Resistensi antimikroba (AMR) telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global terbesar. Kondisi ini terjadi ketika mikroorganisme, terutama bakteri, mengalami perubahan yang menyebabkan antibiotik menjadi tidak efektif. Dampak AMR sangat signifikan karena berhubungan dengan peningkatan morbiditas, mortalitas, serta beban biaya pelayanan kesehatan.
Intensive Care Unit (ICU) merupakan area dengan risiko tinggi terjadinya resistensi antibiotik. Kompleksitas kondisi pasien, penggunaan alat invasif, gangguan sistem imun, serta tingginya intensitas terapi antibiotik menyebabkan penggunaan antibiotik di ICU dilaporkan hingga sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan bangsal perawatan biasa. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional di ICU berkontribusi besar terhadap munculnya bakteri multidrug-resistant organisms (MDROs).
Sebagai upaya pengendalian, WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mendorong implementasi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) melalui pendekatan Antimicrobial Stewardship (AMS). Salah satu strategi utama AMS adalah evaluasi kuantitatif penggunaan antibiotik dengan metode Defined Daily Dose (DDD) serta evaluasi kualitatif melalui identifikasi Drug Related Problems (DRPs). Namun, kajian yang mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut masih terbatas, khususnya di setting ICU Indonesia. Oleh karena itu, artikel ini menyajikan analisis penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif pada pasien ICU sebagai bahan edukasi dan penguatan praktik penggunaan antibiotik yang rasional.
Penelitian yang menjadi dasar artikel ini menggunakan desain observasional retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien yang dirawat di ICU Rumah Sakit Universitas Airlangga selama periode Juli hingga Desember 2022. Sampel ditentukan dengan metode consecutive sampling terhadap seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, diagnosis klinis, lama rawat inap, hasil pemeriksaan kultur, serta detail terapi antibiotik. Analisis kuantitatif penggunaan antibiotik dilakukan menggunakan metode ATC/DDD dan dinyatakan sebagai DDD per 100 hari pasien sesuai rekomendasi WHO. Analisis kualitatif dilakukan dengan mengidentifikasi DRPs menggunakan klasifikasi Cipolle dan PCNE versi 9.1. Analisis data bersifat deskriptif dan disajikan dalam bentuk frekuensi, persentase, serta nilai DDD.
Sebanyak 125 pasien ICU memenuhi kriteria penelitian, dengan proporsi pasien laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan. Mayoritas pasien berada pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia, dengan diagnosis terbanyak adalah pneumonia, diikuti oleh sepsis dan infeksi saluran kemih. Lama rawat inap rata-rata mencapai 16 hari, mencerminkan kompleksitas kondisi pasien ICU.
Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa total konsumsi antibiotik sebesar 91,54 DDD/100 hari pasien. Ceftriaxone merupakan antibiotik dengan konsumsi tertinggi, diikuti oleh levofloxacin dan moxifloxacin. Dominasi ceftriaxone sejalan dengan praktik terapi empiris pada kasus pneumonia dan sepsis, namun juga menimbulkan kekhawatiran terkait potensi peningkatan resistensi apabila tidak disertai evaluasi yang ketat.
Dari sisi kualitatif, identifikasi DRPs menunjukkan bahwa masalah yang paling sering terjadi adalah terapi antibiotik tanpa indikasi yang jelas serta efektivitas terapi yang tidak optimal. Selain itu, ditemukan pula masalah terkait dosis yang terlalu rendah atau terlalu tinggi serta interval pemberian yang tidak tepat. Temuan ini mengindikasikan masih adanya kesenjangan antara praktik klinis dan pedoman penggunaan antibiotik.
Hasil ini menegaskan bahwa meskipun antibiotik merupakan komponen vital dalam penatalaksanaan pasien ICU, penggunaannya harus selalu dievaluasi secara berkala. Keterlibatan apoteker klinis bersama dokter dan mikrobiolog menjadi kunci dalam memastikan pemilihan antibiotik yang tepat, dosis yang optimal, serta durasi terapi yang rasional.
Kesimpulannya, penggunaan antibiotik pada pasien ICU Rumah Sakit Universitas Airlangga didominasi oleh ceftriaxone dengan tingkat konsumsi tertinggi berdasarkan metode DDD. Identifikasi DRPs menunjukkan masih tingginya masalah terkait penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan dan efektivitas terapi yang suboptimal. Kondisi ini menegaskan perlunya penguatan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba melalui penerapan antimicrobial stewardship yang konsisten, audit penggunaan antibiotik secara berkala, serta kolaborasi multidisiplin. Penyajian hasil penelitian dalam bentuk artikel ilmiah populer diharapkan dapat meningkatkan pemahaman praktisi kesehatan dan mendorong penggunaan antibiotik yang lebih rasional di lingkungan ICU.
Penulis : Prof. Dr. apt. Yulistiani, M.Si
Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2667276625001295?via%3Dihub





