Studi terhadap lebih dari 1.500 pasien lanjut usia di sebuah rumah sakit pendidikan di Surabaya mengungkap: semakin banyak jenis obat yang dibawa pulang, semakin besar peluang mereka harus kembali dirawat atau bolak-balik ke IGD.
Masalah yang Sering Luput dari Perhatian
Pernahkah Anda mendampingi orang tua atau kakek-nenek yang baru saja pulang dari rumah sakit, lalu dalam hitungan minggu harus kembali dirawat? Fenomena ini disebut readmisi atau perawatan inap ulang, dan ternyata cukup umum terjadi pada pasien lanjut usia (lansia).
Kondisi ini bukan sekadar merepotkan. Setiap kali pasien kembali dirawat atau mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD), ada biaya, tenaga, dan risiko tambahan yang harus ditanggung, baik oleh keluarga, rumah sakit, maupun sistem jaminan kesehatan nasional. Sayangnya, di Indonesia, penelitian yang menelusuri secara mendalam apa saja penyebabnya masih terbilang jarang.
Untuk menjawab kekosongan ini, tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga bersama sejawat lainnya melakukan penelusuran data rekam medis pasien lansia di salah satu rumah sakit di Surabaya, guna mencari tahu faktor-faktor apa saja yang membuat pasien lansia lebih rentan kembali ke rumah sakit setelah pulang.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Peneliti menelusuri catatan medis 1.533 pasien berusia 60 tahun ke atas yang pernah dirawat inap antara Juli 2018 hingga Oktober 2019. Semua pasien yang diikutkan dalam penelitian ini menggunakan setidaknya 5 jenis obat selama dirawat, sebuah kondisi yang dalam dunia medis disebut polifarmasi. Sederhananya, polifarmasi berarti “banyak obat sekaligus”. Semakin tua usia seseorang, umumnya semakin banyak pula penyakit kronis yang menyertai, sehingga jumlah obat yang harus dikonsumsi pun ikut bertambah. Masalahnya, tubuh lansia juga tidak lagi memproses obat secepat dan seefisien saat masih muda, sehingga risiko efek samping dan interaksi antar-obat menjadi lebih tinggi.
Peneliti kemudian memantau apakah pasien-pasien ini mengalami readmisi (dirawat inap kembali secara tidak terencana) atau kunjungan ke IGD, dalam dua rentang waktu: 30 hari dan 12 bulan setelah mereka pulang dari rumah sakit.
Apa yang Ditemukan?
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari seluruh pasien yang diamati:
- 18,4% kembali dirawat inap dalam 1 bulan setelah pulang, dan angka ini meningkat menjadi 29% dalam 1 tahun.
- 12,3% harus ke IGD dalam 1 bulan setelah pulang, dan 22,6% dalam 1 tahun.
- Rata-rata pasien dirawat selama sekitar 4 hari pada kunjungan awal mereka.
Artinya, hampir 1 dari 5 pasien lansia yang pulang dari rumah sakit akan kembali dirawat dalam waktu sebulan saja. Dalam setahun, angka itu naik menjadi hampir 1 dari 3 pasien.
Obat Banyak, Risiko Ikut Bertambah
Setelah dianalisis lebih mendalam, peneliti menemukan bahwa polifarmasi saat pasien pulang dari rumah sakit menjadi salah satu faktor paling konsisten yang meningkatkan risiko readmisi. Semakin banyak jenis obat yang dibawa pulang, semakin besar pula kemungkinan pasien harus kembali dirawat, baik dalam sebulan maupun setahun ke depan.
Bahkan, untuk risiko kunjungan IGD dalam jangka panjang (12 bulan), polifarmasi saat pulang tercatat sebagai faktor tunggal paling kuat yang memengaruhi. Ini menegaskan bahwa mengelola jumlah dan jenis obat pasien lansia sebelum mereka dipulangkan bukan sekadar formalitas administratif, melainkan langkah penting untuk mencegah komplikasi di kemudian hari.
Faktor Risiko Lain yang Perlu Diwaspadai
Selain polifarmasi, penelitian ini juga menemukan beberapa faktor lain yang berkaitan erat dengan tingginya risiko kembali ke rumah sakit, antara lain:
- Lama rawat inap 4 hingga 6 hari pada kunjungan sebelumnya.
- Riwayat penyakit berat seperti gagal jantung, kanker, penyakit ginjal, diabetes, dan rheumatoid arthritis, yang berkaitan dengan risiko readmisi.
- Usia sangat lanjut (85 tahun ke atas), penyakit hati, tukak lambung, dan gagal jantung, yang berkaitan dengan risiko kunjungan ke IGD.
Menariknya, peneliti juga menemukan beberapa hasil yang tidak terduga, di antaranya pasien dengan banyak penyakit penyerta (multimorbiditas) justru terlihat memiliki risiko readmisi jangka pendek yang lebih rendah pada beberapa analisis. Para peneliti menduga hal ini lebih mencerminkan karakteristik pasien atau pola rujukan rumah sakit tertentu, bukan berarti banyak penyakit justru memberi “perlindungan”. Temuan semacam ini perlu ditafsirkan secara hati-hati dan menjadi bahan penelitian lanjutan.
Apa Artinya Bagi Kita?
Bagi keluarga yang memiliki anggota lanjut usia, temuan ini menjadi pengingat penting: proses pemulangan pasien dari rumah sakit bukanlah akhir dari perawatan. Justru, periode setelah pulang adalah masa rawan yang membutuhkan perhatian ekstra, terutama terkait konsumsi obat.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan keluarga maupun tenaga kesehatan antara lain:
- Memastikan daftar obat yang dibawa pulang benar-benar diperlukan dan tidak ada duplikasi atau interaksi berbahaya antar-obat (evaluasi ini idealnya dilakukan oleh dokter dan apoteker sebelum pasien pulang).
- Membantu pasien lansia memahami cara, waktu, dan dosis minum obat yang benar.
- Memberi perhatian lebih pada pasien dengan riwayat penyakit berat atau yang dirawat cukup lama, karena mereka termasuk kelompok berisiko tinggi untuk kembali ke rumah sakit.
- Segera menghubungi fasilitas kesehatan bila muncul tanda-tanda perburukan kondisi, alih-alih menunggu hingga kondisi semakin parah.
Bagi rumah sakit dan tenaga kesehatan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi obat yang lebih cermat sebelum pasien lansia dipulangkan, sebagai salah satu upaya menekan angka readmisi dan kunjungan IGD yang sebenarnya bisa dicegah.
Batasan Penelitian
Seperti penelitian pada umumnya, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Data yang digunakan bersifat retrospektif (ditelusuri dari catatan masa lalu) dan hanya berasal dari satu rumah sakit di Surabaya, sehingga hasilnya belum tentu bisa mewakili kondisi seluruh lansia di Indonesia. Penelitian ini juga hanya melibatkan pasien yang menggunakan minimal 5 jenis obat, serta tidak mencakup pasien ICU atau pasien yang menjalani operasi.
Selain itu, data kunjungan ulang hanya tercatat jika pasien kembali ke rumah sakit yang sama. Ada kemungkinan angka readmisi maupun kunjungan IGD yang sebenarnya lebih tinggi, karena sebagian pasien mungkin berobat ke fasilitas kesehatan lain yang tidak terpantau dalam penelitian ini.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa beban pengobatan yang tinggi (polifarmasi) dan keparahan penyakit kronis menjadi dua hal utama yang mendorong tingginya angka lansia yang harus kembali ke rumah sakit setelah pulang berobat. Dengan mengenali faktor-faktor risiko ini lebih dini, dokter, apoteker, dan keluarga pasien dapat bekerja sama menyiapkan rencana pemulangan yang lebih matang, sehingga lansia bisa menjalani masa pemulihan di rumah dengan lebih aman dan tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit.
Penulis: Elida Zairina, S.Si., M.P.H., Apt., Ph.D.
Artikel populer ini disarikan dari hasil penelitian: Faisal, S., Zairina, E., Khan, F.U., Khotib, J., & Ahmad, T. (2026). A Retrospective Analysis of Factor Influencing Readmissions and Emergency Visits Post-discharge in Elderly Patients. SN Comprehensive Clinical Medicine, 8, 253. https://doi.org/10.1007/s42399-026-02507-4
