Monkeypox (Mpox) adalah infeksi virus zoonosis yang disebabkan oleh virus Mpox, anggota genus Orthopoxvirus, yang berada dalam kelompok yang sama dengan virus variola penyebab cacar (smallpox). Pada tahun 1970, kasus pertama pada manusia teridentifikasi di Republik Demokratik Kongo. Sejak saat itu, Mpox menjadi endemik di banyak wilayah Afrika Tengah dan Barat, dengan hanya terjadi wabah sporadis yang terkait dengan penularan dari hewan ke manusia. Namun, pada bulan Mei 2022, penyakit ini mulai muncul kembali secara global dan menyebar ke luar wilayah endemik Afrika hingga mencapai Eropa dan Amerika Utara. Penyebaran ini terutama didorong oleh perjalanan internasional serta kontak erat antarmanusia. Mengingat penyebaran geografisnya yang belum pernah terjadi sebelumnya, WHO menetapkan Mpox sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) pada tanggal 14 Agustus 2024, setelah memverifikasi lebih dari 100.000 kasus dan 220 kematian di 120 negara di seluruh dunia.
Penularan Mpox terjadi melalui berbagai jalur, baik yang bersifat zoonosis maupun penularan antarmanusia. Kontak langsung dengan orang atau hewan yang terinfeksi, ataupun dengan material yang terkontaminasi, memfasilitasi penyebaran virus ini. Penularan pada manusia terutama terjadi melalui droplet pernapasan, paparan terhadap lesi kulit atau mukosa, serta kontak dengan cairan tubuh, sementara penularan vertikal dari ibu ke janin atau bayi baru lahir juga telah dilaporkan.
Pemodelan matematika merupakan sarana yang ampuh untuk memandu intervensi yang tepat serta memperdalam pemahaman mengenai dinamika dan pengendalian penyakit menular. Pada penelitian ini, kami mengusulkan model matematika untuk penularan Mpox yang mencakup subpopulasi manusia asimtomatik serta subpopulasi manusia yang telah divaksinasi. Berbeda dengan model penularan Mpox lain yang ada, yang umumnya berfokus pada infeksi simptomatik, model yang kami usulkan memperhitungkan potensi tersembunyi penularan Mpox melalui infeksi asimtomatik serta kekebalan yang terbentuk akibat vaksinasi.
Kebaruan penelitian ini tidak hanya terletak pada struktur penularan terintegrasi antara manusia dan hewan pengerat, tetapi juga pada kerangka kerja analitis yang diterapkan pada model tersebut. Pertama, prinsip pemetaan kontraksi digunakan untuk menetapkan kondisi well-posedness, yang menjamin adanya ketunggalan, dan stabilitas solusi. Selanjutnya, sifat keterbatasan dan kenonnegatifan solusi dibahas secara rinci. Analisis model menunjukkan ada tiga titik kesetimbangan yakni kesetimbangan bebas penyakit, kesetimbangan endemik pada manusia, dan kesetimbangan endemik umum. Stabilitas lokal dari titik-titik kesetimbangan ini dianalisis menggunakan matriks Jacobian, sedangkan stabilitas global ditetapkan menggunakan fungsi Lyapunov. Hal ini merupakan kontribusi teoretis tambahan dari penelitian ini. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa vaksinasi dan dinamika kontak merupakan faktor paling berpengaruh terhadap penularan pada manusia, sedangkan penularan pada hewan pengerat terutama ditentukan oleh laju kontak dan faktor-faktor yang berkaitan dengan mortalitas. Simulasi numerik disajikan untuk mengilustrasikan dan memvalidasi hasil-hasil analisis tersebut.
Penulis: Fatmawati
Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://journals.itb.ac.id/index.php/cbms/article/view/26535
