Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Pemuliaan Kacang Tanah Indonesia melalui Teknologi Rekayasa Kromosom

50 Views•2 minutes read

Kacang tanah (Arachis hypogaea) merupakan salah satu tanaman pangan penting karena kaya akan protein, minyak, dan asam lemak. Di Indonesia terdapat dua varietas kacang tanah unggulan yaitu varietas Lurik yang dikenal dengan kulit bijinya yang bergaris keunguan dan ukuran biji serta polong yang besar, dan Garuda yang dikenal memiliki potensi hasil yang tinggi. Salah satu pendekatan untuk meningkatkan kualitas kacang tanah adalah mutagenesis, yaitu menghasilkan perubahan genetik pada tanaman dengan bahan kimia tertentu. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan biocatharantine, bahan mutagen yang berasal dari daun Catharanthus roseus atau tapak dara, untuk melihat apakah perlakuan tersebut dapat mengubah karakter genetik dan metabolisme kacang tanah Lurik.

Dalam penelitian ini, biji kacang tanah Lurik direndam selama 24 jam dalam larutan biocatharantine dengan konsentrasi 1% dan 2%. Hasilnya perlakuan biocatharantine menghasilkan mixoploidi, yaitu kondisi ketika sel-sel dalam jaringan yang sama memiliki jumlah kromosom berbeda. Frekuensi mixoploidi meningkat seiring dosis, dari 17,5% pada perlakuan 1% menjadi 33,5% pada perlakuan 2%. Namun, efek ini juga disertai penurunan daya kecambah, dari 100% pada kontrol menjadi 89,3% dan 85,7%. Temuan ini menunjukkan bahwa mutagen dapat memicu perubahan kromosom. Perubahan kromosom tersebut tidak mengubah tingkat produksi tanaman tetapi merubah komposisi kimia dan nutrisi biji. Pada Lurik tanpa perlakuan, asam oleat merupakan komponen utama dan mencapai sekitar 59,79%. Setelah perlakuan biocatharantine, kadarnya menurun menjadi sekitar 53,65–54,40%, sedangkan asam linoleat meningkat dari 18,91% menjadi sekitar 21–22%. Perubahan ini relatif kecil, tetapi penting karena keseimbangan asam oleat dan linoleat berhubungan dengan karakteristik dan stabilitas minyak kacang tanah.

Pada Lurik, perlakuan biocatharantine juga menghasilkan perubahan komposisi metabolit, beberapa metabolit seperti quercetin dan ferulic acid meningkat, sementara triptofan dan asam oleat mengalami penurunan. Analisis jalur metabolisme menunjukkan perubahan terutama pada metabolisme pati dan sukrosa, asam amino, serta metabolisme asam lemak. Dengan demikian, biocatharantine tampaknya tidak mengubah seluruh sistem metabolisme kacang tanah, tetapi lebih seperti “menyetel ulang” sebagian jalur metabolisme yang sudah ada. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemuliaan tanaman tidak selalu terlihat dalam bentuk tanaman yang lebih tinggi atau hasil panen yang lebih banyak. Perubahan pada tingkat kromosom dan metabolit yang tidak terlihat oleh mata juga dapat memberikan informasi penting untuk pengembangan varietas dengan karakter nutrisi dan kualitas minyak yang berbeda. Namun, karena perubahan yang dihasilkan masih relatif kecil dan jumlah sampel terbatas, diperlukan penelitian lanjutan sebelum pendekatan ini dapat diterapkan secara luas dalam pemuliaan kacang tanah.

Penulis: Anjar Tri Wibowo

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://link.springer.com/article/10.1007/s00217-026-05256-9

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top