Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Implementasi Urine Flow Cytometry: Akselerasi Penapisan Cepat Infeksi Saluran Kemih demi Menekan Resistansi Antimikroba

21 Views•3 minutes read

Infeksi Saluran Kemih (ISK) menempati posisi sebagai salah satu jenis infeksi yang paling sering ditemukan, baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap. Di Indonesia, prevalensi kondisi ini berkisar antara 5% hingga 15%. Konsekuensi dari tingginya angka kejadian ini adalah tingginya frekuensi peresepan antibiotik secara empiris. Jika tidak didasari oleh metode diagnostik yang akurat, penggunaan antimikroba yang masif dapat memicu eskalasi resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) yang menjadi ancaman global bagi keselamatan pasien.

Hingga saat ini, kultur urin tetap diakui sebagai standar baku emas dalam penegakan diagnosis ISK. Kendati demikian, metode mikrobiologi konvensional ini memiliki keterbatasan inheren terkait efisiensi waktu, karena membutuhkan periode inkubasi minimal 24 jam untuk mendeteksi pertumbuhan bakteri. Keterlambatan ini sering kali memaksa klinisi mengambil keputusan terapeutik tanpa panduan data mikrobiologis yang mendalam. Sebagai solusi atas tantangan klinis tersebut, integrasi teknologi otomatisasi berbasis Urine Flow Cytometry (UF) menawarkan terobosan penting untuk penapisan yang cepat, terukur, dan andal.

Validasi Diagnostik Berbasis Urine Flow Cytometry

Sebuah evaluasi multisentrik berskala nasional dilakukan pada 10 rumah sakit rujukan utama di Indonesia dengan menganalisis data dari 721 pasien yang terindikasi klinis menderita ISK. Evaluasi ini difokuskan pada performa diagnostik instrumen otomatis UF-5000/4000 yang dilengkapi dengan fitur penanda khusus, yaitu UTI-Info. dan BACT-Info.. Fitur UTI-Info. berfungsi mengidentifikasi probabilitas keberadaan infeksi, sedangkan BACT-Info. diarahkan untuk memprediksi karakteristik pewarnaan Gram dari bakteri penyebab infeksi.

Berdasarkan analisis performa, penetapan batas ambang klinis untuk sel darah putih (WBC) >82,05/µL atau konsentrasi bakteri >975,4/µL menghasilkan tingkat sensitivitas yang tinggi, yaitu mencapai 89%, dengan Nilai Prediktif Negatif (NPV) sebesar 82%. Karakteristik performa dengan sensitivitas tinggi ini sangat ideal untuk sebuah instrumen penapisan high-throughput, karena mampu secara aman mengeleminasi (rule-out) spesimen yang tidak terinfeksi. Pemanfaatan teknologi ini diproyeksikan mampu mereduksi beban kerja laboratorium dengan mengurangi kebutuhan kultur urin yang tidak mendesak hingga sebesar 59,1% pada sampel steril.

Prediksi Jenis Gram dan Tata Laksana Klinis Dini

Keunggulan lain dari sistem analisis flow cytometry ini terletak pada kemampuannya membedakan klasifikasi bakteri jauh lebih cepat daripada hasil biakan kultur konvensional. Analisis data menunjukkan tingkat keselarasan yang sangat kuat (nilai Kappa sebesar 0,716) dalam mendeteksi kelompok bakteri Gram-negatif apabila dikonfirmasikan dengan hasil kultur mikrobiologi. Sebaliknya, akurasi deteksi untuk bakteri Gram-positif masih berada pada kategori moderat dengan nilai Kappa 0,216. Hal ini mengindikasikan bahwa fitur penanda bakteri pada instrumen ini memiliki reliabilitas tinggi untuk memandu inisiasi terapi antibiotik empiris yang lebih rasional dan tertarget, khususnya untuk patogen Gram-negatif seperti Escherichia coli yang mendominasi kasus infeksi.

Pengembangan algoritma diagnostik yang memadukan parameter urinalisis konvensional—seperti uji nitrit dan derajat leukosituria—dengan penanda otomatisasi dari Urine Flow Cytometry dapat menjadi panduan strategis bagi para klinisi. Ketika hasil uji penapisan menunjukkan profil “triple-negatif” (nitrit negatif, leukosituria negatif, dan UTI-Info. negatif), kemungkinan terjadinya infeksi bakteri sangat kecil sehingga pemberian antibiotik maupun pengujian kultur lanjutan dapat ditangguhkan secara aman. Penerapan sistematis dari algoritma ini tidak hanya mempersingkat waktu tunggu pelaporan hasil laboratorium, tetapi juga menjadi instrumen krusial dalam program penatagunaan antimikroba (antimicrobial stewardship) di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.

Penulis: Aryati

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/26895293.2026.2682638

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top