Universitas Airlangga Official Website

Analisis Surveilans Kontak Tracing Covid-19 pada Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Rujukan

Foto by damkar

Covid-19 yang mewabah di seluruh dunia sangat mengancam petugas kesehatan karena tingginya tingkat penularan infeksi, terutama setiap kali petugas kesehatan melakukan kontak dengan pasien terinfeksi di pelayanan kesehatan. Beberapa faktor seperti unit kerja, durasi paparan dan penggunaan alat pelindung diri (APD) telah terbukti berkorelasi dengan resiko penularan Covid-19. Beberapa penelitian telah melaporkan keefektifan vaksin dalam mengurangi infeksi, namun mutasi SARS-CoV-2 dan berbagai antibodi membuat petugas kesehatan tetap beresiko terinfeksi meski telah di vaksinasi lengkap. Oleh karena itu, kontak tracing yang komprehensif merupakan strategi utama untuk melindungi tenaga kesehatan.  Kontak tracing adalah mekanisme penting untuk memutus rantai penularan penyakit dengan cara mengidentifikasi, mengkarantina dan memantau kontak individu yang terinfeksi.

Penelitian tentang analisis surveilans kontak tracing ini dilakukan di rumah sakit pendidikan, Rumah Sakit Universitas Airlangga yang merupakan rumah sakit rujukan Covid-19. Kontak tracing dilakukan oleh tim pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). Petugas kesehatan yang kontak dengan kasus terkonfirmasi Covid-19 mengisi kuesioner secara online. Tata laksana yang dilakukan disesuaikan dengan flowchart kontak tracing. Data dikumpulkan secara retrospektif pada tahun  2021 dan berhubungan dengan berbagai karakteristik. Pada gelombang pertama didapatkan 24,2 % petugas mengisi formulir surveilans kontak tracing dan pada gelombang kedua didapatkan 75,8% petugas yang mengisi formulir tersebut. Hasil penelitian menyebutkan petugas terkonfirmasi Covid-19 yang melakukan kontak erat sebesar 72,86%, sumber kontak tersering yaitu 85,71% adalah petugas kesehatan, 90% durasi kontak yang terjadi adalah >15 menit. Sebagian besar  petugas bergejala (62,86%) seperti nyeri tenggorokan (32,86%), rinorea (21,43%), batuk (17,14%), demam (10%) dan cephalgia (7,14%). Analisis multivariat regresi menunjukkan penggunaan masker N95%, durasi kontak > 15 menit dan vaksinasi merupakan faktor yang paling mempengaruhi.

Perkembangan kasus dapat dikendalikan dari kontak tracing yang efektif, sehingga perlu proses tracing dan screening yang praktis. Penggunaan aplikasi atau media digital berpotensi bagus dalam melaksanakan langkah tracing dan screening dengan efisien tanpa memerlukan kontak langsung dengan individu yang terkonfirmasi. Penelitian pendahuluan tentang analisis surveilans kontak tracing Covid-19 pada petugas kesehatan di salah satu rumah sakit pendidikan ini diperlukan untuk mengembangkan aplikasi berbasis mobile sebagai inovasi untuk pelacakan kontak tracing tersebut.

Penulis: Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85152918157&origin=resultslist&sort=plf-f&src=s&st1=analysis+of+contact+tracing+surveillance+for+covid-19+among+healthcare+workers+in+secondary+referral+hospital&sid=a6ba2e6d09c0e204a5016761a18729ee&sot=b&sdt=b&sl=124&s=TITLE-ABS-KEY%28analysis+of+contact+tracing+surveillance+for+covid-19+among+healthcare+workers+in+secondary+referral+hospital%29&relpos=0&citeCnt=0&searchTerm=