Universitas Airlangga Official Website

Alumnus UNAIR Kembangkan Model Seluler Osteoporosis, Raih Penghargaan L’Oréal–UNESCO FWIS

Seorang perempuan berdiri membawa piagam dan bunga, ia adalah Dr Maria Apriliani Gani, alumnus PMDSU UNAIR
Dr Maria Apriliani Gani, alumnus PMDSU UNAIR (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Osteoporosis menjadi salah satu masalah kesehatan global yang dampak pada kualitas hidup, terutama di kalangan perempuan. Penyakit ini berakar pada ketidakseimbangan antara osteoblas, sel pembentuk tulang dan osteoklas, sel penghancur tulang. Terapi yang tersedia saat ini belum sepenuhnya mampu memulihkan kondisi tulang secara menyeluruh. Dari permasalahan itu, Dr Maria Apriliani Gani, alumnus Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) mengarungi perjalanan riset hingga membawanya meraih penghargaan bergengsi L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) 2025.

Doktor muda lulusan S3 UNAIR tersebut mengembangkan model seluler yang meniru kondisi osteoporosis. Model tersebut ia rancang untuk menghasilkan platform skrining obat yang lebih relevan secara biologis dibandingkan uji konvensional.

“Model ini pada dasarnya adalah model kultur dua sel (in vitro co-culture) yang mana terdapat osteoblas dan osteoklas di dalamnya. Kultur dua sel ini meniru kondisi osteoporosis yang ada pada tulang manusia. Nantinya, model ini diharapkan dapat menggantikan pengujian pada hewan coba untuk penelitian terkait osteoporosis,” jelas Dr Maria.

Dr Maria Apriliani Gani, alumnus PMDSU UNAIR (Foto: Dok. Narasumber)
Dr Maria Apriliani Gani, alumnus PMDSU UNAIR saat meraih penghargaan (Foto: Dok. Narasumber)

Tak hanya itu, ia juga mengintegrasikan pendekatan in vitro in-silico untuk mempercepat identifikasi metabolit bioaktif dari tanaman obat Indonesia. Berdasarkan prediksi awal Dr Maria, beberapa tanaman lokal itu berpotensi memiliki aktivitas anti osteoporosis. 

“Dalam penelitian ini, saya bekerja sama dengan profesor dari Fakultas Farmasi UI untuk karakterisasi metabolit bioaktif dan penguatan aspek herbal medicine. Melalui model seluler yang saya kembangkan, kandidat tanaman obat dapat diuji efeknya secara mekanistik meningkatkan pembentukan tulang sekaligus menekan aktivitas osteoklas,” ungkapnya. 

Dari penelitian Dr Maria itu, memberikan dampak yang signifikan untuk perempuan, khususnya pada kelompok yang paling rentan mengalami osteoporosis pasca-menopause. Di antaranya berpotensi memberikan alternatif terapi yang lebih aman yang berbasis tanaman obat lokal. Selain itu, juga untuk membantu pengembangan diagnosis dan skrining obat dengan lebih cepat dan efektif serta memperbaiki kualitas hidup perempuan lansia.

Ia mengakui bahwa dirinya masih sangat muda dan belum memiliki pengalaman kerja yang lama. Namun, ia menyadari bahwa penelitian berkualitas juga harus mampu bekerja sama dengan tim dan saling melengkapi. “Karenanya saya tentu saja harus aktif berkolaborasi dengan peneliti lain, serta aktif mencari peneliti yang mau melakukan penelitian dengan saya baik sebagai mahasiswa tugas akhir ataupun research assistant,” imbuhnya. 

Ia menegaskan bahwa UNAIR telah memberikan fondasi kuat untuk berpikir kritis, disiplin, dan terus belajar. Ia juga berpesan bagi mahasiswa dan peneliti muda UNAIR. “Manfaatkan sepenuhnya kesempatan yang kalian miliki. Jangan takut bermimpi besar, jangan ragu mencoba hal baru, dan jangan berhenti belajar,” tuturnya. 

Penulis: Adinda Octavia Setiowati

Editor: Yulia Rohmawati