Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Mencari Cara Mengatasi Kanker Tulang yang Kebal Kemoterapi

27 Views•3 minutes read

Osteosarkoma merupakan salah satu jenis kanker tulang yang banyak ditemukan pada anak dan remaja. Pengobatan biasanya dilakukan dengan kombinasi kemoterapi dan operasi. Meskipun pengobatan tersebut dapat meningkatkan peluang hidup pasien, sebagian sel kanker dapat menjadi kebal terhadap obat. Kondisi ini disebut resistensi kemoterapi dan menjadi salah satu tantangan utama dalam pengobatan osteosarkoma.

Salah satu penyebab resistensi adalah kemampuan sel kanker untuk mengeluarkan obat kemoterapi dari dalam sel. Protein yang berperan dalam proses ini dikenal sebagai P-glycoprotein (PGP). Ketika jumlah protein tersebut meningkat, obat seperti doxorubicin dapat lebih mudah dikeluarkan dari sel kanker sehingga efek pengobatannya berkurang. Selain itu, terdapat mekanisme lain yang membantu sel kanker bertahan hidup, salah satunya melalui jalur NF-κB.

Penelitian terbaru mencoba melihat apakah salinomycin dapat membantu mengatasi mekanisme tersebut. Salinomycin selama ini dikenal sebagai obat antikoksidiosis yang digunakan dalam industri peternakan. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa senyawa ini memiliki aktivitas terhadap berbagai jenis sel kanker. Dalam penelitian ini, para peneliti menguji pengaruh salinomycin pada sel osteosarkoma U2OS di laboratorium.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinomycin dapat menghambat pertumbuhan sel osteosarkoma. Konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghambat sekitar setengah viabilitas sel berada pada kisaran 0,011 µM. Namun, menariknya, efek salinomycin tidak hanya bergantung pada seberapa tinggi dosis yang diberikan.

Pada konsentrasi rendah, yaitu 0,005 µM, salinomycin secara bermakna menurunkan ekspresi gen NFKB1, yang berkaitan dengan jalur NF-κB. Ekspresi ACBC1, yang berkaitan dengan P-glycoprotein dan mekanisme pengeluaran obat dari sel, juga sedikit menurun. Sebaliknya, ketika konsentrasi salinomycin dinaikkan menjadi 0,0125 µM, ekspresi NFKB1 justru meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa respons sel terhadap salinomycin dapat berubah sesuai dosis yang diberikan.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa dosis rendah dan dosis tinggi salinomycin mungkin memiliki efek yang berbeda. Dosis rendah berpotensi memengaruhi mekanisme yang berkaitan dengan resistensi, sedangkan dosis lebih tinggi terutama menyebabkan penurunan jumlah sel kanker. Namun, penelitian ini masih dilakukan pada satu jenis sel kanker di laboratorium dan baru menilai perubahan pada tingkat RNA.

Karena itu, salinomycin belum dapat dianggap sebagai pengobatan kanker tulang. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efeknya pada tingkat protein, menguji fungsi pengeluaran obat dari sel, menggunakan model kanker lainnya, serta melihat efektivitasnya pada hewan dan akhirnya pada manusia. Penelitian kombinasi salinomycin dengan doxorubicin juga diperlukan untuk mengetahui apakah senyawa tersebut benar-benar dapat membantu mengatasi resistensi kemoterapi.

Penulis: Onarisa Ayu, Muhammad Rusda, Rosita Juwita Sembiring, Iqbal Pahlevi Adeputra Nasution, Ferdiansyah Mahyudin, Mustafa Mahmud Amin, Hotma Partogi Pasaribu, Tina Christina Lumban Tobing

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://journal2.upgris.ac.id/index.php/asset/article/view/2447/1582            

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top