UNAIR NEWS – Musim kemarau berkepanjangan menjadi tantangan tersendiri bagi peternak, terutama dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak. Pasalnya, ketersediaan hijauan segar di alam cenderung menurun saat curah hujan berkurang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak sekaligus meningkatkan beban ekonomi peternak.
Hal tersebut disampaikan akademisi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Djoko Legowo drh MKes saat memberikan pembekalan kepada masyarakat Desa Tejo, Kabupaten Bojonegoro, dalam kegiatan pengabdian masyarakat pada Sabtu (17/10/2026).
“Ketersediaan hijauan pakan ternak saat musim kemarau di Indonesia mengalami penurunan drastis, dengan produksi hijauan segar merosot tajam 30–60 persen,” tuturnya.
Fermentasi Pakan Ternak
Kendati demikian, Dr Djoko menjelaskan bahwa keterbatasan hijauan dapat diantisipasi melalui pengelolaan dan pengawetan pakan, salah satunya dengan teknik fermentasi. Ia memaparkan sejumlah strategi yang dapat diterapkan peternak untuk menghadapi kekurangan pakan saat musim kemarau.
Strategi tersebut meliputi penyiapan cadangan pakan sejak musim hujan, pembuatan silase melalui fermentasi hijauan, pengolahan hay atau hijauan kering, pemanfaatan bahan pakan lokal seperti jerami padi dan tebon jagung, serta pemberian pakan tambahan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak.
Selain membantu menjaga ketersediaan pakan, fermentasi juga bertujuan meningkatkan pemanfaatan bahan pakan dan membantu penguraian sebagian komponen serat sehingga lebih mudah dicerna. Dengan pengolahan dan penyimpanan yang tepat, pakan fermentasi dapat menjadi salah satu alternatif cadangan pakan ketika pasokan hijauan segar terbatas.
“Tapai bisa dicerna lebih baik. Jadi, bahan-bahan yang kering itu nilai gizinya jadi lebih baik sesudah ditelan,” ucapnya.
Senada dengan Dr Djoko, akademisi FKH UNAIR, Dr Kadek Rachmawati drh MKes saat sesi diskusi menekankan pentingnya pengelolaan pakan dalam mendukung keberlanjutan usaha peternakan. Pemanfaatan pakan fermentasi dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan pakan ternak, terutama ketika ketersediaan hijauan segar menurun.

Sinergi Para Peternak
Lebih lanjut, Dr Kadek mendorong para peternak untuk membentuk kelompok ternak sebagai wadah bertukar informasi dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan peternakan. Melalui kelompok tersebut, peternak dapat saling berbagi pengalaman sekaligus berkoordinasi dengan pihak terkait ketika menghadapi permasalahan kesehatan maupun pengelolaan ternak.
“Saran dari kami, untuk memudahkan, silakan Bapak dan Ibu membentuk kelompok ternak. Kelompok tersebut bisa menjadi ajang diskusi ketika terjadi suatu kasus. Jadi, kalau terjadi sesuatu, bisa mengundang pihak dinas atau bahkan dari kami sehingga kami akan datang membantu,” ujarnya.
Melalui edukasi pengolahan pakan dan penguatan kerja sama antarpeternak, FKH UNAIR berharap masyarakat Desa Tejo dapat mengoptimalkan potensi sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Upaya tersebut harapannya dapat membantu peternak menghadapi tantangan musim kemarau sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternakan.
Penulis: Yulia Rohmawati
