Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Analisis Model Penyebaran Virus Influenza pada Populasi Burung dengan Reaksi-Difusi

86 Views•3 minutes read

Virus influenza A merupakan sumber virus influenza unggas yang dapat menginfeksi burung peliharaan maupun burung liar serta menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan mulai dari ringan hingga berat. Lebih dari 100 spesies burung liar diketahui terinfeksi virus influenza A unggas, yang menyerang sistem pernapasan dan pencernaan burung. Beberapa inang alami influenza A unggas yang membawa virus ini meliputi burung dara-laut, burung camar, burung pantai, serta burung liar seperti angsa dan bebek muda. Virus influenza dapat menyebar ketika burung saling bersentuhan melalui kotoran, bulu, alas kandang, lendir, air liur, atau cairan tubuh lainnya. Penularan virus tidak hanya terjadi melalui kontak langsung dengan burung yang sakit, tetapi juga melalui lingkungan. Selain itu, beberapa virus yang terdapat pada daging burung terinfeksi dapat menyebar ke burung yang rentan melalui konsumsi bangkai burung tersebut. Virus influenza A unggas dapat menyebar melalui air atau sedimen danau yang terkontaminasi kotoran burung air, meskipun kemampuannya untuk bertahan hidup di lingkungan perairan masih belum diketahui secara pasti.

Kajian ini menyusun model epidemiologi yang memasukkan faktor infeksi dari lingkungan yang terkontaminasi serta penularan akibat kontak antar spesies burung. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model baru untuk transmisi virus influenza pada populasi unggas, yang akan memperkaya khazanah penelitian yang ada dengan memperkenalkan sejumlah inovasi mendasar. Model yang dikembangkan dalam studi ini merupakan perluasan dari model yang disajikan oleh Khan, dkk (2018) dengan memasukkan unsur transmisi melalui lingkungan. Tujuan utama model ini adalah untuk mengkaji bagaimana virus menyebar di antara populasi unggas dalam kaitannya dengan variabel lingkungan dan penyebaran spasial unggas.

Studi ini berfokus pada populasi unggas—tidak termasuk populasi manusia dan hewan darat yang umumnya juga rentan terhadap infeksi influenza. Hasil kajian analitik menunjukkan bahwa jika bilangan reproduksi dasar kurang dari satu, maka titik kesetimbangan bebas penyakit akan menunjukkan stabilitas asimtotik lokal, yang berarti populasi unggas akan bebas dari penyakit. Berikutnya, penyakit akan berkembang dalam populasi unggas ketika titik kesetimbangan endemik bersifat stabil secara asimtotik lokal saat bilangan reproduksi dasar lebih besar dari satu. Selanjutnya, model penyebaran virus influenza dirumuskan sebagai model reaksi-difusi dengan syarat batas Neumann homogen, yang merepresentasikan domain terisolasi. Model ini dianalisis secara numerik menggunakan Metode Volume Hingga dengan memanfaatkan nilai parameter epidemi dari penelitian terdahulu untuk menghasilkan simulasi yang realistis.

Temuan studi ini menunjukkan bahwa peningkatan konstanta difusi dapat memperluas cakupan geografis penularan, sedangkan peningkatan angka reproduksi dasar akan mempercepat timbulnya infeksi. Selain itu, virus yang dihasilkan oleh unggas yang terinfeksi akan bertahan lebih lama dibandingkan inangnya. Hasil studi ini mengindikasikan bahwa strategi intervensi untuk penularan flu burung tidaklah memadai jika hanya menangani infeksi akibat kontak antar ungags. Strategi tersebut juga harus mencakup langkah-langkah untuk membatasi pergerakan spasial melalui teknologi atau penghalang geografis alami. Dalam hal ini, sanitasi lingkungan menjadi faktor krusial untuk memutus rantai penularan dan mencegah penyebaran infeksi yang luas di masa mendatang.

Penulis:  M. N. H. Qomarudin, Fatmawati, Windarto, Z. Chazuka

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada link berikut:

https://iapress.org/index.php/soic/article/view/3419

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top