UNAIR NEWS – Webinar internasional menjadi rangkaian puncak dari kegiatan Public Health Innovative Competition (PHIC) 2026 pada Minggu (18/10/2026). Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakannya secara hibrida melalui Zoom Meeting dan luring di Aula Soemarto FKM Kampus Merr-C.
Webinar tersebut menghadirkan Ts Arvind Bala Krishnan dari Universiti Kuala Lumpur Institute of Medical Science Technology, Malaysia, secara daring. Berbeda dari narasumber sebelumnya, ia mengajak peserta melihat kebiasaan hidup mereka sendiri.
Budaya Begadang dan Senjata Digital Melawan Diabetes
Arvind membuka dengan menyebutkan kesamaan budaya warung mamak di Malaysia dan angkringan di Indonesia. Keduanya memperlihatkan kebiasaan masyarakat senang berkumpul hingga larut malam.
“Budaya kuliner kita lezat, tetapi harga kesehatannya sangat mahal. Kemudahan layanan antar makanan 24 jam juga turut memperparah kebiasaan makan larut malam,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa penyakit metabolik bekerja dalam senyap. Diabetes mampu merusak tubuh bertahun-tahun tanpa memberikan gejala. Ketika sudah menyebar, munculah tanda kebutaan, gagal ginjal, hingga stroke.
Ia memperkenalkan DR MATA, kamera retina berbasis kecerdasan buatan hasil kolaborasi Kementerian Kesehatan Malaysia dan perusahaan swasta. “Perangkat lunak ini menempel pada kamera fundus yang sudah ada dan mengenali retinopati diabetik dalam 30 sampai 60 detik,” ungkapnya.
Uji Kelayakan dan Kemitraan sebagai Kunci
Avind memberi pertanyaan kritis kepada peserta, mengapa obesitas dan diabetes tetap meningkat padahal teknologi seperti jam tangan pintar menjamur. Ia menyampaikan bahwa hal ini terjadi karena masih terdapat kesenjangan digital.
“Melihat kasus Malaysia, lebih dari 95 persen warganya memakai internet, tetapi hanya 6,3 persen orang dewasa memanfaatkan layanan kesehatan daring,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa kemudahan teknologi seperti aplikasi kesehatan harus lulus uji kelayakan terutama pada lansia. Hal ini akan mampu membuat lansia dan generasi muda di desa bisa mudah menggunakannya.
Ia juga mengingatkan tiga persoalan lain. “Permasalahannya, perusahaan asuransi bisa menyalahgunakan data pribadi, algoritma belajar dari menu dan tubuh orang Barat, dan aturan alat medis masih tertinggal dari perkembangan teknologi,” paparnya.
Untuk itu, ia menawarkan satu solusi. “Kesehatan digital hanya 20 persen teknologi dan 80 persen kemitraan,” ujarnya.
Dalam tawarannya, semua tenaga kesehatan harus berkolaborasi. Dokter, pengembang, universitas, komunitas termasuk relawan dan kader posyandu harus bergerak bersama dalam mengatasi permasalahan.
Pada akhir sesi, ia mengajak mahasiswa dan dosen UNAIR untuk berkolaborasi dalam riset dan pertukaran pelajar. “Gawai tidak mengubah gaya hidup, ekosistem-lah yang mengubahnya,” pungkasnya.
Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia
