Animal Farm dan Revolusi Bolshevik

42 Views•7 minutes read

Karya sastra tidak muncul dari ruang yang kosong. Ia lahir bersamaan dengan konteks-konteks yang menyertainya. Karya sastra merupakan refleksi dari fenomena kemasyarakatan, sehingga tidak jarang menjadi rekaman bagi peristiwa sejarah. Contoh karya sastra berbentuk novel yang mengeksplorasi tema sejarah ditulis oleh George Orwell. Karya tersebut adalah novel yang berjudul Animal Farm.

Tokoh sentral yang terdapat pada novel Animal Farm, yaitu Jones, Old Major, Napoleon dan Snowball. Melalui pendekatan New Historicism, karya sastra dilihat sebagai objek budaya yang terlibat dalam diskursus kekuasaan dalam konteks historis tertentu.

Pendekatan New Historicism dalam kritik sastra merupakan respons terhadap keterbatasan pendekatan formalistik. Pendekatan ini menegaskan bahwa karya sastra tidak dapat dipisahkan dari konteks historis, budaya, dan sosio-politik di sekitarnya. Greenblatt (1980), menyatakan bahwa setiap karya sastra adalah produk budaya yang muncul dari dinamika sosial-politik pada zamannya.

Novel Animal Farm merupakan fabel politik yang menjadi alegori tentang Revolusi Bolshevik dan kebangkitan Stalin. Karakter-karakternya merupakan simbol transparan dari individu-individu historis. Alur ceritanya merupakan gambaran dari perjalanan sejarah Rusia dari Revolusi Bolshevik hingga Totalitarianisme dari Joseph Stalin. Pendapat ini diambil dari Esai yang ditulis oleh George Orwell dengan judul Why I Write (1946).

Dalam esai tersebut Orwell menulis “Every line of serious work that I have written since 1936 has been written, directly or indirectly, against totalitarianism and for democratic socialism.” Ini dapat menjadi gerbang untuk mengkaji Animal Farm melalui New Historicism karena Orwell sendiri menyatakan bahwa karya-karyanya baik langsung maupun tidak langsung adalah ungkapan perlawanan atas totalitarianism.

Dalam paragraf selanjutnya Orwell melanjutkannya dengan menulis “Animal Farm was the first book in which I tried, with full consciousness of what I was doing, to fuse political purpose and artistic purpose into one whole.” Orwell menyatakan bahwa Animal Farm merupakan buku pertama yang ia kerjakan dalam rangka memadukan tujuan politik dengan tujuan artistik menjadi satu.

Bukti lain adalah surat dari George Orwell yang dikirimkan kepada Dwight Macdonald (1946) yang berisi sebagai berikut: “Of course I intended it primarily as a satire on the Russian revolution.” Ini menjadi sangat jelas bahwa Animal Farm merupakan satir bagi Revolusi Rusia atau Revolusi Bolshevik.

Dari beberapa kutipan tersebut, kemudian dapat dibuat paralelisasi. Pertikaian antara Napoleon dan Snowball mewakili pertikaian antara Stalin dan Trotsky. Debat kincir angin dalam Animal Farm mewakili debat industrialisasi tahun 1920-an. Kesepakatan yang dijalin antara Napoleon dengan Frederick merupakan gambaran dari pakta antara Stalin dengan Hitler. Dengan cara ini, Animal Farm secara bersamaan merupakan alegori Revolusi Bolshevik di Rusia.

Pidato dari Old Major merupakan cerminan ide-ide kiri yang menentang eksploitasi dan penindasan brutal terhadap hewan di bawah kekuasaan manusia. Hal ini dimaksudkan untuk menyamai kritik Marx dan Lenin terhadap kapitalisme dan eksploitasi kelas proletar oleh kelas borjuis. Seperti yang dijelaskan pada kutipan data di bawah ini.

Why then do we continue in this miserable condition? Because nearly the whole of the produce of our labour is stolen from us by human beings. There, comrades, is the answer to all our problems. It is summed up in a single word-Man. Man is the only real enemy we have. (halaman 3 Tahun 2021).

Kutipan tersebut menggambarkan momen ketika Old Major melakukan pidato untuk memberikan pendidikan kesadaran kelas bagi hewan-hewan penghuni peternakan. Pidato Old Major berisi tentang kondisi menyedihkan para hewan ternak. Hasil kerja dari hewan-hewan ternak tidak kembali ke hewan-hewan sendiri melainkan hanya untuk kepentingan manusia. Ide-ide tersebut merupakan buah pemikiran dari Karl Marx, yaitu Marxisme yang kemudian menjadi bahan bakar revolusi bagi Lenin atau disebut dengan Marxisme-Leninisme.

Selanjutnya, Old Major menjelaskan bahwa segala sumber permasalahan yang dialami oleh hewan-hewan ternak berasal dari manusia. Berdasarkan ide-ide dari Marx dan Lenin, manusia dalam Animal Farm merupakan cerminan dari Kaum Borjuis penindas, sementara hewan-hewan peternakan merupakan Kaum Proletariat yang terhisap. Dengan begitu, Old Major dalam hal ini adalah Marx atau Lenin menginginkan pelenyapan dari manusia atau kelas borjuasi sehingga hewan-hewan dapat hidup bahagia tanpa mengalami penindasan.

The whole farm was deeply divided on the subject of the windmill. Snowball did not deny that to build it would be a difficult business. Stone would have to be carried and built up into walls, then the sails would have to be made and after that there would be need for dynamos and cables. (How these were to be procured, Snowball did not say.) But he maintained that it could all be done in a year. And thereafter, he declared, so much labour would be saved that the animals would only need to work three days a week. Napoleon, on the other hand, argued that the great need of the moment was to increase food production, and that if they wasted time on the windmill they would all starve to death. The animals formed themselves into two factions under the slogan, “Vote for Snowball and the three-day week” and “Vote for Napoleon and the full manger” (Halaman 25 Tahun 2001).

Data kutipan tersebut menunjukkan munculnya pembagian kubu atas ide pembuatan kincir angin yang diprakarsai oleh Snowball. Snowball berpendapat bahwa memang untuk membuat kincir angin perlu usaha yang ekstra, namun apabila kincir angin tersebut jadi, dapat meminimalisir pekerjaan bagi hewan-hewan sehingga hanya perlu bekerja tiga hari saja dalam seminggu. Sementara dari kubu Napoleon sendiri mengusulkan untuk menaikkan produksi makanan. Ia berpendapat bahwa pembuatan kincir angin hanya akan membuang-buang waktu dan hewan-hewan akan mati kelaparan apabila tidak meningkatkan produksi makanan. Hewan-hewan membentuk dua kubunya masing-masing dengan slogan “Dukung Snowball dengan tiga hari kerjanya” dan “Dukung Napoleon dengan palungan yang penuh makanan”.

Debat kincir angin dalam Animal Farm di atas mewakili debat industrialisasi tahun 1920-an. Debat tersebut memunculkan dua kubu antara kubu Leon Trotsky dengan Joseph Stalin. Perdebatan ini berpusat pada bagaimana cara mengubah Uni Soviet yang mayoritas berpenduduk petani menjadi negara industri modern demi mengamankan revolusi sosialis. Kubu Trotsky berpendapat bahwa industri berat harus segera dibangun untuk memperkuat pertahanan dan kemandirian ekonomi. Sementara kubu Stalin mendukung pertumbuhan ekonomi yang organik agar tidak membebani sektor pertanian.

At this there was a terrible baying sound outside, and nine enormous dogs wearing brass-studded collars came bounding into the barn. They dashed straight for Snowball, who only sprang from his place just in time to escape their snapping jaws. In a moment he was out of the door and they were after him. Too amazed and frightened to speak, all the animals crowded through the door to watch the chase. Snowball was racing across the long pasture that led to the road. He was running as only a pig can run, but the dogs were close on his heels. Suddenly he slipped and it seemed certain that they had him. Then he was up again, running faster than ever, then the dogs were gaining on him again. One of them all but closed his jaws on Snowball’s tail, but Snowball whisked it free just in time. Then he put on an extra spurt and, with a few inches to spare, slipped through a hole in the hedge and was seen no more (Halaman 27 Tahun 2001).

Data tersebut menunjukkan bagaimana Snowball diusir dari peternakan oleh Napoleon. Hal ini sejalan dengan bagaimana Trotsky diisolasi dan dikalahkan secara politik oleh Stalin. Mulai dari dikeluarkan dari Politbiro, dipecat dari Partai Bolshevik, diasingkan ke Kazakhstan, dan dideportasi keluar dari Uni Soviet.

Novel Animal Farm menghadirkan representasi tentang sejarah Rusia atau Uni Soviet. Melalui pendekatan New Historicism, karya ini tidak hanya menjadi teks fiksi semata, namun juga kisah dengan konteks sosio-historis Rusia atau Uni Soviet. Dalam representasi sejarah, novel ini menggambarkan peristiwa penting, seperti bagaimana ide-ide revolusi itu muncul, pertikaian antara Stalin dengan Trotsky, dan bagaimana revolusi berubah menjadi totalitarianisme. Revolusi menjadi totalitarianisme inilah yang dikritik oleh George Orwell berdasarkan artikelnya Why I Write dan suratnya yang dikirim kepada Dwight Macdonald (1946).

Novel Animal Farm mengkritik ide-ide Revolusi Bolshevik yang awalnya kolektif dengan tujuan kemakmuran bersama, berakhir dengan munculnya totalitarianisme. Kondisi di Uni Soviet pada akhirnya tidak beda dengan penguasa-penguasa sebelumnya. Inilah yang jarang dilihat dalam sejarah bahwa revolusi harus benar-benar dijaga dan menjadi komitmen bersama akan perubahan yang lebih baik. Sejarah tentang Revolusi Bolshevik sering kali hanya mengglorifikasi “people power” yang menggulingkan kekaisaran tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya apabila tujuan dari revolusi tidak dijaga.
Penulis: Muhamad Rohman Obet, Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top