Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (Attention Deficit Hyperactivity Disorder – ADHD) merupakan salah satu gangguan saraf kognitif dan perkembangan yang paling umum ditemukan pada anak-anak. Gangguan ini ditandai oleh gejala utama berupa kesulitan memusatkan perhatian, impulsivitas, serta hiperaktivitas yang persisten, yang dapat berdampak buruk pada proses belajar, hubungan sosial, dan kesehatan mental anak hingga beranjak dewasa. Meskipun terapi stimulan seperti metilfenidat selama ini menjadi standar utama pengobatan medis, banyak pasien anak menunjukkan respons yang kurang optimal atau mengalami efek samping yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dunia medis mulai melirik intervensi alternatif maupun tambahan yang lebih aman, terjangkau, serta memiliki dasar biologis yang rasional.
Nutrisi kini menjadi salah satu bidang penelitian penting dalam manajemen penanganan ADHD. Sejumlah studi menyoroti berbagai mikronutrien penting, dan di antara mikronutrien tersebut, vitamin D memegang peranan krusial karena fungsinya dalam mendukung perkembangan fungsi otak, neuroplastisitas, serta regulasi sistem kekebalan tubuh. Reseptor vitamin D diketahui tersebar di berbagai wilayah otak yang mengatur atensi, emosi, dan kontrol eksekutif. Selain itu, studi observasional secara konsisten menemukan bahwa anak-anak penderita ADHD sering kali memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah jika dibandingkan dengan anak-anak sehat seusia mereka. Defisiensi vitamin D pada masa kehamilan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko ADHD secara genetik.
Untuk menguji efektivitas klinisnya secara kuantitatif, sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis berbasis pedoman PRISMA telah dilakukan dengan menelusuri basis data ilmiah seperti PubMed, ScienceDirect, dan Cochrane Library hingga April 2025. Penelitian ini melibatkan enam uji klinis acak terkontrol (Randomized Controlled Trials – RCT) yang mencakup total 366 partisipan anak-anak berusia 6 hingga 13 tahun, yang sebagian besar berasal dari populasi di kawasan Timur Tengah seperti Iran dan Mesir. Intervensi pemberian suplemen vitamin D bervariasi, mulai dari dosis 1.000 IU/hari hingga 50.000 IU/minggu, dengan durasi intervensi berkisar antara 6 hingga 12 minggu.
Hasil analisis gabungan dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D secara signifikan mampu meningkatkan kadar serum vitamin D dalam darah secara substansial. Dari segi perbaikan gejala klinis, pemberian suplemen vitamin D terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap penurunan skor total gejala ADHD dan meredakan gejala hiperaktivitas secara moderat. Namun demikian, efek suplemen ini terhadap domain gejala inatensi (kurang perhatian) dan fungsi kognitif dilaporkan masih belum konsisten atau tidak menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik. Perbaikan gejala klinis yang paling optimal umumnya terlihat pada anak-anak yang sejak awal mengalami defisiensi vitamin D atau pada kelompok yang menerima rejimen dosis lebih tinggi.
Lebih lanjut, temuan dari berbagai uji klinis tersebut membuka wawasan baru mengenai pentingnya pendekatan nutrisi sebagai bagian dari tata laksana komprehensif pada pasien anak. Meskipun suplemen vitamin D tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran terapi medis utama secara keseluruhan, perannya sebagai agen pendukung terbukti memberikan nilai tambah yang berarti. Terlebih lagi, profil keamanan vitamin D yang relatif baik serta kemudahan akses dalam penggunaannya menjadikan intervensi ini sangat aplikatif dalam praktik klinis sehari-hari, selama tetap berada di bawah pengawasan tenaga medis yang kompeten untuk memantau kadar serum darah secara berkala.
Secara keseluruhan, suplementasi vitamin D dapat dianggap sebagai terapi pendukung yang aman dan berpotensi efektif dalam membantu meringankan gejala inti ADHD, khususnya manifestasi hiperaktivitas. Walaupun demikian, tingginya tingkat heterogenitas antarpenelitian serta keterbatasan demografi partisipan di kawasan tertentu menunjukkan perlunya studi lanjutan berskala besar dan multisentris. Penelitian masa depan yang melibatkan populasi lebih beragam dan waktu pengamatan lebih panjang sangat diperlukan untuk memvalidasi temuan ini serta merumuskan panduan dosis klinis yang optimal.
Penulis: Yunias Setiawati
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://doi.org/10.47407/kr2026.7.5.00853
