Bersama KBRI Warsawa, Mahasiswa UNAIR Kenalkan Budaya Nusantara di Polandia

15 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Dua mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Warsawa berpartisipasi dalam Internasional Picnic di SGH Warsaw School of Economics pada Jumat (16/10/2026). Mereka adalah Yesica Pitaloka Nugroho dan Timoty Daniel Sianturi. Mereka mengikuti kegiatan tersebut di sela-sela program student exchange di Gdansk University, sekaligus bagian dari kegiatan magang di KBRI Warsawa, Polandia. 

Yesica menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka bersama KBRI menjadi momentum berharga untuk memperkenalkan budaya Indonesia serta menjalin interaksi dengan komunitas internasional. Menurutnya, interaksi sederhana dalam kegiatan lintas budaya dapat membuka wawasan baru. Selain itu, juga untuk embangun ketertarikan terhadap Indonesia, serta menjadi bentuk diplomasi budaya yang bermakna.

“Buat kami, pengalaman student exchange bukan hanya terpaku dengan pelajaran di dalam kelas. Tetapi juga bagaimana kita bisa mengambil kesempatan untuk belajar dari lingkungan internasional dan berkontribusi dalam memperkenalkan Indonesia ke dalam skala yang lebih luas,” ungkap Yesica.

Yesica menyebut kehadiran stan Indonesia yang hadir bersama KBRI Warsawa berhasil menyedot perhatian besar dari civitas academica SGH Warsaw School of Economics serta pengunjung internasional lainnya. Indonesia menjadi satu-satunya negara peserta yang menyajikan pertunjukan seni tari tradisional secara langsung di hadapan para pengunjung.

“Penampilan tari tradisional Indonesia menjadi daya tarik tersendiri karena Indonesia merupakan satu-satunya negara peserta yang menghadirkan pertunjukan tari tradisional dalam acara tersebut,” jelasnya.

Yesica Pitaloka Nugroho dan Timoty Daniel Sianturi saat memperkenalkan Indonesia pada International Picnic di SGH Warsaw School of Economics (Foto: Dok. Yesica)

Selain memukau lewat Tari Topeng Kelana khas Cirebon, stan Indonesia juga memanjakan pengunjung dengan aneka jajanan kuliner Nusantara. Makanan dan minuman tradisional seperti bakso, cendol, lemper, pukis, hingga pastel ludes diserbu pengunjung yang rela mengantre. “Banyak dari mereka yang rela mengantri ulang demi bisa mencicipi rasa bakso dan cendol yang disajikan oleh KBRI Warsaw,” imbuhnya.

Tak hanya kuliner dan seni pertunjukan, Yesica dan Timoty juga aktif mempromosikan warisan budaya Nusantara seperti batik, wayang, Candi Borobudur, serta keindahan destinasi wisata di luar Bali. Yesica menceritakan bahwa ada momen unik saat perwakilan negara lain menemukan kemiripan antara kuliner dan seni Indonesia dengan budaya mereka.

“Perwakilan dari Peru sempat terkejut karena snack tradisional pastel sangat mirip dengan empanada milik mereka. Sementara perwakilan dari Cina melihat kemiripan pada wayang golek,” paparnya.

Bagi keduanya, pengalaman berharga ini membuktikan bahwa peran diplomasi budaya dapat dilakukan oleh siapa saja. Termasuk para mahasiswa yang sedang menempuh studi di luar negeri. Ia berharap keterlibatannya dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus bangga dan aktif membawa identitas bangsa ke ranah global.

“Semoga masyarakat internasional dapat mengenal keberagaman budaya Indonesia secara lebih luas, sekaligus menjadikan kuliner, seni, dan pariwisata sebagai sarana diplomasi budaya untuk mempererat hubungan serta meningkatkan pemahaman antarbangsa,” pesannya.

Penulis: Putri Andini

Editor: Yulia Rohmawati

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top