Sumber daya manusia adalah salah satu aspek yang paling penting dari sebuah perusahaan atau organisasi dalam industri apapun. Perawat merupakan salah satu sumber daya manusia yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan rumah sakit yang mana merupakan tempat kerja yang berisiko tinggi dapat menyebabkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Mereka berperan sebagai komunikator, edukator, bahkan manajer bagi pasien. Jenis tindakan yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja dan sering dilakukan perawat di IGD seperti pemasangan infus (infus), menjahit luka, mengangkat dan memindahkan pasien, dan tindakan lainnya (Ramdan dan Rahman, 2018). Dalam tindakan tersebut, risikonya adalah terpapar darah pasien, tertusuk jarum, nyeri pinggang karena postur tubuh yang janggal, infeksi, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa perawat merupakan pekerjaan yang berisiko tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan nyaris meninggal, keterampilan keselamatan dan kesehatan kerja, dan perlengkapan kerja dengan kejadian nyaris meninggal pada perawat. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan keselamatan dan keamanan selama pandemi COVID-19. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 53 perawat dari 56 perawat di semua unit kecuali perawat ruang isolasi. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari 2021. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang near miss, keterampilan keselamatan dan kesehatan kerja perawat di RSUD Ploso di unit rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Variabel dependen yang digunakan adalah kejadian near-miss. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, sebagian besar perawat memiliki pengetahuan nyaris meninggal tinggi, diikuti dengan pengetahuan nyaris meninggal rendah dan pengetahuan nyaris meninggal sedang. Pengetahuan Near Miss tercermin dari ketelitian perawat dalam membedakan dan mengklasifikasikan jenis Near Miss dan kecelakaan kerja. Selain itu, para perawat sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang upaya pencegahan nyaris meninggal. Namun demikian, mereka tetap menilai bahwa Near Miss merupakan kejadian yang wajar karena tidak menimbulkan luka sehingga tidak perlu dilaporkan. Sistem pelaporan near miss dan kecelakaan kerja di kalangan perawat belum dilaksanakan secara optimal. Hal ini menyebabkan kurangnya data kejadian nyaris meninggal dan kecelakaan kerja di kalangan perawat. Kedua, sebagian besar responden memiliki keterampilan kesehatan dan keselamatan kerja yang tinggi, sementara yang lain memiliki keterampilan kesehatan dan keselamatan kerja sedang. Keterampilan perawat dalam menggunakan peralatan kerja dengan prosedur yang aman sesuai dengan Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan di RSUD Ploso. Namun, beberapa perawat belum memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi beberapa bahaya yang ada di tempat kerja. Selain itu, sebagian perawat RSUD Ploso belum memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan risiko yang ada kepada rekannya sebagai bentuk motivasi atau reminder.
Ketiga, sebagian besar responden memiliki peralatan kerja yang sangat baik, dan sebagian lainnya memiliki peralatan kerja yang baik. Perlengkapan kerja di RSUD Ploso telah disediakan dengan mempertimbangkan kebutuhan perawat. Pasalnya, sebelum pengadaan barang, ada tahapan need assessment yang melibatkan perawat. Selain itu, pengadaan alat kerja telah memperhatikan aspek ergonomis. Ketersediaan dan kualitas peralatan kerja dinilai sesuai oleh perawat. Keempat, mayoritas responden mengalami kejadian nyaris celaka sedang, diikuti dengan kejadian nyaris celaka rendah dan kejadian nyaris celaka tinggi. Kejadian nyaris celaka yang sering dialami perawat adalah hampir terbentur atau terbentur benda-benda di tempat kerja seperti meja, tempat tidur, kursi roda, dan troli, hampir tergores atau terluka oleh benda-benda medis, dan beberapa perawat kontak langsung dengan bahan kimia berbahaya (tanpa penggunaan Alat Pelindung Diri) baik dengan cara terhirup, terciprat, atau tumpah ke bagian tubuh. Namun, hanya sedikit perawat yang kontak langsung dengan cairan tubuh pasien tanpa Alat Pelindung Diri. Perawat juga mengeluhkan kelelahan atau bekerja terlalu keras dimana mereka merasa lelah namun tetap harus bekerja. Berdasarkan hasil tarbulasi silang yang dilakukan, diketahui bahwa hubungan antara pengetahuan nyaris meninggal dengan kejadian nyaris meninggal berkorelasi lemah dengan arah positif. Hubungan keterampilan keselamatan dan kesehatan kerja dengan kejadian nyaris meninggal memiliki korelasi yang cukup kuat dengan arah negatif. Hubungan peralatan kerja dengan kejadian near miss memiliki korelasi yang lemah dengan arah negatif.
Penulis: Dr. Abdul Rohim Tualeka, drs., M.Kes.
Jurnal: https://e-journal.unair.ac.id/IJOSH/article/view/32858





