Emisi gas CO2 yang berlebihan memiliki dampak buruk terhadap kehidupan manusia, kelestarian lingkungan, dan pembangunan. Polusi lingkungan menyumbang sekitar 59% dari total emisi gas rumah kaca, yang menyebabkan suhu global meningkat di atas tingkat pra-industri antara tahun 1990 dan 2018. Penelitian ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, mengkaji dampak langsung dari pengendalian korupsi, pertumbuhan ekonomi, energi ramah lingkungan, perdagangan ramah lingkungan, inovasi, dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terhadap kualitas lingkungan di negara-negara berkembang. Kedua, mengkaji hubungan tidak langsung di mana pengendalian korupsi dapat berinteraksi dengan faktr-faktor seperti produksi energi terbarukan, inovasi ramah lingkungan, perdagangan barang ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam, dan ketersediaan ICT infrastructure/ Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), di negara-negara berkembang.
Beragam kebijakan dilakukan untuk menciptakan lingkungan berkelanjutan di negara-negara berkembang. Pemerintah bergantung pada kebijakan yang beragam untuk mengurangi emisi CO2, yang sering kali mencakup peralihan ke sumber energi ramah lingkungan, mempromosikan teknologi ramah lingkungan, mengurangi jejak ekologis melalui penggunaan sumber daya alam yang lebih baik, meningkatkan kualitas kelembagaan, dan meningkatkan efisiensi teknologi informasi. Meski berbagai kebijakan telah diterapkan, ada factor yang jarang diperhitungkan seiring dengan penerapan kebijakan tersebut, yakni korupsi. Korupsi yang merajalela dapat menghilangkan dampak kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup atau memperburuk kondisi lingkungan hidup.
Penelitian-penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil yang beragam, hasil yang positif maupun negatif. Maka, dalam hal ini menguji hipotesis polusi dengan keterkaitan pengendalian korupsi berinteraksi dengan pertumbuhan ekonomi, konsumsi energi, dan faktor-faktor teknologi. Untuk mengetahui apakah tingkat korupsi yang tinggi di negara-negara kaya yang kaya akan sumber daya alam dapat berdampak negatif terhadap CO2 atau sebaliknya, perbaikan dalam pengendalian korupsi membantu negara-negara memanfaatkan sumber daya dengan cara yang lebih berkelanjutan.
Hipotesis Kuznets memperkirakan bahwa ketika perekonomian berkembang, degradasi lingkungan akan memburuk pada tingkat pendapatan pembangunan yang rendah dan meningkat pada tingkat pendapatan pembangunan yang lebih tinggi, sehingga membentuk apa yang disebut kurva U terbalik. Penelitian oleh Welsch (2004) menyatakan bahwa korupsi berdampak negatif terhadap polusi.
Lebih lanjut penelitian oleh Leitao (2010), bahwa korupsi terbukti memiliki dampak jangka panjang terhadap polusi, karena korupsi berperan negatif dalam kepedulian pemerintah terhadap lingkungan, sehingga menunda penerapan dan penegakan peraturan. Masron dan Subramaniam (2018) menemukan bukti korupsi menunjukkan hubungan yang positif dan monoton dengan polusi. Habib dkk (2020) menemukan bukti adanya hubungan antara korupsi dan degradasi lingkungan. Lisciandra dan Migliardo (2017) menemukan bukti kuat bahwa korupsi yang lebih tinggi berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan. Beberapa peneliti lainnya, menemukan Bukti adanya lembaga-lembaga politik, ekonomi, dan tata kelola yang baik dalam meningkatkan kualitas lingkungan (mengurangi emisi CO2) mendukung peran positif yang dapat dimainkan oleh kualitas kelembagaan dalam lingkungan ketika negara-negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Hubungan antara variabel terikat dan bebas dinilai dengan menggunakan Estimator Driscoll-Kraay dan regresi kuantil bootstrap, menunjukkan bahwa pengendalian korupsi berpengaruh positif terhadap emisi CO2. Pengendalian korupsi memerlukan biaya yang besar, termasuk pembentukan lembaga, pembelian peralatan dan perangkat modern, dan biaya personel. Akibatnya, negara-negara dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk berhasil dalam memberantas korupsi.
Korupsi mempunyai dampak yang sangat besar mengenai lingkungan hidup, seperti “kehutanan, perlindungan spesies yang terancam punah, pasokan air, ekstraksi minyak, perikanan, dan pengelolaan limbah berbahaya,” yang semuanya sangat rentan terhadap korupsi. Konsumsi energi meningkat karena berkurangnya pengetatan kebijakan energi ketika terdapat tingkat korupsi yang signifikan. Hal ini menyebabkan peningkatan emisi CO2. Hasilnya mengkonfirmasi keberadaan EKC. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita yang rendah memberikan pengaruh positif terhadap emisi lingkungan, namun pada tahap selanjutnya, pendapatan per kapita memberikan dampak negatif terhadap pencemaran lingkungan. Konsumsi energi tak terbarukan mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan. pertumbuhan penduduk dan menipisnya sumber daya alam menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Karena pesatnya pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang, permintaan akan kebutuhan hidup dasar pun meningkat.
Dalam studi diperoleh bahwa energi hijau dan inovasi telah meningkatkan kualitas lingkungan. Namun konsumsi energi tak terbarukan, sumber daya alam, dan pertumbuhan penduduk telah menurunkan kualitas lingkungan di negara-negara berkembang tersebut. Selanjutnya, terdapat efek interaksi antara pengendalian korupsi dan inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang ramah lingkungan telah terkonfirmasi di negara-negara ini.
Pemerintah harus membangun sistem yang mendorong perilaku yang baik dan menghukum perilaku korupsi di sektor publik pada tingkat yang mendasar. Negara-negara berkembang harus mendorong keterlibatan swasta dalam produksi energi ramah lingkungan, daya saing antar pemasok, dan memenuhi kebutuhan energi negara secara keseluruhan. Untuk memperluas basis produksi energi hijau, kebijakan insentif pajak atau subsidi harus diterapkan selama proses instalasi dan produksi. Jika tidak, beban pajak yang besar harus dibebankan pada penggunaan energi konvensional atau tradisional, sehingga mengalihkan negara dari penggunaan energi tradisional ke sumber energi bersih atau terbarukan.
Penulis: Miguel Angel Esquivias
Jurnal: Unpacking the dynamics of information and communication technology, control of corruption and sustainability in green development in developing economies: New evidence. https://doi.org/10.1016/j.renene.2023.119088





