Tim PPK Ormawa UNAIR menerima penghargaan sebagai Tim Pelaksana Terbaik 2 pada ajang Abdidaya Ormawa 2026 (Foto : IMERCY X BEM FPK).

Lewat Inovasi Budidaya Kepiting, Tim IMERCY dan BEM FPK UNAIR Raih Terbaik 2 di Abdidaya Ormawa 2026

63 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS –  Tim PPK Ormawa Universitas Airlangga (UNAIR) yakni IMERCY bersama BEM FPK berhasil meraih prestasi menjadi Tim Pelaksana Terbaik 2 kategori Tim dengan Program Paling Inovatif dalam ajang Abdidaya Ormawa 2026. Capaian tersebut mereka raih pada Sabtu (24/10/2026) di Universitas Muslim Indonesia, Makassar. 

Prestasi tersebut mereka dapatkan berkat keberhasilan implementasi program SIGAP (Sistem Terintegrasi Budidaya Kepiting Bakau Berbasis RAS, IoT, dan Energi Surya) di Desa Tanjangawan, Gresik. Mereka melakukan implementasi inovasi teknologi pada sektor budidaya perikanan.

Pemasangan teknologi Vertical Crab House (VCH)  di Desa Tanjangawan, Gresik (Foto : IMERCY dan BEM FPK UNAIR).
Pemasangan teknologi Vertical Crab House (VCH) di Desa Tanjangawan, Gresik (Foto : IMERCY dan BEM FPK UNAIR).
Keberhasilan Program SIGAP 

Ketua tim SIGAP, Akiqotus Syahriyah, menjelaskan bahwa penerapan program SIGAP telah melaksanakan tahap evaluasi dan penyempurnaan sistem. Teknologi Vertical Crab House (VCH) terbukti mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau secara signifikan. 

“Program SIGAP yang diterapkan mampu meningkatkan survival rate kepiting bakau dari 50 persen menjadi 78 persen. Selain itu, penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) juga terbukti dapat memangkas biaya listrik hingga 36 persen per bulan,” ujarnya. 

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa pemantauan kondisi budidaya kepiting bakau sudah tidak lagi berlangsung secara konvensional, namun melalui aplikasi. “Pemantauan kualitas air kini dapat dilakukan secara real-time melalui aplikasi SIGApp, sehingga para pembudidaya bisa langsung mengambil tindakan preventif,” ungkapnya.

Foto bersama IMERCY dan BEM FPK bersama masyarakat Desa Tanjangawan, Gresik dalam pelaksanaan program SIGAP (Foto : IMERCY dan BEM FPK UNAIR).
Foto bersama IMERCY dan BEM FPK bersama masyarakat Desa Tanjangawan, Gresik dalam pelaksanaan program SIGAP (Foto : IMERCY dan BEM FPK UNAIR).
Bentuk Kelompok Smart Crab Farming

Anggota tim SIGAP, Emanuel Yudhistira, menambahkan bahwa penguatan keberlanjutan program melalui pembentukan kelompok Smart Crab Farming. Kelompok ini terbagi dalam empat divisi dan telah memiliki legitimasi resmi melalui Surat Keputusan (SK) dari Kepala Desa Tanjangawan.

“Masyarakat kini sudah mampu mengoperasikan sistem, membuat pakan, dan merawat peralatan secara mandiri meskipun tanpa pendampingan dari kami. Berdasarkan hasil evaluasi akhir, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program SIGAP telah mencapai 85 persen,” katanya. 

Melalui Abdidaya Ormawa 2026, tim berharap program SIGAP dapat berlanjut ke skema program pengembangan PPK Ormawa agar jangkauan manfaatnya bisa meluas ke wilayah lain. 

“Harapannya, program SIGAP dapat mengatasi kendala kesulitan benih kepiting bakau dan solusi budidaya berkelanjutan. Tidak hanya itu, keterampilan masyarakat dan perekonomian Desa Tanjangawan juga diharapkan dapat meningkat,” pungkasnya.

Penulis : Maulya Afifah Zahra 

Editor : Ragil Kukuh Imanto 

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top