UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam tim The Bajigirls Who Can’t Be Moved berhasil mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Mereka sukses meraih Juara 1 dalam ajang kompetisi Strategic Management Communication Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, pada Jumat (18/9/2026).
Dalam kompetisi tersebut, seluruh peserta mendapatkan tantangan untuk menyelesaikan studi kasus krisis reputasi yang relevan dengan perkembangan teknologi masa kini. Tim UNAIR berperan sebagai praktisi public relations (PR) dari perusahaan fiktif bernama Nge-Meal, sebuah pengembang aplikasi pemantau kalori harian yang sedang menghadapi ancaman boikot akibat fenomena AI hallucination atau kesalahan sistem kecerdasan buatan.
Terapkan Tiga Fase Manajemen Reputasi Krisis
Menjawab tantangan tersebut, tiga mahasiswa FISIP yang terdiri dari Elvena Christiyanti Aprilla Boaz, Claudya Liana Morizza, Najlaa Thufailah Shafut melakukan roleplay sebagai tim PR dari perusahaan Nge-Meal. Mereka merancang strategi komunikasi yang menitikberatkan pada kesadaran dan komitmen berbenah. Strategi tersebut dibingkat dalam tiga fase utama manajemen reputasi krisis, yaitu response, recover, dan reinforcement.
“Kami berusaha meyakinkan publik bahwa memang benar terjadi kesalahan pada sistem AI kami, tetapi kami membuktikan komitmen untuk berbenah melalui komunikasi yang aktif, transparan, merespons keluhan dengan cepat, serta merangkul berbagai stakeholder,” ungkap Elvena.
Ubah Data Analitis menjadi Program Relevan
Dalam merancang strategi PR, Tim UNAIR tidak hanya berfokus pada pesan-pesan kreatif, tetapi juga mengintegrasikan data analitis bisnis secara kuat. Data tersebut menjadi landasan utama untuk menyusun program-program komunikasi yang berdampak nyata dan sesuai dengan kebutuhan publik.
“Para dewan juri menyampaikan bahwa tim kami memiliki penguasaan materi yang unggul dan mampu berinteraksi dengan audiens. Selain itu, struktur program yang kami hadirkan dinilai sistematis yang dilengkapi dengan Key Performance Indicators (KPI),” imbuhnya.
Melalui kompetisi tersebut, para anggota tim mengaku mendapatkan pelajaran berharga yang sangat berguna bagi karier profesional mereka di masa depan. Khususnya dalam menangani krisis secara nyata dan mendalam sebagai praktisi PR. Mereka juga berpesan untuk berani mencoba dan fokus pada hal yang dalam kendali diri. “Kalau di luar kendali, serahkan saja pada Tuhan,” tegasnya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Yulia Rohmawati





