UNAIR NEWS – Filosofi budaya Madura menjadi dasar inovasi tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) dalam merancang media pembinaan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH). Melalui BENGKO! serious board game yang menyimulasikan permasalahan sosial, Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin, Kesya Azka Najhan, dan Zidane Laudza’i Ghazam berhasil meraih juara II dalam Sociology and Anthropology National Essay Competition (SANEC) 2026. Kompetisi tersebut berlangsung pada Sabtu (3/10/2026) di Universitas Negeri Semarang.
Gagasan tersebut menawarkan pendekatan pembinaan yang mengintegrasikan kearifan lokal untuk membantu anak membangun resiliensi atau ketahanan diri sebagai bekal kembali ke masyarakat.
Filosofi Madura jadi Dasar Pembinaan
Zidane menjelaskan bahwa tim mengangkat persoalan residivisme atau pengulangan tindak pidana serta kebutuhan pembinaan yang mempertimbangkan latar budaya anak. Mereka menilai, pendekatan yang kontekstual dapat membantu anak memahami nilai moral dan dukungan sosial melalui budaya yang dekat dengan kehidupannya.
BENGKO! mengadaptasi filosofi Bhuppa’ Bhabhu’ Ghuru Rato sebagai representasi dukungan orang tua, guru, dan tokoh masyarakat. Sementara itu, Baburughan Becce’ menjadi dasar kartu berisi petuah moral. Tim juga memasukkan skenario krisis, seperti ajakan mencuri kendaraan bermotor dan tekanan teman sebaya, untuk melatih pemain menghadapi dilema melalui sumber daya dukungan yang tersedia.
“Budaya itu bukan hanya sebagai dekorasi atau muatan-muatan estetik saja, tetapi juga aplikatif dan bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah pendidikan ketahanan anak terhadap residivisme,” ujarnya.
Simulasikan Dilema Sosial Lewat Permainan
BENGKO! dirancang dengan skenario yang dekat dengan persoalan sosial. Seperti ajakan mencuri kendaraan bermotor, tekanan lingkungan pergaulan, hingga konflik yang berpotensi memicu kekerasan. Melalui skenario tersebut, tim mengajak pemain mempertimbangkan pilihan tindakan dengan memanfaatkan kartu dukungan yang tersedia. Permainan ini tidak berorientasi pada menang atau kalah, melainkan proses menghadapi masalah dan menentukan keputusan.
Zidane juga menjelaskan, tim memilih board game konvensional agar media pembinaan tidak bergantung pada akses terhadap perangkat digital. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi pembeda dari inovasi lain yang menggabungkan teknologi dengan budaya.
“Tidak semua masalah bisa diselesaikan pakai aplikasi. Aplikasi juga tidak semuanya bisa diakses dan belum tentu murah diproduksi,” ungkapnya.
Meski demikian, BENGKO! masih berada pada tahap prototipe dan belum teruji langsung kepada ABH. Tim berencana memvalidasi rancangan permainan bersama ahli budaya, tokoh masyarakat, pekerja sosial, psikolog, dan perancang permainan sebelum melakukan uji coba terbatas. Jika tahapan tersebut berjalan sesuai rencana, mereka menargetkan pengembangan lebih lanjut bersama lembaga pembinaan.
Penulis: Katara Joy Kurniawan
Editor: Yulia Rohmawati
