Seseorang dengan autisme ditandai oleh keterbatasan fungsional, perilaku repetitif, minat yang terbatas, serta kesulitan dalam komunikasi dan interaksi social. Kondisi ini juga dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD). Diperkirakan jumlah individu yang didiagnosis dengan ASD di Indonesia meningkat sebanyak 500 orang setiap tahunnya. Antara tahun 2020 dan 2021, tercatat sebanyak 5.530 kasus gangguan perkembangan anak, termasuk ASD, yang ditangani di pusat-pusat kesehatan.
ASD sering menunjukkan gerakan unik dalam aktivitas sehari-hari seperti makan. Beberapa individu mungkin sangat terikat pada rutinitas tertentu, dengan pola gerakan yang konsisten. ASD juga dapat menunjukkan kebiasaan dan perilaku makan yang tidak biasa. Oleh karena itu, pengelolaan aktivitas makan, persiapan makan, dan waktu makan menjadi komponen penting dalam program anak dengan ASD. Dengan demikian, penting untuk mengenali gerakan-gerakan yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari ASD, terutama yang berkaitan dengan makan.
Untuk memantau perkembangan anak dengan ASD, pendidik atau terapis sering meminta orang tua untuk mengirimkan video aktivitas makan dan minum anak di rumah. Namun, video-video ini sering kali memiliki masalah, seperti kualitas pencahayaan yang buruk dan gerakan yang tidak jelas, sehingga menyulitkan pendidik untuk mengenali aktivitas tersebut. Video-video ini dapat dikelola menggunakan Human Activity Recognition (HAR), yang mengidentifikasi dan menganalisis aktivitas manusia melalui input seperti video atau sensor.
Pemrosesan citra merupakan langkah penting dalam mempersiapkan dataset untuk pengenalan aktivitas. Langkah pertama dalam pemrosesan citra, yang bertujuan meningkatkan akurasi hasil dalam segmentasi dan ekstraksi gambar, adalah meningkatkan kualitas gambar yang mungkin terganggu oleh noise. Meskipun mengandung banyak informasi, gambar sering kali mengalami penurunan kualitas atau cacat. Untuk membantu interpretasi gambar yang terganggu oleh noise atau gangguan lainnya, gambar tersebut dapat ditingkatkan kualitasnya menggunakan berbagai teknik atau metodologi pemrosesan citra.
Dengan menerapkan pendekatan Contrast Stretching, Contrast Limited Adaptive Histogram Equalization (CLAHE), dan Histogram Equalization (HE), penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kontras pada gambar video. Video tersebut dipecah menjadi beberapa frame, yang kemudian diproses menggunakan metode pemrosesan citra. Diharapkan proses ini menghasilkan video dengan kualitas gambar yang lebih baik dibandingkan video asli. Video yang digunakan merekam aktivitas makan anak-anak dengan ASD. Aktivitas makan mencakup rangkaian kegiatan, seperti mencuci tangan, mengambil piring, mengambil nasi, mengambil lauk, berdoa, makan, dan menyelesaikan makan. Melalui peningkatan kualitas ini, efektivitas setiap metode dalam meningkatkan kualitas video dapat dievaluasi.
Penelitian ini dilakukan melalui empat tahap atau proses. Tahap pertama adalah pengumpulan data, yaitu mengumpulkan dan memberi label pada data. Tahap kedua melibatkan konversi gambar asli dalam format Red, Green, Blue (RGB) menjadi versi grayscale. Selanjutnya, tahap ketiga adalah meningkatkan kualitas video menggunakan tiga metode peningkatan kontras (HE, Contrast Stretching, dan CLAHE). Tahap keempat adalah evaluasi. Evaluasi menggunakan Mean Square Error (MSE) dan Peak Signal to Noise Ratio (PSNR).
Kumpulan utama rekaman video digunakan sebagai sumber data dalam penelitian ini. Video tersebut merekam aktivitas makan yang dilakukan oleh terapis dan orang tua. Penelitian ini menggunakan 606 video. Data tersebut terdiri dari 8 aktivitas, yaitu mencuci tangan, mengambil piring, menyiapkan makanan, mengambil bekal, membuka bekal, berdoa, makan, dan menyelesaikan makan.
Berdasarkan hasil pengujian, CLAHE menunjukkan nilai MSE dan PSNR terbaik, masing-masing sebesar 10,02 dan 38,51 dB. Oleh karena itu, CLAHE menunjukkan kinerja yang unggul dengan menghasilkan nilai MSE dan PSNR terbaik. Perbaikan di masa depan mencakup penerapan CLAHE dan segmentasi citra untuk lebih meningkatkan kualitas gambar. Video yangdikumpulkan oleh terapis dapat dianalisis dan digunakan untuk diagnosis dini, apakah anak tersebut mengalami autisme atau tidak.
Penulis: Indah Werdiningsih
Baca juga: Dosen Psikologi Ciptakan Alat Bantu Komunikasi Autisme Berbasis Aplikasi





