDM Lewat Film Kesehatan Mental

38 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Isu kesehatan mental remaja seringkali menjadi sesuatu yang luput dari perhatian. Lewat film pendek bertajuk Getun, tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) berupaya menghadirkan edukasi mengenai isu kesehatan mental yang berhasil lolos Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 kategori Video Digital Pendidikan (VDP). 

Tim yang bernama Tam Production tersebut terdiri atas Qonita Tsaniyah (FISIP), Achyarul Sapto Prabowo (FV), Allina Fiftiyani Nurjanah (FKM), dan Evlen Flowera Helmy Reza (FISIP). Tidak hanya mengedukasi, Qonita menyebut GETUN turut mengkampanyekan pentingnya komunikasi dua arah antara anak dan orang tua dengan pendekatan storytelling yang mudah siapa saja terima. 

“Karena kalau hanya dijelaskan lewat definisi atau teori, orang mungkin paham secara informasi, tapi belum tentu benar-benar bisa merasakan dampaknya. Oleh karena itu, kami memilih storytelling lewat film,” ungkapnya. 

GETUN, video pendek edukasi tentang kesehatan mental karya tim Tam Production UNAIR. GETUN lolos Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026 kategori Video Digital Pendidikan (VDP) (foto: Tim Tam Production)
Makna GETUN hingga Perjalanan Emosional

GETUN bercerita tentang penyesalan tokoh Ayah atas keterlambatannya menyadari tekanan batin yang selama ini Niken pikul selaku putrinya seorang diri. Bagi tim, jarak yang hadir antara hubungan anak dan orang tua adalah hal yang menarik untuk menjadi ide pokok sebuah karya. Meski telah bekerja keras dan berusaha memberikan yang terbaik, kesibukan orang tua terkadang membuat mereka lupa memperhatikan sisi emosional anak-anaknya. “Jadi kami ingin mengajak penonton melihat bahwa kasih sayang itu nggak selalu soal apa yang kita berikan. Tetapi juga soal apakah kita benar-benar hadir dan mau mendengarkan,” ujar Qonita. 

Alih-alih menyampaikan edukasi secara langsung, tim memilih untuk membangun ruang emosional dengan sejumlah pendekatan visual. Seperti, montage perubahan kondisi Niken, flashback masa lalu, POV slow shutter saat Niken mengalami panic attack, permainan fokus kamera, tata suara, hingga perubahan suasana visual. Sehingga, pesan tidak hanya hadir lewat dialog, tetapi juga dari bagaimana perasaan dan situasi penonton ketika menyaksikan film GETUN. 

“Pendekatan ini kami gunakan agar penonton dari berbagai sisi bisa ikut melakukan refleksi. Siswa belajar berani speak up, teman belajar lebih peka, sementara orang tua dapat melihat kembali komunikasi mereka dengan anak,” imbuhnya. 

Jangkau Masyarakat Lebih Luas 

Keunggulan GETUN hadir lewat cara tim menyampaikan edukasi melalui perjalanan emosional seorang Ayah. Posisi penonton bukan sekadar sebagai pihak yang menerima edukasi, melainkan juga terlibat mengamati tentang pengaruh bullying dan kesehatan mental terhadap hubungan orang tua dan anak.

“Penonton kami ajak melihat dari sudut pandang Ayah yang merasa sudah melakukan yang terbaik. Hingga menemukan diary Niken, menyadari hal-hal yang selama ini terlewatkan, dan akhirnya muncul rasa penyesalan,” jelasnya. 

Ke depan, rencananya GETUN Kn berkembang melalui program GETUN Goes to School. Buah karya tim Tam Production ini, akan diputar di sejumlah SMA Surabaya kemudian berlanjut dengan diskusi bersama siswa maupun guru BK. Tim juga berencana mengembangkan konten turunan melalui YouTube, Instagram, dan TikTok guna menjangkau masyarakat lebih luas lewat video edukasi mereka. “Harapan kami, GETUN bisa menjadi media yang membuat orang berhenti sebentar dan berpikir tentang bagaimana mereka memperlakukan atau mendengarkan orang-orang di sekitarnya,” pungkasnya.

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Ragil Kukuh Imanto

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .