Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan, Prof Dr Rochmah Kurnijasanti drh MSi saat menyampaikan pidato pada Pengukuhan Guru Besar UNAIR (Foto: Humas UNAIR)

Guru Besar UNAIR Gagaskan Inovasi Farmakologi Imunonutrisi Wujudkan Ternak Sehat

65 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak atau tingginya produksi, tetapi juga seberapa sehat, tangguh, efisien, dan berkelanjutan ternak mampu berproduksi. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Rochmah Kurnijasanti drh MSi menegaskan bahwa farmakologi veteriner perlu berkembang dari pendekatan yang terutama berorientasi pada pengobatan setelah penyakit muncul menuju pendekatan yang lebih preventif, promotif, dan protektif. 

Prof Rochmah menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang ia gagaskan, yakni imunonutrisi. Inovasi pemanfaatan nutrien dan senyawa bioaktif untuk membantu memodulasi fungsi imun, inflamasi, keseimbangan oksidatif, metabolisme, dan integritas jaringan. 

Dalam paradigma ini, pakan tidak hanya sebagai sumber energi dan zat pembangun, tetapi juga sebagai medium penghantaran komponen bioaktif yang dapat mendukung kesehatan dan kemampuan adaptasi ternak. “Imunonutrisi tidak menggantikan terapi obat ketika pengobatan diperlukan, tetapi melengkapinya sebagai strategi preventif dan suportif,” jelasnya saat pidato pada Pengukuhan Guru Besar UNAIR di Aula Garuda Mukti, Gedung Kantor Manajemen, Kampus MERR – C UNAIR.

Prof Rochmah memaparkan bahwa dalam industri perunggasan di wilayah tropis, stres panas pada ayam broiler menjadi salah satu ancaman dan tantangan terbesar. Paparan suhu lingkungan yang tinggi terbukti meningkatkan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dalam tubuh ternak.

“Kondisi ini memicu efek domino yang merugikan seperti stres oksidatif, inflamasi kronis, hingga gangguan regulasi imunitas. Ujung dari semua ini adalah penurunan konsumsi pakan dan merosotnya efisiensi pertumbuhan ternak, yang secara langsung memukul produktivitas peternak,” paparnya pada Rabu (4/11/2026).

Menghadapi masalah ini, pendekatan pencegahan melalui nutrisi fungsional mulai mendapat sorotan. Ia menekankan bahwa penelitian terbaru mengevaluasi potensi tepung biji mahoni sebagai pakan fungsional bagi ayam broiler yang mengalami stres panas.

“Hasilnya sangat menjanjikan. Stres panas yang tadinya menurunkan performa pertumbuhan dan efisiensi pakan, berhasil diredam secara signifikan berkat suplementasi tepung biji mahoni, dengan respons paling optimal tercatat pada pemberian tingkat 2 persen,” imbuhnya.

Pada tingkat biologis dan molekuler, suplementasi memicu perbaikan keseimbangan redoks ternak yang ditandai dengan penurunan kadar Malondialdehyde (MDA) serta peningkatan enzim antioksidan seperti SOD dan GPx. Di saat bersamaan, penanda inflamasi seperti IL-6 dan TNF-α menurun drastis, sementara respons imun (IgG, IgM, dan IFN-γ) justru meningkat.

Prof Rochmah menyebut bahwa riset  ini tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga memperkuat urgensi pergeseran paradigma dalam ilmu farmakologi veteriner. “Pendekatan usang ‘ternak sakit – diagnosis – obat – sembuh’ harus segera bertransformasi menjadi pendekatan yang lebih preventif,” tegasnya.

Dalam kacamata One Health, kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ternak yang sehat akan memproduksi pangan secara lebih efisien dan berkelanjutan. Ketahanan pangan global dan nasional mustahil bisa dibangun di atas fondasi kesehatan ternak yang rapuh.

“Ke depannya, riset mengenai imunonutrisi ini harus terus diakselerasi. Kita membutuhkan identifikasi dan standarisasi senyawa bioaktif, penentuan dosis yang presisi, kajian farmakokinetika, uji keamanan jangka panjang, hingga validasi pada skala industri peternakan komersial yang lebih luas,” tekannya.

Prof Rochmah mengaku bahwa pada akhirnya, biaya untuk menjaga kesehatan ternak bukanlah sebuah beban pengeluaran, melainkan investasi strategis untuk memastikan produktivitas, kesejahteraan hewan, dan keamanan pangan bangsa. “Farmakologi veteriner masa depan bukan hanya ilmu tentang bagaimana mengobati ternak ketika sakit, tetapi juga tentang bagaimana menjaga sistem biologis ternak tetap sehat, adaptif, dan produktif.”

Penulis: Putri Andini

Editor: Khefti Al Mawalia

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top