UNAIR NEWS – Kesadaran akan tingginya timbulan limbah di sektor sandang mendorong mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) untuk menghadirkan inovasi bisnis yang berkelanjutan. Melalui gagasan ekosistem sirkular terintegrasi, tim Amba To Champs sukses menyabet gelar juara satu dalam Ecological Solutions for Sustainability (ESS) yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Lingkungan Hidup UNAIR pada Sabtu (26/9/2026).
Tim Amba To Champs yang merupakan kolaborasi mahasiswa lintas disiplin ilmu. Yaitu Senopathi Barathayuda (Teknik Informatika), Fernanda Adrio Farezi (Manajemen Perkantoran Digital), dan Virga Lintang Kirana (Teknik Industri).
Inovasi Terintegrasi
Gagasan ini berakar dari keprihatinan terhadap percepatan pola konsumsi masyarakat modern yang menghasilkan limbah tekstil dan sandang secara masif tanpa penanganan terpadu. Minat masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup berkelanjutan sering terhambat oleh pengelolaan yang rumit, transaksi individual yang tidak praktis, serta keraguan atas standar mutu barang bekas guna.
“Gagasan ini berakar dari keprihatinan kami terhadap percepatan pola konsumsi masyarakat modern. Padahal kemauan masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup bijak sering kali terhambat proses pengelolaan yang rumit dan transaksi yang tidak praktis,” ujar perwakilan tim, Fernanda.
Menjawab tantangan tersebut, tim Amba To Champs memosisikan inovasinya sebagai ekosistem sirkular terintegrasi yang menyederhanakan seluruh mata rantai layanan. Pendekatan inovatif ini mengombinasikan otomatisasi kurasi mutu secara cerdas, teknologi kepastian penggunaan yang menekan risiko ketidaksesuaian, hingga pemilahan alur guna ulang yang melibatkan pemberdayaan komunitas lokal secara terukur.
Sinergi Lintas Disiplin
Perbedaan latar belakang studi anggota tim di awal proses sempat melahirkan dinamika perdebatan. Namun, keanekaragaman sudut pandang tersebut justru menjadi kekuatan utama. Latar belakang teknik informatika, manajemen perkantoran digital, dan teknik industri dipadukan untuk memperkuat alur tata kelola operasional, proyeksi kelayakan finansial, hingga penyampaian visual dan pengalaman pengguna.
“Perbedaan prodi di awal sempat memicu dinamika sudut pandang. Namun, kami menyatukannya pada satu standar, yaitu menciptakan proposal yang tidak hanya logis secara konsep, tetapi juga solid saat diuji dari berbagai hal,” jelas Fernanda.
Taklukkan Tekanan UTS
Tantangan paling nyata selama kompetisi berada pada manajemen waktu dan ketahanan mental. Agenda final berlangsung di tengah padatnya persiapan Ujian Tengah Semester (UTS) serta tanggung jawab akademis lainnya.
“Tantangan paling nyata itu di manajemen waktu dan ketahanan mental, karena finalnya berbarengan dengan persiapan UTS. Apalagi di babak akhir kami harus berhadapan langsung dengan delegasi dari ITB dan UI yang punya rekam jejak riset serta artikulasi presentasi sangat kuat,” ungkapnya.
Rasa gentar tersebut diatasi dengan memusatkan fokus pada penguatan data pendukung, mematangkan antisipasi pertanyaan kritis dewan juri, serta menjaga ritme kerja tim. Perjuangan konsisten tersebut akhirnya berbuah manis dengan raihan juara satu.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Yulia Rohmawati
