Universitas Airlangga Official Website

Aplikasi Digital untuk Terapi Pasien Diabetes

Korelasi antara Pengetahuan dan Karakteristik Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dalam Pengendalian Glukosa Darah
Sumber: Mandaya Hospital

Diabetes melitus merupakan penyakit kronis dengan jumlah penderita yang terus meningkat di seluruh dunia. Saat ini, lebih dari 537 juta orang hidup dengan diabetes, dan sekitar 90% di antaranya menderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Penyakit ini membutuhkan manajemen terapi yang tidak hanya mengandalkan obat, tetapi juga keterlibatan aktif pasien dalam mengelola gaya hidup. Pasien perlu menjaga kepatuhan minum obat, rutin memantau kadar gula darah, berolahraga secara teratur, serta menerapkan pola makan sehat. Sayangnya, sepertiga penderita DMT2 masih gagal mencapai target terapi akibat rendahnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan.

Seiring perkembangan teknologi, intervensi berbasis aplikasi digital mulai digunakan untuk membantu pasien meningkatkan kepatuhan minum obat dan memantau kondisi kesehatan. Aplikasi ini menawarkan berbagai fitur seperti pengingat obat, pencatatan kadar gula darah, hingga konsultasi daring. Namun, penggunaannya di lapangan belum sepenuhnya optimal. Banyak aplikasi yang tidak terintegrasi dengan manajemen terapi DMT2, memiliki antarmuka yang rumit, kurang fungsional, serta menghadapi kendala seperti rendahnya literasi digital pasien dan isu keamanan data.

Penelitian kolaboratif antara Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Malaysia, dan Filipina berupaya mengeksplorasi strategi efektif untuk meningkatkan adopsi aplikasi digital pada pasien DMT2. Melalui wawancara terhadap 30 pasien dan tenaga kesehatan, penelitian ini menggali berbagai pandangan dan pengalaman pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan aplikasi bergantung pada lima dimensi utama: teknologi, ekonomi, sosial, perilaku, dan lingkungan.

Dimensi teknologi menekankan pentingnya desain aplikasi yang mudah digunakan dan ramah pengguna. Dimensi ekonomi menyoroti perlunya dukungan finansial agar pasien dapat mengakses aplikasi dengan mudah. Sementara itu, dimensi sosial mencakup peran dukungan keluarga dan kolaborasi antara pasien serta tenaga medis. Dimensi perilaku berfokus pada peningkatan motivasi pasien dalam menggunakan aplikasi secara konsisten. Terakhir, dimensi lingkungan meliputi promosi aplikasi, edukasi pasien, dukungan kebijakan, serta keterlibatan tenaga kesehatan dalam memberikan bimbingan.

Integrasi aplikasi digital ke dalam manajemen terapi DMT2 dapat membawa perubahan besar dalam dunia kesehatan. Dengan strategi yang tepat, teknologi ini berpotensi meningkatkan kepatuhan pasien, memperbaiki hasil pengobatan, dan mendukung sistem perawatan yang lebih efisien. Penelitian ini menegaskan bahwa inovasi digital bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian penting dari transformasi layanan kesehatan menuju masa depan yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

Penulis: Andi Hermansyah, S.Farm., Apt., M.Sc., Ph.D.

Artikel lengkap dapat dibaca di: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12182558/