Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Rahasia Daun Salam Koja: Mengakselerasi Penyembuhan Luka Melalui Pendekatan Histopatologi dan Pemodelan Komputer

22 Views•4 minutes read

Luka pada kulit, baik akibat cedera maupun tindakan bedah, membutuhkan proses pemulihan yang kompleks. Tubuh harus melewati berbagai fase terkoordinasi, mulai dari penghentian pendarahan, peradangan (inflamasi), pembentukan jaringan baru (proliferasi), hingga pematangan jaringan (remodeling). Ketika proses ini terhambat, penyembuhan luka dapat berlangsung lama dan memicu komplikasi.

Di tengah pencarian terapi berbasis bahan alam yang aman dan efektif, tanaman Murraya koenigii—atau yang lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai daun salam koja (daun kari)—menarik perhatian para peneliti. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Kafkas Universitesi Veteriner Fakultesi Dergisi (2026) oleh tim peneliti multidisiplin dari Universitas Airlangga bersama institusi mitra berhasil mengungkap potensi besar ekstrak daun salam koja dalam mempercepat penyembuhan luka eksisi pada tikus.

Menguji Khasiat Salep Daun Salam Koja

Penelitian ini melibatkan 50 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan yang dibagi ke dalam lima kelompok eksperimen: Kelompok Kontrol Normal (CN): Tikus sehat tanpa luka sebagai tolok ukur fisiologis, Kelompok Kontrol Positif (CP): Luka diberi salep standar klinis (Bioplacenton), Kelompok Perlakuan (T1, T2, T3): Luka diberi salep ekstrak daun salam koja dengan konsentrasi masing-masing 10%, 20%, dan 40%.

Seluruh tikus dibuatkan luka eksisi melingkar berdiameter 1 cm pada bagian punggung. Salep dioleskan dua kali sehari selama 14 hari berturut-turut, lalu jaringan kulit diambil pada hari ke-15 untuk dianalisis secara histopatologi mikroskopis dengan sistem skoring terstandar SPOT (re-epithelialization, epithelial thickness index, keratinization, granulation thickness, remodeling, dan scar elevation index).

Hasil Mikroskopis: Dosis Tinggi, Hasil Maksimal

Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan dengan efek perlakuan yang sangat kuat. Secara mikroskopis, salep ekstrak daun salam koja konsentrasi 40% (T3) memberikan hasil perbaikan struktur kulit yang paling menakjubkan:

  • Penutupan Epitel Sempurna (Re-epithelialization): Lapisan terluar kulit (epidermis) tumbuh menyambung secara utuh dan matang, menyerupai kondisi kulit normal.
  • Jaringan Granulasi Padat: Terjadi pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) serta peningkatan kepadatan sel fibroblas yang bertugas memproduksi serat kolagen.
  • Remodeling Jaringan Optimal: Serat-serat kolagen tersusun lebih tebal, rapi, dan padat, diiringi dengan menurunnya jumlah sel-sel peradangan pada area luka.

Kualitas penyembuhan luka pada kelompok salep 40% ini terbukti setara dengan kontrol positif medis (Bioplacenton), serta jauh lebih unggul dibandingkan kelompok dengan konsentrasi ekstrak yang lebih rendah (10% dan 20%).

Menyingkap Jalur Molekuler Lewat Simulasi Komputer

Tidak berhenti pada pengamatan struktur jaringan kulit, para peneliti juga memanfaatkan teknologi simulasi komputer (in silico) melalui metode molecular docking untuk memprediksi mekanisme molekuler di balik khasiat daun ini.

Fokus analisis komputer tertuju pada senyawa alkaloid karbazol utama dalam daun salam koja, yaitu mahanine, mahanimbine, dan mahanimbicine. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa ketiga senyawa aktif tersebut memiliki ikatan energi yang sangat stabil terhadap dua target protein penting dalam tubuh:

Inhibisi FAAH (Fatty Acid Amide Hydrolase): FAAH adalah enzim yang memecah endokannabinoid (molekul penenang alami tubuh). Senyawa mahanine menunjukkan daya hambat tertinggi terhadap FAAH. Penghambatan enzim ini berpotensi meningkatkan kadar endokannabinoid lokal, yang berdampak pada meredanya inflamasi berlebihan dan terpacunya migrasi sel keratinosit untuk menutup luka.

Inhibisi GSK3β (Glycogen Synthase Kinase-3 Beta): GSK3β merupakan saklar pengatur jalur sinyal Wntβ-catenin. Dengan terhambatnya GSK3β oleh alkaloid karbazol, jalur regenerasi sel teraktivasi. Hal ini memicu proliferasi fibroblas, sintesis kolagen, dan pembentukan pembuluh darah baru secara masif.

Masa Depan Herbal Berbasis Bukti Ilmiah

Penelitian kolaboratif ini berhasil menjembatani pengamatan fisik jaringan (in vivo) dengan prediksi interaksi molekuler (in silico). Kombinasi sifat anti-inflamasi dan kemampuan memicu regenerasi jaringan menjadikan ekstrak Murraya koenigii sebagai kandidat kuat bahan terapeutik herbal untuk perawatan luka di masa depan.

Meskipun masih memerlukan uji klinis lanjutan dan konfirmasi eksperimental laboratorium untuk membuktikan interaksi enzimatis tersebut secara langsung, temuan ini memberikan dasar ilmiah yang kokoh bahwa tanaman obat tradisional Indonesia memiliki potensi besar dalam dunia kedokteran modern.

Penulis: Lita Rakhma Yustinasari, drh., M.Vet., Ph.D.

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/histopathological-evaluation-and-computer-aided-mechanistic-predi/

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top