UNAIR NEWS – Perkembangan urban farming Kota Surabaya yang berjalan selama satu dekade melibatkan berbagai aktor. Mulai dari pemerintah, kelompok urban farming, perguruan tinggi, sektor swasta, komunitas, hingga pasar. Kendati demikian, keterlibatan para aktor justru dinilai belum mampu menyeragamkan perkembangan setiap kelompok.
Berangkat dari persoalan tersebut, Elis Mardianti, mahasiswa Magister (S2) Kebijakan Publik, Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih juara dua B-Creative Klaster Sosial Humaniora lewat riset bertajuk Polycentric Governance: Dinamika Interaksi Antar Aktor dalam Program Urban Farming di Kota Surabaya. Prestasi tersebut diraih dalam ajang Indonesia Research and Innovation Fair 2026 (IRIFAIR 2026) yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Jumat (24/9/2026).
“Keberlanjutan urban farming tidak hanya bergantung pada banyaknya aktor dan dukungan, tetapi juga pada kemampuan mereka berinteraksi, berbagi peran, dan membangun jejaring,” ungkapnya.
Tempatkan Masyarakat sebagai Aktor
Hasil penelitian Elis menunjukkan bahwa setiap kelompok urban farming memiliki kondisi dan kapasitas yang berbeda, sehingga membutuhkan dukungan yang berbeda pula. Menurutnya, pemerintah perlu memetakan kebutuhan setiap kelompok sebelum menyalurkan bantuan.
“Pemerintah perlu menyesuaikan dukungan dengan kondisi tiap kelompok baik melalui penguatan internal bagi kelompok yang masih rentan maupun pemberian ruang berjejaring dan berinovasi bagi kelompok yang sudah lebih kuat,” tuturnya.
Pendekatan tersebut dapat terwujud apabila pemerintah menempatkan masyarakat sebagai aktor bukan sekadar penerima program. Sehingga kelak, pertanyaan kebijakan tidak berhenti pada jenis bantuan yang ada, melainkan juga mengenai seberapa mampu kelompok sasaran memanfaatkan peluang yang tersedia.
“Karena kebijakan yang memberikan dukungan secara seragam belum tentu menciptakan kesempatan yang setara ketika kapasitas awal masyarakat sudah berbeda,” imbuhnya.
Bawa Temuan ke Ruang Kebijakan
Lebih jauh, Elis berencana mengembangkan penelitiannya di kancah internasional dengan memperkuat kontribusi teoritisnya pada diskursus polycentric governance dan kebijakan publik. Ia juga berniat menerjemahkan temuannya lewat penyusunan policy brief yang ringkas dan aplikatif dan dapat disampaikan kepada dinas atau perangkat daerah terkait di Kota Surabaya.
Elis menyebut keberlanjutan riset bukan hanya soal seberapa sering artikel dipublikasikan. Lebih dari itu, keberlanjutan riset tercermin dari bagaimana pengetahuan yang lahir dapat bergerak dari ruang akademik menuju kebijakan dan kembali memberi manfaat bagi masyarakat.
“Pengalaman kompetisi ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa penelitian seharusnya tidak berhenti di ruang akademik. Penelitian harus terus dikomunikasikan, didiskusikan, dan diupayakan agar memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya
Penulis: Amelia Farah Putri I.
Editor: Khefti Al Mawalia
