Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Optimasi Triase Infeksi Saluran Kemih Bakteriil Melalui Metode Urine Flow Cytometry: Analisis Validitas dan Keamanan Diagnostik

54 Views•3 minutes read

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu beban penyakit infeksi bakteriil tertinggi di fasilitas pelayanan kesehatan yang memicu peningkatan penggunaan antibiotik secara empiris. Standar baku emas untuk konfirmasi diagnosis ISK adalah kultur urine. Namun, modalitas tersebut memerlukan waktu inkubasi selama 24 hingga 48 jam, sehingga berpotensi menunda terapi target dan mempercepat laju resistansi antimikroba. Sebagai solusinya, teknologi otomasi urine flow cytometry, seperti instrumen Sysmex UF-5000, hadir sebagai instrumen skrining cepat yang mampu menghitung konsentrasi bakteri serta leukosit, sekaligus memberikan penanda otomatis (UTI flag) untuk memprediksi hasil kultur. Kendati demikian, penerapan parameter ini memerlukan evaluasi ketat terkait aspek keamanan klinis, terutama jika diimplementasikan pada populasi dengan risiko tinggi. 

Evaluasi diagnostik cross-sectional dilakukan terhadap 885 sampel urine rutin yang mencakup sampel kultur positif dan negatif. Evaluasi difokuskan pada performa UTI flag serta akurasi klasifikasi pewarnaan Gram melalui fitur BACT-info yang dibandingkan langsung dengan hasil kultur mikrobiologi. Analisis subgrup juga diterapkan pada pasien dengan kateterisasi, kondisi imunosupresi, serta stratifikasi usia dan jenis kelamin guna memetakan variabilitas performa alat. 

Akurasi dan Keterbatasan pada Populasi Risiko TinggiSecara umum, penanda UTI flag pada instrumen UF-5000 menunjukkan spesifisitas tinggi sebesar 92,1% dan Nilai Prediksi Positif (PPV) mencapai 89,4%. Data ini menegaskan bahwa instrumen tersebut memiliki kapasitas yang sangat baik sebagai alat rule-in (mengonfirmasi prediksi positif). Namun, sensitivitas keseluruhan hanya berada di angka 67,0%, dengan Nilai Prediksi Negatif (NPV) sebesar 73,9%. 

Penurunan performa yang signifikan terdeteksi pada subgrup risiko tinggi: 

  • Pasien dengan kateter: Nilai NPV merosot hingga 61,2%.
  • Pasien imunosupresi: Nilai NPV turun tajam menjadi 50,0%.
  • Faktor jenis kelamin: Sensitivitas pada pasien laki-laki (41,2%) jauh lebih rendah dibandingkan pasien perempuan (83,3%). 

Fenomena ini menunjukkan bahwa hasil penanda negatif pada instrumen flow cytometry tidak dapat serta-merta digunakan untuk menyingkirkan diagnosis ISK (rule-out) pada kelompok pasien rentan, karena risiko terlewatinya bakteriuria signifikan sangat tinggi. Di sisi lain, klasifikasi Gram berbasis indikator (indicator-derived Gram class) memperlihatkan tingkat kesesuaian yang sangat baik dengan hasil kultur (nilai Kappa = 0,826), berbeda dengan pemetaan label kategorikal yang menunjukkan kesesuaian rendah. Rekomendasi Algoritma Triase yang AmanUntuk meningkatkan sensitivitas skrining, parameter kuantitatif hitung bakteri (Bacterial count / BACT) menunjukkan performa diskriminasi yang superior dengan nilai Area Under the Curve (AUC) sebesar 0,812 dibandingkan hitung sel darah putih/leukosit (WBC) yang memiliki AUC 0,749. Melalui optimasi titik potong lokal, ditetapkan ambang batas BACT sebesar \[\ge \] 487/\[\mu \]L (sensitivitas 79,5%) dan WBC sebesar \[\ge \] 76,9/\[\mu \]L (sensitivitas 73,5%) sebagai indikator tambahan. 

Berdasarkan temuan klinis tersebut, sebuah algoritma triase berbasis keamanan dapat dirumuskan: 

  1. Sampel urine dengan hasil UTI flag positif diprioritaskan langsung untuk prosedur kultur urine. 
  2. Sampel dengan UTI flag negatif pada populasi umum (risiko rendah, tidak menggunakan kateter, imunokompeten) dapat ditunda kulturnya, kecuali jika nilai BACT atau WBC melewati ambang batas optimasi (\[\ge \] 487 BACT/\[\mu \]L atau \[\ge \] 76,9 WBC/\[\mu \]L). 
  3. Prosedur kultur urine wajib tetap dilakukan pada seluruh pasien dari kelompok risiko tinggi (pengguna kateter dan kondisi imunosupresi), tanpa memedulikan hasil penanda otomatis dari mesin flow cytometry.

Teknologi urine flow cytometry UF-5000 merupakan instrumen triase yang efektif untuk mendukung program tata kelola diagnostik (diagnostic stewardship) karena nilai spesifisitasnya yang tinggi. Meski demikian, alat ini tidak direkomendasikan sebagai instrumen tunggal untuk menyingkirkan diagnosis ISK pada populasi dengan kateter maupun kondisi imunosupresi akibat tingginya risiko hasil negatif palsu.

Penulis: Aryati

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://medicinskiglasnik.ba/article/667/galley/673/view/

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top