Tanaman obat seperti Brotowali (Tinospora cordifolia) dan Sambung Nyawa (Gynura procumbens) telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia karena mengandung berbagai senyawa alami yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan. Namun, kualitas tanaman obat ternyata tidak hanya ditentukan oleh tanaman itu sendiri. Di dalam jaringan tanaman hidup komunitas bakteri yang dapat berinteraksi dengan tanaman dan mungkin ikut memengaruhi pembentukan senyawa bioaktif pada tanaman. Penelitian ini menggabungkan teknologi metagenomik dan metabolomik untuk mempelajari hubungan antara bakteri dan senyawa kimia pada kedua tanaman obat Indonesia tersebut.
Peneliti dari Departemen Biologi, Universitas Airlangga, membandingkan tanaman yang tumbuh secara liar di hutan Mojokerto dengan tanaman yang dibudidayakan di Taman Husada, Surabaya. Mereka mengambil sampel akar dan daun, kemudian mempelajari komunitas bakteri yang hidup di dalam jaringan tanaman. Hasilnya menunjukkan bahwa daun dan akar memiliki komunitas bakteri yang berbeda. Proteobacteria merupakan kelompok bakteri yang dominan di daun, tetapi akar umumnya memiliki komunitas yang lebih beragam. Pada akar ditemukan pula kelompok bakteri seperti Actinobacteria, Firmicutes, Acidobacteria, Bacteroidetes, dan Chloroflexi. Perbedaan juga terlihat antara tanaman liar dan tanaman budidaya. Pada T. cordifolia, misalnya, daun tanaman liar memiliki banyak Cyanobacteria, sedangkan daun tanaman budidaya lebih didominasi Proteobacteria. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan tempat tanaman tumbuh dapat memengaruhi mikroorganisme yang bersimbiosis dengan tanaman. Akar yang berada langsung di lingkungan tanah tampaknya menyediakan habitat yang lebih kompleks bagi berbagai jenis bakteri.
Perbedaan serupa juga terlihat pada komposis metabolit tanaman. Pada T. cordifolia, sebanyak 482 metabolit menunjukkan perbedaan konsentrasi antara daun tanaman liar dan tanaman budidaya. Beberapa senyawa meningkat pada tanaman liar, termasuk turmerone, sementara cinnamic acid mengalami penurunan. Pada G. procumbens, perbedaan metabolit lebih terlihat pada akar. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dan bagian tanaman juga dapat memengaruhi “profil kimia” tanaman obat.
Penelitian juga menemukan adanya hubungan antara bakteri tertentu dan metabolit tanaman. Beberapa senyawa berkorelasi positif dengan Actinobacteria dan Chloroflexi, sedangkan senyawa lain berkorelasi negatif dengan kelompok bakteri tertentu. Hubungan ini belum membuktikan bahwa bakteri secara langsung menghasilkan atau mengubah senyawa tersebut, tetapi menunjukkan adanya interaksi kompleks antara tanaman, mikroba, dan lingkungan.
Temuan ini penting bagi pengembangan tanaman obat. Jika kita ingin menghasilkan bahan herbal dengan kualitas dan kandungan senyawa bioaktif yang konsisten, perhatian tidak cukup hanya diberikan kepada pertumbuhan tanaman. Mikroba yang hidup bersama tanaman dan kondisi lingkungan tempat tanaman dibudidayakan juga perlu diperhatikan. Penelitian ini membuka peluang untuk mengembangkan budidaya tanaman obat yang lebih terarah, misalnya dengan memanfaatkan mikroba yang mendukung produksi senyawa bioaktif tertentu.
Penulis: Anjar Tri Wibowo
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.als-journal.com/volume-13-issue-2/3925/
